Malam di Perguruan Tapak Lembayung tidak pernah benar-benar sunyi, tetapi malam ini keheningan yang menyelimuti terasa begitu mencekam, seolah alam sendiri menahan napas menyaksikan tragedi yang sedang bersemi. Di dalam Aula Utama, aroma dupa cendana yang biasanya menenangkan kini berpadu dengan bau anyir darah yang samar namun pekat.
Di atas lantai batu pualam yang dingin, sesosok tubuh renta terbaring kaku. Guru Besar perguruan, sosok yang selama puluhan tahun menjadi simbol kebijaksanaan dan kekuatan, kini telah tiada. Wajahnya membiru, menyisakan ekspresi keterkejutan yang mendalam—sebuah tanda pasti dari racun tingkat tinggi yang merenggut nyawanya dalam hitungan detik tanpa memberinya kesempatan untuk mengalirkan tenaga dalam.
Di sisi jenazah, dua orang berdiri dengan napas memburu dan tatapan mata yang saling menghujam tajam, penuh kebencian yang membakar.
Setya, murid tertua yang memiliki kedudukan paling dihormati setelah sang guru, melangkah maju. Jubah putih kebesarannya tampak ternoda debu malam, namun posturnya tetap tegap, memancarkan wibawa seorang pewaris sah. Namun, sorot matanya menyiratkan amarah yang nyaris meledak. Ia menunjuk ke arah pemuda di seberangnya dengan jari yang bergetar hebat.
"Kau!" suara Setya bergemuruh di dalam aula yang luas itu, memantul di dinding-dinding batu yang dihiasi ukiran naga. "Kau, Arya! Iblis berkedok manusia! Bagaimana bisa tanganmu begitu tega meracuni orang tua yang telah membesarkan, mendidik, dan merawat kita selama bertahun-tahun?!"
Arya, murid termuda dari jajaran murid inti yang berdiri di sisi seberang, terperanjat. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi kebingungan yang bercampur dengan kemarahan yang tidak kalah besar. Ia menggelengkan kepala perlahan, menolak mempercayai tuduhan keji yang dilontarkan oleh kakak seperguruan yang selama ini ia hormati.
"Jaga mulutmu, Setya!" Arya membalas, suaranya tajam menembus keheningan malam. "Jangan membalikkan fakta demi ambisi busukmu! Aku baru saja tiba di aula ini ketika melihat guru sudah terkapar. Aku tidak tahu apa-apa tentang racun ini!"
"Bohong!" Setya membentak, suaranya menggelegar. "Cangkir teh di samping guru masih hangat, dan hanya kau yang memiliki akses ke ramuan penawar di paviliun barat hari ini! Kau ingin merebut Kitab Teratai Biru dan tahta ketua perguruan, bukan? Selama ini aku tahu kau iri padaku!"
"Justru kau yang paling bernafsu mewarisi pusaka itu!" Arya melangkah maju, tangannya secara refleks mencengkeram hulu pedang di pinggangnya. "Seluruh warga perguruan tahu bahwa posisiku sebagai penjaga paviliun membuatku tahu persis rahasia busukmu! Kau bersekongkol dengan kaum sesat dari Sekte Darah Hitam! Kau menjual kehormatan perguruan kita demi kekuatan mereka!"
Udara di dalam aula mendadak menjadi dingin. Tekanan tenaga dalam dari kedua belah pihak mulai berbenturan, menciptakan riak angin yang meniup-niup nyala lampu pelita di sudut ruangan. Tuduhan demi tuduhan berbalas dengan cepat, menciptakan jurang pemisah yang tidak lagi bisa dijembatani oleh kenangan masa lalu.
"Cukup!" Setya meraung. "Kau tidak akan bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup, pembunuh!"
❖ ❖ ❖
Benturan pertama terjadi tanpa aba-aba. Setya mengibaskan lengan jubahnya, melesat bagaikan bayangan putih dengan cengkeraman jari tangan yang dilapisi energi es biru—teknik Cakar Salju Abadi yang merupakan salah satu warisan tertinggi perguruan. Udara di sekitar jari-jarinya langsung membeku, menghasilkan suara desisan tajam saat merobek udara.
Arya tidak tinggal diam. Dengan kelincahan luar biasa, ia melompat mundur, menghindari sambaran maut yang meninggalkan jejak embun beku di lantai pualam. Sebelum kaki Setya menyentuh tanah, Arya mencabut pedangnya setengah jengkal. Kilau baja dingin memantulkan cahaya pelita, disusul oleh tebasan angin pedang berkecepatan tinggi yang dikenal sebagai Sayap Anggur Berkabut.
Clang!
Percikan bunga api meledak di tengah aula yang remang-remang saat cakar baja Setya beradu dengan bilah pedang Arya. Getaran dahsyat dari benturan itu merambati tangan keduanya, memaksa mereka sama-sama mundur tiga langkah untuk menstabilkan aliran darah di dada masing-masing.
"Ilmu pedangmu semakin matang, Arya," cibir Setya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis yang mengerikan. "Sayang sekali, kepintaranmu tidak diimbangi dengan kesetiaan. Hari ini, aku sebagai murid tertua akan membersihkan nama perguruan dari pengkhianat sepertimu."
"Jangan munafik, Setya!" Arya mendengkus, napasnya mulai sedikit memburu akibat tekanan tenaga dalam lawan yang berada satu tingkat di atasnya. "Kau pikir para sesepuh akan percaya pada fitnahmu? Begitu fajar menyusul, kebusukanmu akan terbongkar!"
"Fajar tidak akan pernah menyusul untukmu," bisik Setya dingin.
Setya kembali menerjang, kali ini gerakannya jauh lebih cepat dan mematikan. Ia tidak lagi menahan diri. Setiap serangan diarahkan pada titik-titik kematian di tubuh Arya. Di luar aula, suara angin malam bergemuruh hebat, seolah merestui pertumpahan darah antara dua saudara se1 perguruan yang kini telah berubah menjadi musuh bebuyutan.
Arya harus memutar otak dengan cepat. Ia tahu persis bahwa dalam hal akumulasi tenaga dalam, Setya sedikit lebih unggul karena usianya yang lebih tua lima tahun. Jika pertarungan ini terus berlanjut sebagai adu kekuatan murni, ia pasti akan kalah dalam waktu kurang dari seratus jurus. Satu-satunya jalan adalah memanfaatkan kelincahan teknik langkah bayangan untuk mencari celah kelemahan pada pertahanan Setya.
Namun, sebelum Arya sempat melancarkan serangan balik, suara gaduh mulai terdengar dari luar halaman aula. Obor-obor bernyala terang mulai mendekat, memecah kegelapan malam.
"Ada keributan apa di dalam?!" suara seorang tetua perguruan terdengar lantang dari luar pintu gerbang utama, disusul oleh suara puluhan langkah kaki murid-murid lain yang terbangun dari tidur mereka.
Wajah Setya berubah sekilas. Sebuah rencana licik terlintas di benaknya dalam pecahan detik.
❖ ❖ ❖
Pintu kayu besar berukir naga itu didobrak dari luar. Tetua Ming, sesepuh tertua yang paling dihormati di perguruan, memimpin rombongan murid-murid yang membawa obor. Cahaya kuning yang terang benderang seketika menerangi ruangan yang dipenuhi bau darah dan sisa-sisa energi pertarungan.
Begitu melangkah masuk dan melihat jenazah sang Guru Besar terbujur kaku di lantai, Tetua Ming tertegun, matanya membelalak lebar. Pandangannya kemudian bergeser kepada Setya yang berdiri dengan jubah sedikit berantakan, dan Arya yang masih menghunus pedang dengan napas tersengal-sengal di dekat jenazah.