Langit malam di Lembah Gantara menggantung rendah, pekat tanpa bintang, seolah menutupi rahasia besar yang siap meledak kapan saja. Angin malam berembus dingin, membawa serta aroma ketegangan yang pekat dari dua kubu yang saling bertikai. Di bawah naungan gelap gulita itu, Kamil, Rafar, dan Yafid bergerak bagai bayangan. Mereka melangkah tanpa suara di atas rerumputan basah, menyusuri jalan setapak tersembunyi yang mengarah langsung ke jantung pertikaian: kediaman utama para pemimpin suku yang hampir terjebak dalam perang saudara buatan.
Perang ini bukanlah kehendak alam ataupun takdir leluhur. Ini adalah api yang sengaja disulut oleh tangan-tangan tersembunyi demi keuntungan segelintir pihak. Kamil, dengan ketajaman pikirannya, memimpin pergerakan ini. Di sisinya, Rafar melangkah siaga, mata tajamnya mengawasi setiap jengkal kegelapan untuk mengantisipasi ronda musuh. Sementara itu, Yafid membawa gulungan perkamen kecil dan peralatan tulis, siap mencatat setiap detail bukti yang mereka temukan malam ini.
❖ ❖ ❖
"Kita tidak punya banyak waktu," bisik Kamil pelan, nyaris tak terdengar di tengah desau angin malam. Mereka bertiga kini bersembunyi di balik barisan batu besar yang mengelilingi perbatasan tanah kediaman Suku Bayu. Di sisi timur lembah, obor-obor menyala terang di tenda utama Suku Brama, menunjukkan kesiapan pasukan yang tinggal menunggu aba-aba untuk menyerang.
"Mereka benar-benar sudah dibutakan oleh amarah," ujar Rafar dengan nada geram, tangannya mencengkeram erat gagang belati di pinggangnya. "Surat provokasi palsu itu bekerja sangat efektif. Kepala Suku Brama yakin betul bahwa Suku Bayu yang lebih dulu melanggar batas wilayah."
"Dan di seberang sana, Kepala Suku Bayu juga meyakini hal yang sama," balas Yafid, suaranya sarat keprihatinan. "Mereka sama-sama percaya bahwa pihak sebelah telah menyiapkan eksekusi mati untuk utusan perdamaian mereka minggu lalu. Padahal, utusan itu tidak pernah sampai karena disergap di tengah hutan."
Kamil mengangguk, sorot matanya menyiratkan tekad yang bulat. "Itulah sebabnya kita berada di sini malam ini. Jika kita gagal menemukan bukti fisik yang membuktikan keterlibatan pihak ketiga—si pengadu domba itu—maka fajar besok akan menyinari lautan darah di lembah ini. Ribuan nyawa tak bersosa akan melayang sia-sia."
"Lantas, apa rencana kita selanjutnya, Kamil?" tanya Rafar, melirik sekilas ke arah gerbang kayu kediaman Suku Bayu yang dijaga ketat oleh empat orang prajurit berbadan tegap.
"Kita bagi tugas," jawab Kamil tegas. "Rafar, kau alihkan perhatian para penjaga di gerbang timur dengan menciptakan suara tiruan dari arah hutan seberang. Buat mereka mengira ada penyusup dari faksi lawan yang datang menyerang. Yafid dan aku akan memanfaatkan kekacauan itu untuk menyusup lewat saluran air bawah tanah di belakang gedung utama."
"Cara lama yang selalu berhasil," gumam Rafar sambil tersenyum tipis, meski ketegangan jelas terpancar di wajahnya. "Berhati-hatilah di dalam. Penjagaan di sana pasti jauh lebih ketat dari biasanya."
"Kau juga, Rafar. Jangan sampai tertangkap," pesan Yafid sebelum pemuda itu memeriksa kembali kantong perlengkapannya.
Tanpa menunggu lama, Rafar melesat cepat ke dalam kegelapan malam, menuju sisi timur kompleks kediaman. Beberapa menit kemudian, sebuah suara gemerisik keras disusul suara benturan logam terdengar nyaring dari arah hutan.
Prang!
"Ada penyusup di timur! Cepat, ke sana!" teriak komandan penjaga di gerbang utama Suku Bayu panik. Sontak, tiga dari empat prajurit berlari kencang menuju sumber suara, meninggalkan satu orang yang mondar-mandir kebingungan di posnya.
"Sekarang!" bisik Kamil.
Kamil dan Yafid bergerak secepat kilat. Dalam hitungan detik, mereka telah mencapai dinding belakang bangunan utama dan meluncur masuk melalui jeruji besi saluran air yang sudah dilonggarkan sebelumnya. Aroma lembap dan lumpur langsung menyambut indra penciuman mereka begitu menginjakkan kaki di bagian dalam kompleks kediaman tersebut.
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam lorong bawah tanah begitu sunyi, hanya ditemani tetesan air yang jatuh secara konstan dari langit-langit batu. Langkah kaki Kamil dan Yafid terasa sangat berat, bergaung pelan di sepanjang koridor sempit itu. Mereka meraba dinding batu yang dingin untuk memandu arah di tengah kegelapan total, hanya mengandalkan sedikit cahaya bulan yang menyelinap dari celah-celah ventilasi atas.
"Kamil, kita sudah terlalu jauh ke dalam," bisik Yafid sambil menyeka keringat di dahinya. "Jika ada patroli malam yang memeriksa bagian bawah ini, kita akan terjebak tanpa jalan keluar."
"Tenanglah, Yafid. Tangga di ujung koridor ini akan membawa kita langsung ke ruang arsip pribadi Kepala Suku Bayu," jawab Kamil tenang, meski jantungnya sendiri berdegup kencang. "Di sanalah semua dokumen penting, surat keputusan, serta arsip korespondensi rahasia disimpan."
Mereka tiba di ujung lorong. Sebuah tangga batu curam menjulang ke atas, tertutup oleh sebuah pintu kayu tua berukir indah. Dengan sangat hati-hati, Kamil mendorong pintu tersebut. Tidak ada suara berderit yang tercipta karena engselnya baru saja diberi pelumas—menandakan bahwa ruangan itu memang sering diakses secara rahasia oleh seseorang.
Begitu kepala mereka muncul di permukaan, sebuah ruangan luas berdebu dengan bau khas perkamen tua menyambut mereka. Rak-rak buku tinggi berjejer rapi di sepanjang dinding, dipenuhi gulungan naskah dari berbagai penjuru negeri. Di tengah ruangan, sebuah meja kerja besar berdiri kokoh lengkap dengan lampu minyak yang masih menyala redup.
"Cari dokumen surat korespondensi yang masuk dalam dua minggu terakhir," instruksi Kamil sambil mulai menyaring gulungan-gulungan di rak sebelah kiri.
Yafid mengangguk cepat dan langsung menuju meja kerja. Jemarinya dengan teliti membuka satu per satu laci meja tersebut. Sebagian besar berisi catatan anggaran logistik dan laporan hasil panen, tidak ada yang mencurigakan. Namun, ketika ia meraba bagian bawah laci terdalam, jarinya merasakan sesuatu yang ganjil—sebuah papan kayu lapis tipis yang disembunyikan sebagai dasar palsu.
"Kamil, kemarilah! Aku menemukannya!" panggil Yafid setengah berbisik dengan nada penuh kemenangan.
Kamil segera menghampiri. Dengan menggunakan ujung belatinya, Yafid mencongkel papan tipis tersebut perlahan-lahan. Di dalamnya, tersimpan beberapa lembar surat dengan cap lilin merah yang asing—bukan cap resmi Suku Bayu maupun Suku Brama.
Kamil mengambil salah satu surat itu dan membacanya di bawah cahaya lampu minyak. Alisnya langsung berkerut dalam, raut wajahnya mengeras seketika.
"Ini... ini bukan surat dari Suku Brama," kata Kamil dengan suara tertahan. "Ini surat dari seseorang yang mengaku sebagai penasihat agung, yang sengaja memprovokasi Kepala Suku Bayu untuk menyerang terlebih dahulu dengan alasan pertahanan diri."
"Siapa pengirim aslinya?" desak Yafid, mendekatkan wajahnya untuk ikut membaca.
"Cap lilin ini... lambangnya bergambar ular melingkar di atas pedang patah," ucap Kamil lirih. "Itu lambang dari kelompok bayangan yang ingin menguasai sumber air panas di lembah ini. Mereka sengaja mengadu domba kedua suku agar keduanya saling menghancurkan, lalu kelompok merekalah yang akan datang sebagai 'penyelamat' dan merampas seluruh tanah ini."
Sebelum Yafid sempat merespons penjelasan itu, suara langkah kaki berat tiba-tiba terdengar mendekat di luar pintu ruangan arsip. Suara itu diiringi oleh suara obrolan tegas dua orang pria yang semakin lama semakin jelas terdengar.