SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Langkah Angin Azalia dan Risha

Malam merangkak naik, membawa serta kabut tipis yang merayap di antara bubungan genting Perguruan Bayangan Langit. Di bawah naungan rembulan yang tertutup awan mendung, dunia seolah terbagi menjadi dua: bayangan gelap gulita yang menyimpan rahasia dan cahaya obor temaram yang dijaga ketat oleh para murid malam.

Di atas sebuah atap batu hitam berukir naga, dua sosok bagaikan penari gaib mendarat tanpa suara. Hembusan angin malam berdesir lembut, mengibarkan jubah kain sutra tipis milik Azalia. Gadis itu berdiri tegak, kedua tangannya bersidekap di dada, sementara tatapannya yang tajam menembus kegelapan halaman utama perguruan di bawah sana.

"Langkahmu semakin ringan, Risha," bisik Azalia pelan, suaranya hampir tak terdengar di antara desau angin. "Ilmu Ginkang Terbang milikmu sudah mencapai tingkat kelima. Bayanganmu benar-benar menyatu dengan kepekatan malam."

Risha, yang berdiri beberapa langkah di belakangnya, tersenyum tipis. Gadis berambut dikepang satu itu merapikan ikatan pedangnya sebelum melangkah mendekati bibir atap. Di bawah mereka, barisan lentera kertas bergetar diterpa angin lembap.

"Bukan karena aku hebat, Kak Azalia," jawab Risha dengan nada merendah, meski matanya memancarkan ketajaman seorang pendekar muda yang siap siaga. "Udara malam ini mendukung kita. Namun, fokus kita bukanlah memamerkan ilmu meringankan tubuh. Guru Besar telah memperingatkan bahwa ada duri dalam daging yang menyusup ke perguruan kita."

Azalia mengangguk pelan. Ingatannya melayang pada pertemuan rahasia tiga jam lalu di aula utama. Pimpinan perguruan, Ki Demang, memanggil mereka berdua secara khusus. Ada desas-desus kuat bahwa lambang rahasia perguruan—sebuah lempengan giok berbentuk cakra langit—menjadi incaran faksi luar. Yang membuat situasi ini berbahaya adalah para penyusup tersebut tidak datang dengan kekerasan terbuka, melainkan menyusup bagaikan racun yang meresap ke dalam air minum: perlahan, senyap, namun mematikan.

"Mereka menggunakan jubah pengawal asing dari Perguruan Lembah Seribu Kabut," kata Azalia, memecah keheningan. "Secara diplomatik, mereka adalah tamu undangan yang datang untuk menghadiri Turnamen Persahabatan bulan depan. Namun, gerak-gerik mereka selama dua hari terakhir sama sekali bukan gestur seorang tamu."

"Tamu tak diundang yang berniat merampok rumah kita," sahut Risha dingin. Jarinya mengetuk hulu pedang yang terselip di pinggangnya. "Aku melihat sendiri bagaimana salah satu dari mereka mencoba merangsek masuk ke paviliun timur sore tadi. Untunglah aku berhasil membelokkan perhatian penjaga gerbang."

"Itu baru permukaan, Risha," Azalia memperingatkan. "Orang-orang yang kita hadapi malam ini adalah para pendekar tingkat atas dari tanah seberang. Mereka memiliki ilmu Tapak Hantu yang bisa melumpuhkan saraf hanya dalam sekali sentuhan. Jika kita ceroboh sedikit saja, seluruh rahasia jurus inti perguruan kita akan jatuh ke tangan musuh."

Risha menarik napas dalam-dalam, meresapi setiap kata yang diucapkan seniornya. Hubungan mereka bukan sekadar rekan seperguruan; Azalia telah membimbing Risha sejak gadis itu pertama kali menginjakkan kaki di gerbang perguruan dalam keadaan yatim piatu. Ikatan batin itu membuat koordinasi gerakan mereka di atas atap bagaikan bayangan kembar yang saling melengkapi.

"Apa rencana kita selanjutnya, Kak?" tanya Risha, melirik sekilas ke arah pelataran barat daya tempat paviliun tamu asing berada. "Apakah kita langsung menangkap pemimpin mereka?"

"Jangan terburu-buru," Azalia menggelengkan kepala. "Kita ikuti mereka dulu. Cari tahu siapa dalang di balik penyusupan ini dan di mana mereka menyembunyikan barang-barang curian. Ingat, keselamatan murid-murid lain adalah prioritas utama."

❖ ❖ ❖

Tanpa aba-aba suara, Azalia melompat lebih dulu. Tubuhnya meluncur bagai sehelai daun kering yang diterpa badai, memanfaatkan aliran angin malam untuk memperkecil gesekan udara. Risha menyusul tepat di belakangnya, menjaga jarak dua tombak demi memastikan ruang gerak mereka tidak saling menghalangi.

Mereka bergerak dari satu atap paviliun ke atap aula penyimpanan kitab suci. Di bawah sana, situasi tampak tenang secara tidak wajar. Biasanya, pada jam-jam pergantian jaga malam seperti ini, suara langkah kaki para ronda terdengar berisik di sepanjang koridor batu. Namun malam ini, suasana terasa begitu sunyi—bahkan suara jangkrik pun seolah enggan berderik.

Ssst.

Sebuah desingan halus memecah keheningan. Azalia seketika menghentikan lajunya, mengangkat tangan kirinya untuk memberi isyarat agar Risha berhenti. Keduanya berjongkok di balik punggung atap genting yang melengkung curam.

Dari arah koridor bawah, tiga sosok beransel hitam melintas cepat. Gerakan mereka kaku namun sangat bertenaga—ciri khas pendekar dari mazhab utara. Mereka mengenakan pakaian malam serba gelap, tetapi di balik kain penutup wajah yang sedikit tersingkap, Azalia sempat mengenali bentuk rahang salah seorang dari mereka.

"Itu... Ki Seta, penasihat dari Lembah Seribu Kabut," bisik Azalia sangat pelan, nyaris berupa desahan napas di telinga Risha.

"Dia? Bukankah dia dikabarkan sedang sakit di paviliun utara?" balas Risha dengan kernyitan di dahi.

"Itu hanya dalih mereka untuk mengelabui mata-mata kita," jawab Azalia mata menyipit tajam. "Perhatikan cara berjalan mereka. Mereka sedang menuju ke arah paviliun pusaka rahasia."

Ketiga sosok di bawah tiba-tiba berhenti di depan pintu gerbang kecil yang dijaga oleh dua orang murid junior Perguruan Bayangan Langit. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Ki Seta mengangkat tangan kanannya. Jari-jarinya membentuk cakar elang yang memancarkan kilau keperakan—penerapan ilmu Cakar Petir Kutub Utara.

Brak!

Dua orang murid penjaga gerbang bahkan tidak sempat mencabut pedang mereka. Dalam satu kedipan mata, titik-titik darah segar muncrat ke udara ketika leher mereka disentuh oleh angin pukulan beracun tersebut. Tubuh kedua murid itu terkulai lemas ke lantai batu tanpa suara jeritan.

Risha menahan napas, tangannya gemetar bukan karena takut, melainkan karena amarah yang membakar dadanya. "Keparat... mereka membunuh murid-murid kita begitu saja!"

"Tahan emosimu, Risha!" Azalia mencengkeram pergelangan tangan Risha dengan erat, menyalurkan hawa tenaga dalam hangat untuk menenangkan gejolak darah juniornya itu. "Jika kau menyerang sekarang, kita kehilangan kesempatan untuk mengetahui siapa pembeli informasi di balik semua ini. Biarkan mereka masuk lebih dalam."

"Tapi Kak..."

"Percaya padaku," potong Azalia tegas. "Kita akan menutup jalur pelarian mereka nanti. Sekarang, bersiaplah. Mereka mulai merusak gembok pintu rahasia."

Di bawah sana, Ki Seta dan dua pengawalnya berhasil mencongkel gembok kuningan besar yang mengunci pintu gudang pusaka. Pintu kayu jati setebal tiga inci itu terbuka perlahan, mengeluarkan suara derit berkarat yang memecah keheningan malam. Ketiga penyusup itu segera melangkah masuk ke dalam kegelapan ruangan, menyisakan bau kemenyan pekat yang menguar keluar.

❖ ❖ ❖

Suasana di luar paviliun pusaka mendadak terasa semakin mencekam. Angin malam berhembus lebih kencang, menggoyang-goyang ranting pohon beringin tua di sisi halaman. Azalia dan Risha memanfaatkan momen ketegangan ini untuk memperpendek jarak. Mereka merayap turun dari atap, menempel pada dinding luar paviliun yang terbuat dari kayu ulin tua.

Melalui celah kecil di antara bilah kayu dinding, mereka bisa melihat situasi di dalam ruangan dengan cukup jelas. Cahaya dari sebatang lilin kecil yang dinyalakan Ki Seta menerangi tumpukan kotak pusaka di sekeliling ruangan.

"Cepat cari lempengan giok itu!" suara serak Ki Seta terdengar memerintah kedua pengawalnya. "Pimpinan besar kita di perbatasan utara sudah mendesak lewat burung merpati pos. Jika kita gagal membawanya malam ini, kepala kita berdua yang akan menjadi taruhannya."

"Tuan Besar, kotak di sudut barat daya sepertinya memiliki segel tenaga dalam," lapor salah satu pengawal sambil meraba sebuah kotak kayu berlapis emas.

Lihat selengkapnya