SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #6

Racun Halusinasi Bunga Biru

Udara di dalam ruang penyimpanan jenazah Perguruan Tapak Langit terasa sangat dingin, menusuk hingga ke tulang sumsum. Aroma dupa cendana yang dibakar untuk meredam bau jenazah justru bercampur dengan aroma anyir darah yang mengering, menciptakan atmosfer yang menyesakkan dada. Di atas balai-balai kayu yang tua dan reyot, terbaring tubuh kaku mendiang Ketua Perguruan. Kulit wajahnya tampak kebiruan dengan urat-urat leher yang menonjol keluar, seolah-olah ia meregang nyawa dalam cengkeraman rasa sakit yang luar biasa hebatnya sebelum akhirnya menghembuskan napas terakhir.

Zahra berlutut di sisi kanan balai-balai tersebut. Penerangan dari sebuah lentera minyak tunggal yang berpendar redup memantulkan bayangan tubuhnya yang tegang di dinding batu yang lembap. Jemarinya yang lentik namun kokoh bergerak hati-hati, mengenakan sarung tangan kain tipis sebelum menyentuh bagian leher sang ketua. Di hadapannya, Chafia berdiri berjaga dengan tatapan awas. Pedang di pinggang Chafia siap ditarik kapan saja, sementara matanya terus mengawasi pintu masuk ruang bawah tanah yang sunyi senyap, memastikan tidak ada mata-mata yang mengintai penyelidikan rahasia mereka malam itu.

"Bagaimana keadaannya, Zahra?" tanya Chafia dengan suara berbisik, nyaris tertelan oleh desau angin malam yang menerobos celah-celah ventilasi batu.

Zahra tidak langsung menjawab. Ia mendekatkan hidungnya ke dekat bibir sang ketua, lalu mengamati celah kuku-kuku jari tangan jenazah yang menghitam pekat. Alisnya berkerut dalam, garis ketegangan tampak jelas di antara kedua matanya. Ia mengambil jarum perak kecil dari dalam kantong kain gulungnya, lalu menusukkannya secara perlahan ke kulit di balik telinga jenazah. Ketika jarum itu ditarik keluar, ujung peraknya telah berubah warna menjadi hitam kelam—sebuah pertanda klasik adanya racun mematikan yang bersarang di dalam aliran darah.

"Ini bukan kematian alami, Chafia," bisik Zahra, suaranya terdengar berat dan penuh dengan nada peringatan. "Beliau tidak meninggal karena serangan jantung mendadak seperti yang diumumkan oleh para tetua senior di aula utama tadi siang. Ini adalah pembunuhan yang dirancang dengan sangat rapi dan licik."

Chafia menahan napasnya sejenak. Meski ia sudah menduga hal tersebut sejak awal, mendengar konfirmasi langsung dari mulut Zahra, tabib muda yang paling dipercaya di perguruan, tetap saja membuat darahnya berdesir dingin. "Racun jenis apa? Apakah itu dari golongan racun ular bayangan atau serbuk laba-laba merah?"

"Bukan," jawab Zahra sambil menggelengkan kepalanya pelan. Ia membuka lipatan kain kasa yang menutupi bagian dada jenazah untuk memeriksa area sekitar jantung. "Perhatikan warna kebiruan di sekitar bibir dan kuku ini. Racun ini tidak bekerja dengan cara menghentikan pernapasan secara instan seperti racun hewan. Ini adalah racun nabati yang jauh lebih berbahaya, yang diekstrak dari kelopak Bunga Teratai Biru Gila."

Mendengar nama bunga tersebut, Chafia terkesiap kecil. Ia melangkah mendekat, melupakan sejenak kewaspadaannya terhadap pintu masuk. "Bunga Teratai Biru Gila? Bukankah tumbuhan itu hanya tumbuh di Lembah Kabut Hitam yang berada di perbatasan wilayah terlarang? Tanaman itu telah dinyatakan punah sejak dua dekade lalu setelah perang besar antar perguruan silat."

"Tampaknya ada seseorang yang berhasil membudidayakannya kembali secara diam-diam," tukas Zahra serius. Ia menunjuk ke arah pembuluh darah di leher jenazah yang tampak menghitam. "Racun ini memiliki efek ganda yang sangat mengerikan. Pertama, ia meniru gejala serangan jantung total, membuat detak jantung berhenti seketika tanpa meninggalkan luka sayatan atau tusukan fisik yang mencolok di permukaan kulit. Siapa pun yang memeriksanya secara sekilas pasti akan terkecoh."

"Lalu, apa efek kedua yang kau maksud?" desak Chafia, matanya menyipit tajam menatap wajah pucat sang ketua.

"Sebelum korban kehilangan kesadaran dan tewas, racun ini menyerang bagian saraf otak yang mengatur emosi dan ego," jelas Zahra dengan nada rendah. "Zat kimia dari bunga itu memicu halusinasi akut, membuat korban merasakan amarah yang meluap-luap, kecurigaan yang tidak masuk akal, serta aura permusuhan yang sangat pekat terhadap orang-orang di sekitarnya. Itulah sebabnya mengapa beberapa hari sebelum kematiannya, Ketua sempat terlihat mengamuk dan menuduh para murid senior berkhianat."

❖ ❖ ❖

Penjelasan Zahra menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam di dalam ruang penyimpanan jenazah. Chafia mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Potongan-potongan teka-teki yang selama ini berserakan di Perguruan Tapak Langit mulai menyatu di dalam kepalanya. Perkelahian antarmurid yang sering terjadi akhir-akhir ini, ketegangan antara faksi utara dan faksi selatan, hingga keputusan-keputusan kontroversial sang ketua yang memecah belah perguruan—semuanya ternyata bukan kebetulan. Ada dalang tak kasat mata yang sengaja menabur benih kebencian menggunakan racun halusinasi tersebut.

"Jika racun itu mampu memicu aura permusuhan di antara para murid," kata Chafia perlahan, menyuarakan kekhawatiran yang paling dalam, "maka racun yang sama mungkin tidak hanya diberikan kepada Ketua seorang. Bagaimana jika sebagian besar murid utama juga telah terpapar dalam dosis kecil melalui makanan atau air minum harian?"

Zahra mengangguk pelan, menyetujui pemikiran tajam sahabatnya itu. "Itulah bahaya yang sesungguhnya, Chafia. Racun Bunga Teratai Biru Gila bersifat menular secara psikologis melalui lingkungan yang dipenuhi rasa curiga. Ketika Ketua menunjukkan amarah akibat halusinasi racun tersebut, para murid meresponsnya dengan pertahanan diri, yang kemudian disalahartikan oleh sang ketua sebagai bentuk pemberontakan. Ini adalah strategi adu domba yang sangat keji untuk menghancurkan Perguruan Tapak Langit dari dalam tanpa harus mengerahkan satu pun pasukan musuh."

"Kita harus segera melaporkan temuan ini kepada Majelis Tetua," ujar Chafia sambil melangkah menuju pintu keluar.

Namun, sebelum tangan Chafia menyentuh daun pintu kayu yang berat itu, suara langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat dari lorong gelap di luar. Langkah kaki itu tidak hanya satu orang, melainkan beberapa orang yang berlari dengan gerakan ringan khas para pendekar berilmu tinggi. Suara logam bergesekan dengan sarung pedang terdengar jelas, menandakan kelompok tersebut datang dengan persenjataan lengkap dan niat yang tidak bersahabat.

Zahra dengan sigap memadamkan lentera minyak di atas meja, membuat ruangan tersebut langsung tenggelam dalam kegelapan total yang pekat. Ia menarik tangan Chafia, membawa sahabatnya bersembunyi di balik bayangan rak-rak obat herbal yang besar di sudut ruangan.

"Siapa di sana?" bentak sebuah suara lantang dari balik pintu ruang penyimpanan. Suara itu milik Mahesa, salah seorang murid senior dari faksi selatan yang dikenal sangat ambisius dan haus kekuasaan.

Pintu kayu didobrak dari luar dengan sekali tendangan keras, menghasilkan suara dentuman yang menggema di seluruh ruangan bawah tanah. Cahaya obor yang terang benderang menerobos masuk, menyapu setiap sudut ruangan dan memaksa bayangan-bayangan bergeser. Mahesa melangkah masuk diikuti oleh tiga orang pengikut setianya, masing-masing memegang obor di tangan kiri dan pedang terhunus di tangan kanan.

"Aku tahu seseorang menyelinap ke ruang jenazah ini," ucap Mahesa dengan nada dingin sambil menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Matanya berhenti pada balai-balai tempat jenazah sang ketua terbaring. "Hmm, rupanya ada tikus-tikus berani mati yang mencoba mencampuri urusan para tetua."

Chafia yang bersembunyi di balik rak obat hampir saja menarik pedangnya, namun Zahra dengan cepat menekan pergelangan tangan Chafia, memberi isyarat agar mereka tetap tenang dan tidak memancing konfrontasi langsung di tempat sempit tersebut.

"Cari di sudut-sudut! Jangan biarkan siapapun keluar dari ruangan ini hidup-hidup!" perintah Mahesa kepada para pengikutnya.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam ruangan bawah tanah semakin menegang setiap detiknya. Aroma minyak obor yang terbakar bercampur dengan bau debu tua membuat pernapasan terasa berat. Para pengikut Mahesa mulai bergerak menyisیر ruangan, memeriksa setiap celah dan sudut di mana Zahra dan Chafia mungkin bersembunyi. Langkah kaki mereka yang berat berderak di atas lantai batu, semakin mendekati tempat persembunyian kedua gadis itu di balik rak obat herbal.

Chafia mengatur napasnya agar tetap tenang, sementara jemarinya sudah bersiap mencengkeram gagang pedang di pinggangnya. Di hadapan mereka, bayangan salah satu pengikut Mahesa semakin membesar seiring dengan cahaya obor yang kian mendekat. Jika mereka ketahuan sekarang, mereka harus menghadapi empat pendekar berpengalaman dalam ruang tertutup yang tidak memiliki jalan keluar lain.

Tiba-tiba, suara kepakan sayap burung hantu terdengar dari arah ventilasi udara yang tinggi di dinding barat. Seekor burung hantu kecil menabrak jeruji besi ventilasi sebelum akhirnya terbang menjauh ke arah hutan malam. Suara itu berhasil mengalihkan perhatian pengikut Mahesa yang hampir membuka tirai penutup rak obat tempat Zahra dan Chafia bersembunyi.

Lihat selengkapnya