SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Benteng Perkasa Menahan Saudara

Malam di Perguruan Tapak Samudera tidak pernah terasa sekelam ini. Angin lembah berembus kencang, membawa aroma lembab tanah pegunungan yang bercampur dengan bau amis darah yang mulai mengering di pelataran batu. Obor-obor bambu yang dipasang di setiap sudut halaman bernyala liar, lidah apinya menari-nari diterpa angin malam, memantulkan bayangan panjang dari puluhan pendekar yang berdiri saling berhadapan dalam ketegangan yang pekat.

Di tengah pelataran utama, bentrokan fisik yang tadinya hanya berupa bisik-bisik kebencian kini telah meruncing menjadi ancaman nyata. Dua kubu murid yang tadinya minum dari cangkir yang sama, berlatih di bawah langit yang sama, dan bersumpah di depan altar leluhur yang sama, kini berdiri sebagai musuh bebuyutan.

Kubu pertama dipimpin oleh Kiandra, seorang murid senior berwatak keras yang merasa kepemimpinan perguruan saat ini telah menyimpang dari jalur kehormatan. Di belakangnya berdiri puluhan pemuda dengan mata menyala oleh amarah dan rasa tidak terima.

"Kalian semua telah dibutakan oleh ambisi penatua durhaka!" seru Kiandra, suaranya menggelegar membelah sunyinya malam, mengacungkan pedang bermata dua ke arah lawannya. "Perguruan ini didirikan di atas keringat dan darah para leluhur, bukan untuk dijual kepada penguasa korup di lembah seberang!"

Di seberang pelataran, kubu kedua yang dipimpin oleh Arya—sahabat karib Kiandra sendiri sejak masa kanak-kanak—menatap dengan pandangan dingin penuh kekecewaan. Arya tidak membawa pedang terhunus, melainkan sebuah tongkat baja berukir naga, simbol otoritas sementara yang dipercayakan kepadanya oleh dewan guru.

"Kau salah paham, Kiandra!" balas Arya, suaranya bergetar bukan karena takut, melainkan karena rasa sakit yang mendalam akibat pengkhianatan persahabatan ini. "Apa yang kami lakukan adalah demi kelangsungan hidup Perguruan Tapak Samudera! Jika kita menolak aliansi itu, mereka akan meratakan tempat ini dalam waktu kurang dari sebulan! Apakah kehormatan semu lebih berharga daripada nyawa ratusan saudara seperguruanku?!"

"Cukup!" teriak salah satu pengikut Kiandra, seorang pemuda bertubuh kekar bernama Bram. "Tidak ada alasan yang bisa membenarkan pengkhianatan terhadap sumpah darah perguruan! Serang!"

Tanpa aba-aba lebih lanjut, ketegangan itu pecah. Puluhan bilah pedang ditarik dari sarungnya secara serentak, menciptakan suara desingan logam yang memekakkan telinga. Para murid dari kedua kubu menerjang maju dengan kecepatan tinggi, mengandalkan jurus-jurus mematikan yang selama ini mereka pelajari bersama. Bentrokan senjata tidak bisa dihindarkan lagi; percikan api berpijar di udara setiap kali baja beradu dengan baja, sementara teriakan amarah dan erangan kesakitan mulai memecah malam.

Saat dua kubu murid perguruan saling menghunus pedang di pelataran utama, Fathan dan Galin mendadak melompat ke tengah-tengah mereka. Menggunakan jurus Dinding Karang Teratai, kedua bersaudara ini menjadi perisai kokoh yang memisahkan tebasan pedang kawan sesama perguruan tanpa melukai seorang pun.

Bum!

Hantaman energi tenaga dalam yang tebal bergelombang keluar dari telapak tangan Fathan dan Galin, menciptakan gelombang kejut tak kasat mata yang memaksa puluhan pendekar yang sedang menyerang terlempar ke belakang beberapa langkah. Debu berhamburan ke udara, dan untuk sesaat, keheningan yang mencekam kembali menguasai pelataran utama.

"Apa yang kalian lakukan?!" bentak Fathan, suaranya tajam bagai sembilu, menatap satu per satu wajah para murid yang kebingungan. Napasnya terengah-engah, namun pendiriannya tetap teguh. "Apakah kalian sudah kehilangan akal sehat? Menghunuskan pedang ke leher saudara sendiri demi memuaskan ego golongan?!"

Galin, adiknya, melangkah maju sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, berdiri tepat di garis tengah antara kubu Kiandra dan kubu Arya. Pakaian mereka berdua robek di beberapa bagian, sisa-sisa pertempuran sebelumnya di gerbang utara, namun tatapan mata mereka menyiratkan wibawa yang membuat para murid penyerang mengurungkan niat untuk maju kembali.

"Lihat tangan kalian!" Galin menunjuk ke arah bilah-bilah pedang yang masih berlumuran darah. "Darah yang menetes di batu ini bukan darah musuh dari luar! Ini adalah darah saudara kalian sendiri! Orang yang kemarin berbagi makanan dengan kalian, orang yang menolong kalian saat terluka di jurang selatan!"

Kiandra mendengus sinis, menurunkan ujung pedangnya sedikit namun matanya tetap memancarkan kebencian. "Fathan, Galin! Jangan ikut campur urusan ini! Kalian tidak tahu apa yang dipertaruhkan di sini!"

"Kami tahu persis apa yang dipertaruhkan, Kiandra!" balas Fathan tegas, melangkah mendekati sahabat lamanya itu tanpa sedikit pun rasa gentar. "Kalian mempertaruhkan masa depan Perguruan Tapak Samudera di atas altar kehancuran yang kalian bangun sendiri. Jika kalian ingin melangkah lebih jauh untuk saling membunuh, kalian harus melewati mayat kami berdua terlebih dahulu!"

❖ ❖ ❖

Suasana di pelataran utama semakin menegang. Ancaman Fathan dan Galin tidak serta-merta meredakan kepala-kepala panas di kedua kubu. Meskipun jurus Dinding Karang Teratai berhasil menghentikan gelombang serangan pertama, bisik-bisik kebencian kembali bergemuruh di barisan belakang kubu Kiandra.

"Jangan dengarkan mereka!" teriak Bram dari balik kerumunan, matanya merah karena dendam kesumat. "Fathan dan Galin hanya antek-antek dewan penatua yang ingin mempertahankan kekuasaan busuk mereka! Maju! Singkirkan siapa pun yang menghalangi jalan kita!"

Mendengar provokasi itu, beberapa murid garis keras kembali mengangkat pedang mereka. Tekanan udara di sekitar pelataran terasa semakin berat. Fathan dan Galin saling bertukar pandangan sekilas; mereka tahu bahwa peringatan saja tidak akan cukup untuk meredam badai kemarahan ini.

"Kita tidak punya banyak waktu, Kak," bisik Galin pelan, tubuhnya mulai mengalirkan energi tenaga dalam berwarna keperakan yang menyelimuti kedua lengannya.

"Aku tahu," jawab Fathan singkat. "Bersiaplah. Kita harus menahan mereka sampai para tetua sepuh tiba di pelataran."

Pertempuran jilid kedua pecah dengan intensitas yang jauh lebih brutal. Kali ini, bukan lagi bentrokan massal yang tidak terarah, melainkan serangan terfokus yang diarahkan langsung kepada Fathan dan Galin. Bram memimpin lima orang pendekar pilihan dari kubu Kiandra, melesat bagai kilat dengan jurus Cakar Macan Bayangan. Lima pasang tangan yang dilapisi tenaga hitam pekat menerjang ke arah dada dan punggung Fathan secara bersamaan.

Fathan tidak panik. Kakinya berpijak kuat di atas batu padas, membentuk kuda-kuda yang kokoh bagai akar pohon ratusan tahun. Dengan gerakan melingkar yang anggun namun mematikan, ia memutar kedua lengannya, menyerap hantaman tenaga lawan sebelum memantulkannya kembali dengan kekuatan ganda.

Duar!

Bram dan anak buahnya terpental mundur, mengerang kesakitan sambil memegangi dada mereka yang terasa sesak. Namun, di sisi lain, Galin harus menghadapi tekanan berat dari kubu Arya yang salah paham mengira kedua bersaudara itu berniat mengambil alih kepemimpinan perguruan.

"Galin, menyerahlah! Jangan paksa kami menggunakan kekerasan yang lebih besar!" seru Arya, mengayunkan tongkat bajanya dengan kecepatan angin.

"Arya, sadarlah! Kau sedang dimanipulasi!" teriak Galin sambil menangkis hantaman tongkat itu menggunakan kedua telapak tangannya yang dilindungi teknik Telapak Besi Teratai. Benturan logam dan tenaga dalam menciptakan suara dentangan nyaring yang membuat telinga berdenging. "Musuh sebenarnya sedang tertawa melihat kita saling bantai di sini!"

"Bohong!" Arya melancarkan serangan susulan yang lebih cepat, mengincar titik-titik akupuntur di bahu Galin. "Dewan penatua sudah menjual rahasia jurus inti perguruan kepada musuh! Dan kalian melindungi mereka!"

Lihat selengkapnya