Udara di dalam ruangan bawah tanah itu terasa berat, berbau lembap dan debu masa lalu yang terkurung puluhan tahun. Hawa dingin merayap menembus pakaian Yafid, tetapi keringat dingin justru mengalir di pelipisnya. Di hadapannya, sebuah meja batu tua berdiri kokoh, menopang sebuah peti besi berukir lambang singa bersayap—lambang resmi kepemimpinan tertinggi organisasi bayangan yang selama ini dikendalikan oleh para tetua secara sewenang-wenang.
"Pastikan tidak ada suara apa pun, Rafar," bisik Yafid pelan, matanya tidak lepas dari celah pintu rahasia yang baru saja mereka tutup rapat. Suaranya bergetar tipis, bukan karena rasa takut, melainkan karena kesadaran bahwa apa yang mereka temukan di tempat ini akan mengubah jalannya sejarah kelompok mereka selamanya.
Rafar mengangguk tegas, pisau belati di tangannya siap siaga memantulkan pendar remang dari obor minyak yang menempel di dinding batu. "Tenang, Yafid. Para penjaga di atas sedang berpatroli di sayap timur. Kita punya waktu setidaknya sepuluh menit sebelum mereka kembali melintasi koridor utama."
Peti besi itu tidak terkunci menggunakan gembok biasa, melainkan sebuah mekanisme sandi putar kuno dengan lima tingkat kombinasi huruf. Yafid menarik napas dalam-dalam, mengingat kembali catatan harian almarhum Ketua yang pernah ia pelajari secara diam-diam semasa hidup sang pemimpin besar. Petunjuk itu merujuk pada tanggal berdirinya aliansi suci mereka. Jemari Yafid bergerak lincah, memutar roda demi roda dengan presisi tinggi.
Krik... klik... clank.
Suara mekanisme besi yang bergeser terdengar begitu nyaring di telinga mereka yang tegang, seolah memecah keheningan malam yang pekat. Pada putaran terakhir, sebuah bunyi klik yang mantap menandakan kunci rahasia itu telah terbuka. Penutup peti besi perlahan diangkat oleh Yafid, memperlihatkan sebuah gulungan kertas tua yang terbungkus kain sutra hitam legam.
"Ini dia," gumam Yafid penuh takzim, jemarinya terulur menyentuh kain sutra tersebut dengan sangat hati-hati.
Rafar mendekat, matanya membelalak lebar melihat benda di dalam peti. "Apakah itu benar-benar surat wasiat asli yang selama ini dicari-cari oleh Tetua Braja Biru?"
"Hanya ada satu cara untuk memastikannya," jawab Yafid singkat.
Ia membuka gulungan kain sutra tersebut di atas meja batu. Di bawah cahaya obor yang menari-nari akibat tiupan angin kecil dari celah ventilasi, sebuah dokumen kertas perkamen kuno terbentang. Tinta emas yang digunakan untuk menulis dokumen tersebut masih tampak berkilau, memantulkan kemegahan masa lalu. Di bagian bawah dokumen, tertera cap resmi stempel darah almarhum Ketua yang tidak mungkin bisa dipalsukan oleh siapapun.
Yafid mulai membaca baris demi baris tulisan tangan almarhum Ketua. Semakin jauh matanya menyusuri kata-kata tersebut, semakin erat genggamannya pada tepi meja batu. Napasnya memburu, dan dadanya bergemuruh hebat menahan amarah sekaligus kejutan luar biasa.
"Ada apa, Yafid? Apa yang tertulis di sana?" desak Rafar penasaran, melihat perubahan ekspresi wajah sahabatnya yang mendadak pucat pasi.
❖ ❖ ❖
"Baca ini sendiri, Rafar," ujar Yafid lirih sambil menggeser dokumen perkamen itu ke hadapan sahabatnya.
Rafar menunduk, membaca alinea pertama surat wasiat tersebut dengan seksama. Seketika itu juga, matanya membelalak lebar, dan rahangnya mengeras hingga otot-otot di pipinya menonjol. "Tidak mungkin... Jadi selama ini kita semua telah dibohongi secara sistematis?"
"Bukan hanya dibohongi," sahut Yafid dengan nada suara yang tertahan namun penuh penekanan dingin. "Kita telah diperalat untuk mendukung seorang pengkhianat sejati."
Di dalam dokumen resmi tersebut, almarhum Ketua dengan sangat jelas dan terperinci menunjuk Yafid sebagai penerus sah kepemimpinan organisasi. Penunjukan itu didasarkan pada integritas, garis keturunan moral, serta ujian kepemimpinan yang diam-diam telah diamati oleh sang Ketua sebelum kematiannya yang misterius. Namun, bagian paling mengejutkan bukanlah tentang siapa penerus takhta yang sah, melainkan pengungkapan kejahatan besar yang dilakukan oleh Tetua Braja Biru.
Surat wasiat itu membeberkan bukti-bukti autentik bahwa kematian almarhum Ketua bukanlah karena penyakit jantung alami seperti yang diumumkan kepada seluruh anggota selama ini, melainkan akibat racun lambat yang sengaja dicampurkan ke dalam seduhan teh herbal oleh Tetua Braja Biru. Tujuannya hanya satu: merebut kekuasaan mutlak atas seluruh aset dan pasukan bayangan demi ambisi pribadi yang haus kekuasaan.
"Braja Biru benar-benar iblis berwajah manusia," desis Rafar, kepalan tangannya bergetar hebat di atas meja batu. "Dia membunuh pemimpin kita sendiri, lalu menyebar fitnah keji, dan sekarang bertindak seolah-olah dirinya adalah penyelamat organisasi."
"Dan jika dokumen ini jatuh ke tangan yang salah, atau jika kita gagal membawanya keluar dari tempat ini, maka kebenaran akan terkubur selamanya bersama jasad kita," balas Yafid tajam, melipat kembali perkamen itu dengan sangat hati-hati sebelum memasukkannya ke dalam kantung jaket khususnya yang tahan air dan api.
Tiba-tiba, suara derap langkah kaki berat terdengar dari arah koridor luar ruangan bawah tanah. Suara itu begitu dekat, disusul oleh suara dentuman besi yang bergesekan dengan dinding batu.
"Sial! Mereka datang lebih cepat dari perkiraan kita!" seru Rafar, langsung mencabut belatinya dan memasang kuda-kuda pertahanan di dekat pintu keluar rahasia.
Yafid tidak tinggal diam. Ia segera meniup obor minyak di dinding, membenamkan seluruh ruangan dalam kegelapan total agar posisi mereka tidak mudah terlihat dari celah pintu. Kegelapan menyelimuti mereka seketika, menyisakan suara napas terengah-engah dan detak jantung yang berpacu dalam dada.
"Jangan bergerak kecuali aku yang memberi aba-aba," bisik Yafid tepat di telinga Rafar di tengah gulita.
Pintu rahasia berderit perlahan. Secercah cahaya obor dari luar menembus masuk, menciptakan garis-garis terang di lantai ruangan yang berdebu.
❖ ❖ ❖
"Aku tahu kalian ada di dalam sini, tikus-tikus kecil," sebuah suara serak namun penuh wibawa terdengar memecah keheningan koridor. Suara itu milik Mahesa, algoji kepercayaan utama Tetua Braja Biru yang terkenal kejam dan tidak pernah mengenal kata ampun dalam setiap misi pembunuhan.
Yafid menahan napasnya rapat-rapat. Punggungnya menempel erat pada pilar batu dingin di sudut ruangan, sementara tangannya menggenggam gagang pedang pendek yang terselip di pinggangnya. Di sebelah kanannya, Rafar berdiri siaga, siap menerkam siapa pun yang berani melangkah masuk melewati ambang pintu.
Cahaya obor semakin melebar saat pintu rahasia didorong lebih terbuka lebar oleh ujung sepatu bot kulit milik Mahesa. Sang algoji melangkah masuk perlahan, ditemani oleh dua orang pengawal bertopeng besi yang membawa pedang panjang terhunus. Bau mesiu dan darah segar menguar bersamaan dengan kehadiran mereka di dalam ruangan sempit tersebut.