Angin malam berembus dingin, membawa bau anyir darah yang menguap dari pelataran utama Perguruan Teratai Biru. Di bawah naungan bulan sabit yang pucat pasi, tegak sesosok pria paruh baya berjubah biru tua bersulam benang perak. Wajahnya keras, dihiasi bekas luka memanjang dari pelipis kiri hingga ke bawah rahang, memberikan kesan bengis yang sulit disembunyikan. Dialah Braja Biru, Tetua tertinggi dari Cabang Selatan yang selama ini dianggap sebagai pelindung setia perguruan. Namun, malam ini, jubah kebesarannya ternoda oleh darah Ketua Perguruan yang terbujur kaku di dekat kaki altar batu.
"Tua bangka itu akhirnya mati juga," desis Braja Biru dengan suara serak, menatap mayat pemimpin tertinggi Teratai Biru tanpa secercah rasa penyesalan. Di tangannya, sebuah pedang bermata dua masih neteskan darah segar.
Di sekeliling pelataran, suasana begitu mencekam. Puluhan murid muda dari berbagai faksi berdiri terpaku, terbagi dalam kubu-kubu yang saling mencurigai. Provokasi yang ditanamkan oleh Braja Biru selama berbulan-bulan telah memecah belah persaudaraan di antara mereka. Pertikaian kecil yang disulut dengan sengaja kini telah berubah menjadi jurang pemisah yang menganga lebar. Para murid muda saling berpandangan dengan mata menyalang penuh kebencian, terjebak dalam permainan licik sang Tetua yang berambisi merebut tahta kepemimpinan tertinggi.
"Kalian melihatnya?" suara Braja Biru menggelegar memecah kesunyian malam, sengaja dikerahkan dengan tenaga dalam tingkat tinggi agar beresonansi di dada setiap orang yang mendengarnya. "Ketua Perguruan telah tewas di tangan pengkhianat dari faksi utara! Mereka ingin menghancurkan fondasi Teratai Biru dari dalam!"
Kebohongan itu meluncur begitu mulus dari bibirnya. Padahal, dialah sang algojo yang merenggut nyawa pemimpin mereka demi ambisi pribadi.
Dari barisan depan, seorang murid muda berwajah tegas bernama Mahesa melangkah maju. Pedang di tangannya bergetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena amarah yang nyaris meledak. Matanya menatap tajam ke arah Braja Biru, mencoba mencari kebenaran dibalik kekacauan ini.
"Tetua Braja," ucap Mahesa dengan suara berat, menahan gemeretak giginya. "Bagaimana mungkin faksi utara bertindak sekeji itu? Kami selalu mengabdi pada aturan leluhur. Pasti ada kesalahpahaman besar di balik kematian Ketua!"
Braja Biru menyunggingkan senyum sinis yang nyaris tak terlihat. "Kesalahpahaman, kau bilang, Mahesa? Mayatnya tergeletak di depan mata kita semua! Jangan biarkan darah mudamu membutakan kenyataan. Faksi utara telah lama mengincar posisi tertinggi, dan malam ini buktinya sudah sangat jelas."
"Kau berdusta!" seru seorang gadis dari faksi utara, Dyah namanya, yang tiba-tiba melompat ke tengah pelataran, berdiri tepat di samping mayat sang Ketua. Air mata membasahi pipinya, tetapi sorot matanya menyiratkan keberanian luar biasa. "Aku melihat bayangan jubah biru tua melesat dari arah paviliun utama sesaat sebelum teriakan terdengar. Itu bukan warna jubah faksi kami! Itu adalah corak khusus milik Cabang Selatan!"
Suasana pelataran mendadak gaduh. Bisik-bisik ketakutan dan kemarahan mulai bergemuruh di antara para murid. Braja Biru menyipitkan matanya. Gadis itu terlalu cerdas dan berbahaya jika dibiarkan hidup lebih lama.
"Gadis lancang!" bentak Braja Biru. "Berani sekali kau memfitnah Tetua perguruan demi menutupi kejahatan kelompokmu!"
Sebelum Dyah sempat membalas, Braja Biru mengibaskan lengan jubahnya. Sebuah gelombang tenaga hitam beracun meluncur deras membelah udara, mengarah tepat ke dada gadis itu.
❖ ❖ ❖
Serangan mendadak itu begitu cepat, tetapi Mahesa yang sejak awal menaruh curiga langsung bergerak secepat kilat. Ia menerjang maju, mengayunkan pedangnya untuk menepis gelombang tenaga hitam yang dilepaskan oleh sang Tetua.
BARRR!
Benturan tenaga dalam menciptakan ledakan kecil yang meniup debu pelataran ke udara. Mahesa terdorong mundur tiga langkah, telapak tangannya terasa panas terbakar dan darah segar merembes keluar dari sudut bibirnya. Serangan itu membuktikan satu hal yang mengerikan: kekuatan Braja Biru jauh melampaui perkiraan siapa pun di perguruan ini.
"Mahesa! Kau baik-baik saja?" tanya Dyah cemas, merangkul lengan pemuda itu untuk menopang tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa," jawab Mahesa terengah-engah, matanya tetap awas menatap sang Tetua. "Dyah, dengar baik-baik. Dia bukan lagi Tetua yang kita kenal. Ada aliran tenaga sesat yang bercampur dalam jurusnya. Itu bukan ilmu bela diri murni Teratai Biru!"
Mendengar kata-kata itu, tawa dingin membahana dari mulut Braja Biru. Suaranya berubah menjadi lebih berat, bergemerincing menyeramkan seolah berasal dari dasar bumi yang paling gelap.
"Anak cerdas yang malang," ucap Braja Biru sambil merentangkan kedua tangannya. Aura kehitaman mulai mengepul pekat dari pori-pori kulitnya, mengubah warna jubah biru tuanya menjadi kelam legam. "Kalian pikir Teratai Biru bisa menjadi penguasa persilatan hanya dengan mengandalkan jurus-jurus kuno yang lemah itu? Tidak! Dunia persilatan dikuasai oleh mereka yang memiliki kekuatan mutlak, bahkan jika kekuatan itu harus dipinjam dari jurang kegelapan abadi!"
Pengakuan terbuka itu membuat seluruh murid yang hadir terperanjat ngeri. Para murid dari Cabang Selatan yang tadinya berdiri di belakang Braja Biru mulai saling berpandangan dengan wajah pucat pasi. Mereka baru menyadari bahwa pemimpin yang mereka sanjung selama ini telah menjual jiwanya kepada kaum sesat dari Selatan.
"Jadi... kau benar-benar bersekutu dengan sekte sesat?" suara seorang murid senior Cabang Selatan bergetar hebat. "Kau memanfaatkan kami sebagai alat untuk membunuh saudara seperguruanku sendiri?"
"Alat?" Braja Biru mendengus meremehkan. "Kalian hanyalah batu loncatan bagiku untuk menguasai dunia persilatan! Dan sekarang, tidak ada seorang pun dari kalian yang boleh keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup jika ingin rahasia ini tetap aman."
Suasana langsung berubah menjadi medan pembantaian terselubung. Braja Biru tidak lagi menyembunyikan niat busuknya. Ia menarik sebilah pedang pusaka bergagang ukiran tengkorak dari punggungnya—senjata terlarang yang selama ini disembunyikan di ruang rahasia Cabang Selatan.
"Lawan dia bersama-sama!" teriak Mahesa, menyadari bahwa egoisme faksi tidak lagi penting. Yang tersisa hanyalah pilihan antara hidup berdampingan dalam kebenaran atau mati di bawah cengkeraman iblis berkedubah manusia.
Puluhan murid dari faksi utara dan selatan yang tadinya saling bermusuhan kini berdiri berdampingan. Mereka menghunus pedang, merapatkan barisan, dan memusatkan seluruh tenaga dalam untuk menghadapi musuh bersama yang jauh lebih mematikan.
❖ ❖ ❖
Pertempuran sengit pun pecah di pelataran utama. Semburan cahaya pedang berpadu dengan gulungan energi hitam yang dipancarkan oleh Braja Biru. Sang Tetua bergerak bagaikan bayangan maut, setiap ayunan pedangnya mampu membelah angin dan menciptakan gelombang kejut yang merontokkan lantai batu pelataran.
"Formasi Pedang Kembar Langit, mulai!" komando Mahesa lantang di tengah riuh rendah suara benturan logam.