SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #11

Jebakan Formasi Telaga Biru

Udara di sekitar pelataran Telaga Biru terasa dingin menusuk tulang, jauh berbeda dengan kehangatan musim yang seharusnya menyelimuti lembah tersebut. Permukaan air telaga yang membentang luas tampak tenang bagaikan cermin raksasa, memantulkan langit malam yang mulai diselimuti awan kelam. Namun, ketenangan itu hanyalah ilusi semata. Di balik permukaan air yang jernih, aliran energi besar bergolak ganas, siap meledak kapan saja.

Arka melangkah maju dengan hati-hati, telapak kakinya menyentuh ubat batu pualam yang mengelilingi tepi telaga. Di belakangnya, Tera dan kedelapan sahabat setianya berjalan rapat, menjaga formasi tempur demi mengantisipasi bahaya yang sejak tadi membayangi langkah mereka.

"Rasanya ada yang tidak beres dengan tempat ini," bisik Raras sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling pepohonan pinus yang berdiri kaku. "Terlalu sunyi. Tidak ada suara angin, tidak ada suara serangga malam. Tempat ini terasa seperti kuburan."

"Kau benar, Raras," timpal Bayu sambil merapatkan genggaman pada perisai bajanya. "Aku bisa merasakan tekanan chi yang sangat pekat di udara. Tekanan ini menekan dada dan membuat pernapasan terasa berat."

Sebelum Arka sempat merespons perkataan rekan-rekannya, suara tawa dingin mendadak menggema dari segala penjuru, memecah keheningan malam dengan cara yang menggetarkan jiwa. Tawa itu melengking tinggi, memantul di dinding-dinding karang dan permukaan air telaga, seolah berasal dari ribuan orang sekaligus.

"Selamat datang di tempat peristirahatan terakhir kalian, para pendekar muda yang sombong!" seru suara itu, sarat dengan nada ejekan yang merendahkan.

Dari balik kabut tipis yang merayap di atas permukaan air, sesosok bayangan melesat ringan dan mendarat sempurna di atas sebuah batu besar di tengah telaga. Sosok itu mengenakan jubah kebesaran berwarna biru tua dengan lambang gelombang air di dadanya. Wajahnya tertutup topeng perak setengah wajah, namun sorot mata tajam nan angkuh terpancar jelas dari balik topeng tersebut.

"Braja Biru," geram Tera dengan gigi kertak, mengenali musuh bebuyutan yang pernah melukai guru mereka bertahun-tahun lalu. "Jadi kau dalang di balik kekacauan ini!"

Braja Biru tersenyum sinis di balik topengnya. Ia melipat kedua tangan di dada sambil menatap rendah ke arah Arka dan rombongannya. "Kalian memang cepat tanggap, Tera. Sayangnya, kepintaran kalian tidak akan menyelamatkan nyawa kalian malam ini. Kalian telah masuk ke dalam sarang singa, dan pintu keluarnya sudah ditutup rapat."

Begitu Braja Biru menjentikkan jari tangannya, permukaan air telaga mendadak bergolak hebat. Buih-buih putih bermunculan, disusul oleh puluhan bilah pedang transparan yang memancar dari dalam air, melayang di udara dan membentuk sebuah pola melingkar yang mengurung Arka beserta seluruh sahabatnya.

"Perhatian semuanya! Ini adalah Formasi Pedang Telaga Biru!" seru Arka dengan suara lantang, memperingatkan rekan-rekannya agar tidak panik. "Jangan bergerak gegabah! Formasi ini memanfaatkan pantulan cahaya air untuk mengacaukan penglihatan dan menciptakan bayangan palsu!"

"Tepat sekali, Arka," sahut Braja Biru dengan tawa penuh kemenangan. "Nikmati tontonan terakhir sebelum kalian tercabik-cabik oleh ribuan bilah pedang airku!"

❖ ❖ ❖

Pola pedang transparan yang mengurung pelataran telaga mulai berputar perlahan, memancarkan cahaya biru menyilaukan yang memantul dari permukaan air ke segala arah. Pantulan cahaya tersebut bekerja seperti ribuan cermin pecah, membiaskan bayangan Arka dan kawan-kawan hingga tampak puluhan duplikat diri mereka berkelebat di udara.

"Pandanganku mulai kabur," keluh Nila sambil memegang kepalanya yang mendadak pusing akibat silau cahaya air. "Aku melihat diriku sendiri berdiri di mana-mana."

"Jangan percaya pada apa yang kalian lihat!" seru Kunto memperingatkan sambil mengibaskan jubahnya untuk menangkis silau cahaya. "Fokuskan pendengaran dan rasakan getaran chi lawan di sekitar kita. Itu satu-satunya cara untuk bertahan."

Namun, peringatan Kunto terlambat sepersekian detik. Ribuan bilah pedang air di udara mendadak mendengung nyaring, melesat ke arah mereka seperti hujan badai yang mematikan. Lintasan pedang-pedang tersebut memantul ke sana kemari tanpa pola yang jelas, memanfaatkan pembiasan cahaya untuk mengecoh arah datangnya serangan.

"Lindungi formasi tengah!" komando Tera sambil melompat dan mengayunkan pedangnya membentuk lingkaran pelindung, menciptakan hembusan angin yang menahan laju beberapa bilah pedang pertama.

Cring! Cring! Cring!

Benturan logam dan energi bergemerincing nyaring di udara. Dika dan Bayu segera merapatkan diri, menggabungkan perisai baja mereka untuk menutupi sisi kiri dan kanan, melindungi Sita dan Wulan yang tengah merapal mantra pelindung dasar.

"Serangan ini tidak masuk akal!" teriak Dika dengan napas tersengal-sengal saat sebuah pedang air berhasil menembus lapisan pertahanan luar dan menggores bahu baju perangnya. "Sudut pantulannya berubah-ubah setiap kali pedang itu mengenai bayangan air!"

"Itulah kelemahan sekaligus keunggulan Formasi Telaga Biru," jawab Arka di tengah kesibukannya menangkis serangan bertubi-tubi dari arah depan. Pedang peraknya berkelebat cepat, memecah tiga bilah pedang air yang mengarah tepat ke dadanya. "Formasi ini tidak dirancang untuk membunuh secara langsung pada hantaman pertama, melainkan untuk menguras tenaga dan mental kita hingga kita menyerah sendiri."

Di atas batu tengah telaga, Braja Biru memperhatikan perlawanan mereka dengan senyuman meremehkan. Ia kembali menggerakkan tangannya, membuat putaran pedang di udara semakin cepat dan menciptakan badai kabut dingin yang semakin membatasi ruang gerak Arka dan kawan-kawannya.

"Pertahanan kalian mengagumkan, anak-anak muda," teriak Braja Biru di tengah deru angin. "Tetapi seberapa lama kalian bisa bertahan melawan tekanan air yang terus meningkat ini? Sebentar lagi, tulang-tulang kalian akan remuk dihantam tekanan telaga!"

"Jangan dengarkan provokasinya!" seru Raras dengan suara lantang, menyemangati rekan-rekannya yang mulai tampak kelelahan. Raras melepaskan tiga anak panah khusus berujung magnet dari busurnya, membidik titik-titik pusat pantulan cahaya di atas permukaan air. "Kita harus mencari sumber inti formasi ini!"

Anak-anak panah itu melesat menembus kabut dan menghujam tepat di beberapa batu penopang telaga. Namun, alih-alih hancur, batu-batu tersebut justru menyerap energi anak panah Raras dan memantulkan balik serangan itu dengan kekuatan yang dua kali lipat lebih besar.

"Raras, tarik anak panahmu!" teriak Arka memperingatkan.

Raras terkejut dan segera melompat menghindar saat gelombang kejut balik menyambar tempat ia berdiri tadi, meninggalkan bekas gosong yang cukup dalam di tanah pualam. Situasi semakin terdesak, menjepit mereka dalam lingkaran kematian tanpa celah pelarian yang jelas.

❖ ❖ ❖

Tekanan di dalam pelataran telaga kini mencapai tingkat yang mengkhawatirkan. Udara terasa semakin berat, seolah-olah seluruh air telaga diangkat ke atas kepala mereka dan menekan turun tanpa ampun. Para anggota rombongan mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan fisik yang nyata; peluh bercampur darah segar mengalir di pelipis mereka, sementara napas terdengar memburu dan tidak teratur.

"Kita tidak bisa terus bertahan seperti ini," ucap Jati dengan gigi kertak, menahan beban hantaman pedang air yang menghantam perisai kayunya hingga retak di bagian tengah. "Jika kita tetap diam di dalam lingkaran ini, kita hanya menunggu waktu sampai tenaga kita habis."

"Jati benar," tambah Sita yang duduk bersimpuh sebelah kaki sambil merapal energi pemulihan untuk Nila yang sempat terkena serpihan energi dingin. "Formasi ini menyerap tenaga dalam kita setiap kali kita menangkis serangannya. Semakin lama kita bertahan, semakin lemah kita."

Lihat selengkapnya