Hawa lembap di dalam gua batu bawah tanah Perguruan Teratai Biru terasa semakin menyesakkan dada. Di tengah kegelapan yang hanya diterangi oleh pendar samar lumut bercahaya di dinding batu, Kamil berdiri tegak dengan tatapan mata yang tidak pernah lepas dari pola gerakan para penjaga bayaran di ujung terowongan. Mereka adalah barisan pendekar bayaran elit yang dibayar mahal oleh pengkhianat internal untuk menjaga ruang rahasia tempat gulungan rahasia dan bukti kejahatan disimpan rapat-rapat.
"Formasi Pedang Cakar Naga," bisik Kamil pelan, nyaris tanpa suara, namun cukup jelas tertangkap oleh pendengaran tajam Arka dan Tera yang berdiri tepat di sisi kiri dan kanannya.
Arka mengernyitkan dahi, matanya menyipit memperhatikan kilatan bilah pedang musuh yang berputar bagaikan roda besi berduri. "Formasi itu terlihat sempurna tanpa cela, Mil. Setiap celah yang kita lihat sepertinya sengaja dibiarkan terbuka sebagai umpan untuk menjebak kita."
"Kau benar, Arka," balas Kamil tanpa mengalihkan pandangannya sedetik pun. Jari telunjuknya terangkat, menunjuk ke arah genangan air jernih yang berasal dari tetesan stalaktit di lantai gua. "Tetapi perhatikan sudut pantulan air itu. Bayangan pedang mereka tidak sinkron dengan gerakan tubuh bagian bawah mereka. Ada jeda sepersekian detik saat mereka memindahkan tumpuan kaki."
Tera mendekatkan wajahnya ke arah genangan air yang ditunjuk Kamil. Alisnya berkerut dalam, mencoba mencerna perhitungan matematis dan taktis yang sedang dipaparkan oleh rekan mudanya itu. "Titik buta... Jadi di situlah kelemahan dari formasi bertahan mereka?"
"Tepat sekali," ujar Kamil dengan nada penuh keyakinan. "Mereka mengandalkan kekuatan visual dari atas, tetapi melupakan keseimbangan gravitasi di bagian bawah. Jika kita menyerang titik buta itu secara serentak, ritme perputaran mereka akan hancur berkeping-keping."
Arka menarik napas dalam-dalam, mencengkeram gagang pedangnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Lalu apa rencana bagianmu, Kamil? Beritahu kami aba-abanya. Waktu kita sangat terbatas sebelum bala bantuan mereka dari luar datang mengepung."
"Dengarkan sandi suara ini baik-baik," bisik Kamil tajam. Ia mengetukkan jarinya ke dinding batu dengan ketukan berirama tertentu—dua ketukan pendek, satu ketukan panjang. "Ketika aku membunyikan sandi ini lewat desisan angin buatan, Arka, kau harus melompat ke sisi kiri dan hantamkan jurus Pecah Badai ke lantai tepat di bawah kaki pemimpin formasi mereka. Tera, begitu lantai itu retak, segera susul dengan tusukan kilat ke arah titik pantulan air di sebelah kanan untuk memutus jalur pelarian mereka."
"Bagaimana denganmu, Kamil?" tanya Tera cepat, nada suaranya menyiratkan kekhawatiran yang tulus. "Apa bagianmu dalam formasi serangan ini?"
Kamil tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh perhitungan di tengah kegelapan gua. "Aku yang akan menerobos pusat pertahanan mereka begitu formasi itu terbelah dua. Bersiaplah... hitungan ketiga dimulai dari sekarang."
Suasana di dalam terowongan mendadak sunyi mencekam. Detak jantung terdengar begitu nyaring di telinga masing-masing. Tanpa menunggu suara teriakan perang, Kamil melepaskan desisan angin pendek melalui sela-sela giginya—sebuah sandi suara yang langsung memicu gerakan kilat dari ketiga sekutu tersebut.
Dua ketukan pendek, satu desisan panjang.
"Sekarang!" seru Kamil.
Arka melesat bagaikan bayangan hitam, tubuhnya berputar di udara sebelum menghantamkan telapak kakinya yang dilapisi tenaga dalam tingkat tinggi langsung ke lantai batu gua. Suara dentuman keras menggema memekakkan telinga, menciptakan retakan besar yang menjalar cepat dan mengguncang keseimbangan para penjaga formasi.
Para penjaga bayaran itu terpekik kaget ketika pijakan mereka tiba-tiba ambles dan bergetar hebat. Belum sempat mereka memulihkan keseimbangan, Tera sudah melesat bagai kilat menyambar dari sisi kanan, mengayunkan pedangnya tepat pada sudut pantulan air yang telah dianalisis oleh Kamil sebelumnya.
Brak!
Dua bilah pedang musuh terpental patah akibat hantaman sudut yang tidak seimbang. Formasi Pedang Cakar Naga yang tadinya dianggap tak tertembus kini hancur lebur dalam waktu kurang dari sepuluh detik, menyisakan kepanikan total di barisan musuh yang kebingungan mencari arah serangan.
❖ ❖ ❖
Kemenangan kecil di terowongan bawah tanah sama sekali tidak memberikan waktu bagi Kamil, Arka, dan Tera untuk menarik napas lega. Begitu mereka berhasil menembus barisan penjaga pertama, sebuah rintangan yang jauh lebih mematikan telah menanti di ujung aula utama paviliun dalam Perguruan Teratai Biru.
Di tengah ruangan yang luas itu, berdiri sosok yang tidak asing lagi bagi mereka: Ki Raga. Panglima latihan utama itu berdiri dengan kedua tangan bersidekap di dada, jubah hitamnya berkibar diterpa angin malam yang masuk dari ventilasi atap yang terbuka. Di sekelilingnya, puluhan murid garis keras menghunuskan pedang panjang dengan mata memerah penuh dendam.
"Kalian bertiga benar-benar tikus-tikus got yang licik," suara Ki Raga menggelegar memenuhi ruangan, memantul di dinding-dinding batu dan menciptakan gema yang menusuk telinga. "Berani-ananya kalian menginjakkan kaki di tanah suci paviliun dalam tanpa seizin penguasa sah perguruan ini!"
Kamil melangkah maju selangkah, menempatkan dirinya di depan Arka dan Tera. Wajahnya tetap tenang, namun seluruh urat di tubuhnya siaga penuh menghadapi gelombang tenaga dalam tingkat tinggi yang dipancarkan oleh Ki Raga. "Penguasa sah, Ki Raga? Atau pembunuh berdarah dingin yang merebut takhta di atas kematian ketua sendiri?"
Wajah Ki Raga berubah kelam seketika mendengar tuduhan langsung itu. Matanya membelalak tajam, memancarkan amarah yang siap meledak kapan saja. "Jaga mulut lancangmu, anak muda! Kau tidak tahu apa-apa tentang perguruan ini! Ketua mati karena kelemahan kepemimpinannya sendiri yang membiarkan musuh dari luar masuk menyusup!"