Malam di Lembah Telaga Kaca memantulkan cahaya bulan purnama yang bulat sempurna, membuat permukaan airnya tampak seperti cermin raksasa yang membentang tanpa batas. Di tepi telaga, suasana berubah menjadi tegang dan penuh tipu daya. Bisik-bisik beracun dari Braja Biru telah meracuni pikiran para murid muda Perguruan Tapak Air. Mereka berdiri dengan pandangan kosong, mata mereka memerah dan dihinggapi bayangan semu yang diciptakan oleh racun halusinasi tingkat tinggi. Braja Biru, seorang pengkhianat licik bermata tajam dengan jubah biru tua bercorak ombak, berdiri di atas batu besar di tengah tepian, tersenyum lebar melihat kekacauan yang berhasil ia ciptakan tanpa harus mengotori tangannya sendiri.
"Kalian lihat?" suara Braja Biru melengking, memprovokasi para murid yang kehilangan akal sehat. "Para tetua perguruan selama ini telah membohongi kalian! Kitab warisan leluhur disembunyikan untuk kepentingan mereka sendiri! Serang siapa saja yang menghalangi jalan kalian menuju kebebasan!"
Para murid yang termakan hasutan itu mulai mengacungkan pedang dan tongkat mereka, bergerak serentak maju untuk menghancurkan balai utama tempat penyimpanan pusaka. Di tengah kepanikan massal tersebut, sesosok bayangan putih melesat tanpa suara dari balik pepohonan bambu. Itu adalah Tera, pendekar wanita berhati baja yang mengenakan jubah putih bersih dengan selendang sutra panjang melingkar di lengannya. Kehadirannya langsung menarik perhatian, namun para murid yang dikendalikan intrik Braja Biru tidak mengenal kawan maupun lawan. Tiga orang murid terdepan langsung mengayunkan pedang mereka secara membabi buta ke arah Tera, berniat merobek tubuh wanita itu tanpa ampun.
Tera tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun. Alisnya sedikit berkerut, bukan karena takut, melainkan karena rasa iba yang mendalam melihat rekan seperguruannya sendiri dimanipulasi sedemikian rupa.
"Kalian tertipu oleh racun ilusi!" seru Tera dengan suara jernih yang menembus deru angin malam. "Sadarlah! Braja Biru sedang memperalat kalian demi ambisinya sendiri!"
"Bunuh dia! Dia penghalang!" jerit salah seorang murid yang sudah sepenuhnya dikuasai halusinasi.
Tera menarik napas dalam-dalam, mengalirkan tenaga dalam ke seluruh urat nadinya. Alih-alih mencabut pedang untuk membalas serangan mematikan itu, ia justru melompat ringan ke udara, bagaikan sehelai bulu merpati yang terbawa angin malam. Di bawahnya, permukaan telaga bergetar hebat memantulkan cahaya perak bulan yang menyilaukan mata.
❖ ❖ ❖
Lompatan Tera membawanya melayang tepat di atas permukaan Telaga Kaca. Gerakannya begitu anggun, seolah ia sedang menari di atas awan, namun setiap inci gerakannya mengandung kekuatan tenaga dalam yang luar biasa murni. Selendang putih di lengannya terulur panjang, berkibar lembut diterpa angin malam dan membiaskan pantulan cahaya air telaga ke segala penjuru arah. Kilatan cahaya putih yang menyilaukan itu langsung menghujam mata para murid yang menyerang, merusak konsentrasi serta membuyarkan pengaruh sihir halusinasi yang ditanamkan oleh Braja Biru di kepala mereka.
"Argh! Mataku silau!" teriak seorang murid sambil menjatuhkan pedangnya dan menutup wajah dengan kedua tangan.
"Apa ini?! Kenapa aku tidak bisa melihat apa-apa?!" sahut murid lainnya panik.
Meskipun memancarkan cahaya yang menyilaukan dan membingungkan para penyerang, selendang putih Tera sama sekali tidak meneteskan darah atau melukai kulit mereka barang sedikit pun. Setiap kali selendang itu berputar dan menyentuh ujung pakaian para murid, tenaga dalam yang lembut namun tegas langsung menotok titik akupuntur di bahu mereka, memaksa aliran darah kotor yang terkontaminasi racun halusinasi itu mengalir keluar melalui keringat dingin. Satu per satu, para murid yang tadinya beringas kini jatuh berlutut di tepi telaga, napas mereka memburu, namun kesadaran mereka perlahan-lahan mulai pulih sepenuhnya.
Braja Biru yang berdiri di atas batu besar mendengus keras. Wajahnya yang semula penuh seringai kemenangan kini berubah menjadi kelam dan dipenuhi amarah yang meluap-luap. Ia tidak menyangka bahwa ilmu Selendang Suci Kesucian milik Tera mampu menetralisir racun halusinasi buatannya dengan begitu mudah dan tanpa pertumpahan darah.
"Gadis bodoh!" bentak Braja Biru, suaranya bergetar karena geram. "Kau pikir dengan menyelamatkan mereka, kau bisa menghentikan takdir yang sudah gariskan di lembah ini?!"
Tera mendarat dengan ringan di atas permukaan air telaga, ujung kakinya hanya menciptakan riak kecil yang tenang. Ia melipat selendang putihnya di depan dada, menatap tajam ke arah Braja Biru dengan mata yang memancarkan ketenangan luar biasa.
"Kejahatan tidak pernah menjadi takdir, Braja Biru," jawab Tera dingin, suaranya terdengar sangat jelas di antara desir angin malam. "Kau memanfaatkan kepolosan para murid demi kepentingan rendahanmu sendiri. Hari ini, langkahmu terhenti di sini."
"Jangan sombong!" Braja Biru merogoh kantong jubahnya dan mengeluarkan tiga buah jarum beracun berwarna kebiruan. "Jika kau ingin bermain sebagai pahlawan suci, biarkan aku menguji seberapa kuat pertahanan selendang murahmu itu!"
Sebelum Braja Biru sempat melemparkan jarum beracunnya, situasi di sekitar telaga mendadak kembali bergolak. Para tetua perguruan yang mendengar keributan dari kejauhan mulai berdatangan membawa obor yang menyala terang, mengepung area telaga dari berbagai sisi.
❖ ❖ ❖
Cahaya obor yang dibawa oleh para tetua perguruan menerangi seluruh sudut Telaga Kaca, mengusir kegelapan malam dan memperjelas pemandangan kekacauan yang baru saja terjadi. Tetua Ming, sesepuh tertinggi perguruan yang memiliki janggut putih panjang, melangkah maju ke tepi air dengan wajah muram dan penuh wibawa. Pandangannya menyapu para murid yang terduduk lemas di tanah, lalu beralih kepada Braja Biru yang berdiri tegang di atas batu besar dengan jarum beracun di tangannya.