SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Kebenaran di Balik Kematian Ketua

Langit pagi di halaman utama Perguruan Teratai Biru tampak kelabu, berat oleh mendung yang menggantung rendah seolah ikut meratapi luka lama yang belum sepenuhnya kering. Ratusan murid berjubel memenuhi pelataran batu pualam, mengenakan jubah putih kebesaran dengan lambang bunga teratai biru yang terjahit rapi di dada kiri mereka. Suasana begitu senyap, nyaris tanpa suara bisikan, kecuali desau angin gunung yang mendinginkan udara dan gesekan jubah yang bergesekan pelan. Di atas mimbar utama yang terbuat dari kayu jati tua, para tetua perguruan duduk dengan wajah tegang. Di barisan paling depan, Tetua Braja Biru berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada dengan senyum tipis yang menyembunyikan gelagat gugup.

Kamil melangkah tegap menaiki tangga mimbar, membawa gulungan perkamen tua yang diikat dengan benang emas murni. Di sampingnya, Chafia berjalan anggun namun siaga, membawa sebuah kotak kayu mahoni kecil yang terkunci rapat berisi barang bukti krusial. Hari ini, di hadapan seluruh warga perguruan, kebenaran yang selama ini terkubur rapat di balik kematian misterius almarhum Ketua Agung akhirnya akan dibongkar terang-terangan. Tidak ada lagi ruang untuk tipu muslihat, tidak ada lagi tempat bagi para pengkhianat untuk bersembunyi di balik topeng kehormatan.

❖ ❖ ❖

"Tenanglah, Kamil. Jangan biarkan emosimu menguasai diri," bisik Chafia pelan saat mereka berdiri tepat di hadapan barisan para tetua perguruan. Suaranya terdengar lembut namun tegas, memberikan kekuatan di tengah debaran jantung yang bergemuruh.

Kamil mengangguk kecil, menarik napas dalam-dalam untuk menstabilkan detak jantungnya. Tatapannya mendarat tajam pada sosok Tetua Braja Biru yang berdiri hanya beberapa langkah darinya. Pria tua berjanggut putih itu menatap balik dengan sorot mata meremehkan, seolah tidak percaya bahwa dua murid muda sekelas mereka berani menantang otoritas tertinggi di perguruan ini.

"Kamil, Chafia," suara Tetua Braja Biru memecah keheningan, berat dan berwibawa. "Kalian meminta seluruh murid dikumpulkan dengan dalih memiliki pengumuman penting menyangkut almarhum Ketua Agung. Perguruan kita sedang berduka, jangan jadikan momen ini sebagai panggung untuk mencari perhatian atau menyebarkan fitnah murahan."

"Ini bukan fitnah, Tetua Braja Biru," jawab Kamil lantang, suaranya menggema di seluruh pelataran dan didengar jelas oleh ratusan pasang mata murid yang terpaku. "Ini adalah kebenaran yang selama berbulan-bulan disembunyikan oleh tangan-tangan kotor yang mengotori kesucian Perguruan Teratai Biru dari dalam!"

Bisikan-bisikan tertahan langsung merebak di antara barisan murid. Suasana pelataran mendadak riuh rendah seperti air mendidih. Beberapa murid saling berpandangan dengan kening berkerut, sementara para tetua lainnya mulai menunjukkan kemarahan di wajah mereka.

"Cukup!" seru Tetua Mandra, salah satu pendukung setia Braja Biru, sambil bangkit dari kursi kayunya. "Berani sekali kalian berkata lancang di hadapan para tetua! Turun dari mimbar sekarang atau kami akan menyeret kalian keluar dengan tuduhan pengkhianatan!"

"Tuduhan pengkhianatan?" Chafia melangkah maju, membuka kotak kayu mahoni di tangannya dengan gerakan tenang dan terkontrol. "Sebelum kalian menjatuhkan hukuman, lihatlah baik-baik apa yang ada di dalam kotak ini. Benda ini adalah saksi bisu atas kematian tidak wajar Ketua Agung yang selama ini kalian tutup-tutupi."

Di dalam kotak tersebut, terbaring sebuah cawan porselen putih berukir biru yang tampak kusam. Cawan pribadi almarhum Ketua Agung yang malam itu digunakan sebelum ia ditemukan tewas mendadak di kamar peristirahatan utamanya.

"Itu hanya cawan biasa!" bentak Tetua Braja Biru, suaranya sedikit meninggi dan nada tenangnya mulai goyah. "Beliau meninggal karena serangan jantung mendadak akibat usia tua dan kelelahan memimpin perguruan! Jangan mengada-ada!"

"Benarkah karena usia tua?" tantang Kamil, matanya menatap tajam menembus manik mata sang tetua sepuh itu. "Ataukah karena secangkir teh ginseng malam itu telah dicampur dengan racun kelabang salju yang melumpuhkan pernapasan secara perlahan?"

Suasana pelataran kembali terhenyak. Nama racun itu disebut dengan jelas, membuat beberapa wajah di jajaran tetua langsung memucat pasi. Kamil tahu, ia sedang memegang bara api yang siap membakar siapa saja, termasuk dirinya sendiri jika salah melangkah.

❖ ❖ ❖

"Racun kelabang salju?" Tetua Braja Biru mendengus sinis, berusaha menutupi kegugupannya dengan tawa pendek yang terdengar hambar. "Kau membaca terlalu banyak cerita roman silat, anak muda. Racun itu adalah legenda kuno yang sudah punah ratusan tahun lalu. Mana mungkin ada di perguruan kita?"

"Legenda memang bisa punah, Tetua, tetapi sisa endapannya tidak bisa berbohong," balas Chafia cepat. Ia mengambil sebatang jarum perak khusus dari dalam kantong kain kecil dan mencelupkannya perlahan ke dasar cawan porselen yang ada di dalam kotak mahoni.

Semua murid dan tetua memfokuskan pandangan mereka ke arah jarum perak tersebut. Detik-detik berjalan lambat, seolah waktu berhenti di halaman perguruan. Di bawah sinar matahari pagi yang menembus mendung tipis, bagian ujung jarum perak yang tadinya berkilau bersih perlahan-lahan berubah warna menjadi hitam pekat dalam hitungan detik.

"Lihat itu!" seru Chafia kepada seluruh kerumunan. "Perubahan warna menjadi hitam legam dalam waktu singkat adalah bukti mutlak adanya reaksi kimia dari racun kelabang salju jenis utara. Racun ini tidak menyerang darah seketika, melainkan mengendap di dinding lambung dan menghentikan detak jantung dalam waktu tiga jam tanpa meninggalkan bekas luka luar!"

Jeritan kecil tertahan terdengar dari beberapa murid perempuan di barisan depan. Bukti visual itu terlalu nyata untuk disangkal oleh siapapun di tempat ini.

Tetua Braja Biru mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Wajah keriputnya mengeras, memperlihatkan garis-garis ketegangan yang kentara. "Itu bisa saja rekayasa kalian berdua! Kalian mencuri cawan itu dari ruang penyimpanan dan mengolesinya dengan zat kimia tertentu untuk menjatuhkan nama baikku dan para tetua!"

"Kami tidak mencurinya, Tetua. Cawan ini kami temukan terkunci di ruang bawah tanah pribadi milikmu, bersama dengan botol kecil sisa cairan racun yang sama persis," sahut Kamil tanpa ragu sedikit pun.

Sebuah botol kaca kecil berukuran sejempol tangan dengan cairan bening di dalamnya diletakkan oleh Kamil di atas meja mimbar, tepat di sebelah cawan porselen tersebut. Sontak, wajah Tetua Braja Biru berubah kelam bagai badai. Botol itu adalah barang pribadi yang ia yakini disembunyikan di tempat paling aman di kediamannya.

Lihat selengkapnya