Udara malam di pelataran utama Perguruan Karang Biru terasa begitu pekat dan menyesakkan. Langit tertutup awan kelabu yang menggantung rendah, memantulkan cahaya merah temaram dari obor-obor bambu yang tertancap di sekeliling arena. Suasana yang tadinya dipenuhi kobaran amarah kini perlahan diselimuti kabut tipis berbau manis yang memabukkan. Bau itu meresap perlahan ke dalam pori-pori kulit, mengaburkan batas antara kawan dan lawan di mata para pendekar muda yang tengah bertikai.
Di tengah pelataran batu pualam yang basah oleh embun malam, Zahra berdiri tegak dengan napas sedikit memburu. Jemarinya yang lentik menggenggam erat sebuah bumbung bambu kecil berisi ramuan penawar racun halusinasi. Di sampingnya, Chafia bersiaga penuh, mengawasi pergerakan liar puluhan murid dari dua kubu yang kini saling mengacungkan pedang dengan mata menyala merah penuh kebencian semu.
"Bau kabut ini semakin kuat, Zahra," bisik Chafia tajam, matanya awas menatap bayangan-bayangan yang bergerak membabi buta di sekeliling mereka. "Jika kita terlambat sepersekian detik saja menyebarkan penawar ini, pengaruh racun serbuk bunga Matahari Hitam akan mengakar permanen di kesadaran mereka. Mereka benar-benar bisa saling membunuh sampai titik darah penghabisan."
Zahra mengangguk, sorot matanya menyiratkan ketegasan yang tidak boleh goyah. "Kita harus bergerak cepat membagi tugas. Racun ini dirancang khusus untuk memicu paranoia tingkat tinggi, membuat setiap orang melihat musuh di dalam diri saudara seperguruan mereka sendiri. Kita tidak punya banyak waktu sebelum tetua pengkhianat itu menyadari rencana kita gagal."
Di sekeliling mereka, erangan tertahan dan teriakan penuh amarah membahana. Murid-murid dari Kubu Utara dan Kubu Selatan saling berhadapan dengan kuda-kuda menyerang. Pandangan mereka kosong, terperangkap dalam ilusi bahwa rekan di sebelah mereka adalah monster haus darah yang menyamar.
"Maju kalian semua! Kubu Selatan tidak akan menyerah pada pengecut!" teriakan histeris seorang murid berambut diikat kain merah memecah keheningan malam. Ia mengayunkan pedangnya membabi buta ke arah udara kosong, sebelum akhirnya hampir menebas bahu temannya sendiri.
"Sadarlah! Kalian sedang diadu domba oleh racun!" Chafia berseru lantang, mencoba menerobos kebisingan suara benturan senjata logam. Namun, seruannya tenggelam di tengah hiruk-pikuk suasana yang semakin tak terkendali.
Zahra menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh. Ia membuka tutup bumbung bambu di tangannya, lalu melirik Chafia dengan isyarat mata yang penuh perhitungan. "Dalam hitungan ketiga, kita sebar serbuk penawar ini ke empat penjuru angin utama. Gunakan ilmu Langkah Angin agar penyebarannya merata ke seluruh pelataran."
"Satu..." Chafia mulai merapatkan kuda-kuda tubuhnya, menyiapkan tenaga dalam di telapak tangannya.
"Dua..." Zahra mengangkat bumbung bambunya lebih tinggi, membiarkan angin malam membantu tugas mereka.
"Tiga!"
❖ ❖ ❖
Dalam satu kedipan mata, Zahra dan Chafia melesat bersamaan bagai sepasang burung rajawali yang membelah kegelapan malam. Tubuh mereka berputar anggun di atas kepala para pendekar yang tengah beringas bertarung. Sambil melayang ringan, mereka menaburkan serbuk putih berkilau dari bumbung bambu ke setiap sudut pelataran utama.
Serbuk penawar itu bereaksi sangat cepat begitu bersentuhan dengan udara lembap malam. Butiran-butiran halus tersebut berubah menjadi asap putih tipis beraroma mint yang menyegarkan, langsung menghisap dan menetralkan kabut beracun yang sejak tadi mencengkeram akal sehat para murid perguruan.
"Uhuk! Bau apa ini?"
Seorang pendekar dari Kubu Utara yang tadinya hendak menghujamkan tombaknya mendadak menghentikan gerakannya. Ia terbatuk kecil saat asap putih itu masuk ke dalam saluran pernafasannya. Pandangannya yang tadinya memerah dan dipenuhi amarah perlahan-lahan menjernih, menampakkan kembali realitas di sekelilingnya.
Namun, proses penetralan itu tidak berjalan mulus tanpa hambatan. Di sisi barat pelataran, seorang ketua kelompok garis keras dari Kubu Selatan yang masih setengah sadar menganggap taburan asap tersebut sebagai serangan diam-diam.
"Serangan racun musuh! Jangan biarkan mereka mendekat!" teriak ketua kelompok itu dengan suara serak penuh kebencian palsu. Ia mengayunkan golok bermata dua dengan tenaga dalam penuh langsung ke arah Chafia yang sedang mendarat di dekatnya.
Chafia terkejut mendapati serangan mendadak itu. Ia terpaksa memutar tubuhnya secara ekstrem ke samping untuk menghindari tebasan golok yang menyambar angin dengan suara mendengus tajam.
Sret!
Ujung golok tersebut nyaris merobek lengan jubah kain hitam Chafia. Gadis itu mendarat dengan satu lutut menumpu di lantai batu pualam, napasnya sedikit tersengal akibat gerakan mendadak tersebut. "Bodoh! Lihatlah siapa yang sebenarnya ingin kautebas!" bentak Chafia dengan nada tinggi, mencoba menyadarkan pria di hadapannya.
Pendekar Kubu Selatan itu tertegun sejenak. Matanya mengerjap beberapa kali, mencoba fokus menatap wajah Chafia di bawah terangnya cahaya obor. "Chafia? Kau... bukan pendekar musuh?"
"Sadarlah! Kalian semua telah diracuni agar saling menghancurkan dari dalam!" seru Chafia sambil bangkit berdiri, menepis debu di pakaiannya dengan gerakan tegas.
Sementara itu, di sisi timur pelataran, Zahra harus menghadapi situasi yang tidak kalah pelik. Dua orang murid muda dari Kubu Utara menyerangnya secara serentak, terjebak dalam sisa-sisa halusinasi yang membuat mereka melihat Zahra sebagai bayangan musuh yang mengerikan.
Trang!
Zahra menangkis tusukan pedang murid pertama menggunakan sarung pedangnya dengan gerakan tangkas, lalu melompat mundur untuk menghindari hantaman telapak tangan murid kedua. Ia tidak ingin melukai junior-juniornya sendiri, karena ia tahu mereka tidak sepenuhnya sadar atas apa yang sedang mereka perbuat.
"Kalian berdua, dengarkan suara deru napasku!" ucap Zahra lembut namun penuh penekanan wibawa. Ia menyalurkan sedikit tenaga dalam ke dalam suaranya, menciptakan gelombang getaran menenangkan yang langsung menyusup ke gendang telinga siapa saja yang mendengarnya.