SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Perang Saudara di Puncak Lembah

Udara di Puncak Lembah Kabut Hitam terasa membeku, seolah-olah seluruh kehangatan di bumi telah tersedot habis oleh angin malam yang menderu ganas. Di bawah naungan langit kelam tanpa bintang, dua kubu pendekar dari Perguruan Tapak Langit berdiri saling berhadapan dalam jarak yang sangat dekat. Tidak ada lagi ruang untuk negosiasi, tidak ada lagi kata-kata damai yang bisa meredakan ketegangan. Yang tersisa hanyalah bilah-bilah pedang yang bergetar haus darah dan dengkingan aura permusuhan yang pekat mencengkeram jiwa siapa saja yang berada di sana.

Di tengah barisan musuh, berdirilah sosok Tetua Braja Biru. Jubah kebesarannya yang berwarna biru tua tampak berkibar liar diterpa angin badai, sementara sepasang matanya menyala merah terang bagaikan bara api di tengah kegelapan. Wajahnya yang tua kini berkerut kaku, dipenuhi oleh urat-urat kebiruan yang menonjol keluar akibat aliran racun Bunga Teratai Biru Gila yang telah merasuki seluruh aliran darah dan menguasai akal sehatnya. Ia tidak lagi terlihat seperti seorang petinggi perguruan yang bijaksana, melainkan sesosok monster haus kekuasaan yang siap mencabik-cabik siapapun yang berani merintangi jalannya untuk melarikan diri dari kepungan.

"Kalian semua adalah pengkhianat murahan yang tidak tahu diuntung!" suara Tetua Braja Biru menggelegar memecah keheningan malam, memantul di dinding-dinding tebing curam di sekeliling lembah. "Perguruan Tapak Langit ini adalah milikku! Darah dan nyawa kalian tidak ada artinya dibanding ambisiku!"

Di hadapannya, Zahra berdiri tegap dengan tangan menggenggam erat kantong kain berisi jarum perak dan ramuan penawar racun. Di sebelah kirinya, Chafia si pendekar pedang wanita berdiri melindungi dengan kuda-kuda kokoh, pedang peraknya memantulkan kilau dingin yang mematikan. Di belakang mereka berdua, puluhan murid dari faksi netral dan faksi utara bersatu padu membentuk barikade ketat, mengepung jalur pelarian Tetua Braja Biru dan para pengawal pribadinya.

"Kesadaranmu telah sepenuhnya dirusak oleh racun itu, Braja Biru!" seru Chafia dengan suara lantang, matanya tajam menatap musuh bebuyutannya. "Hari ini, pelarianmu berakhir di sini. Pertanggungjawabkan segala kejahatan dan pembunuhan berencana yang telah kau lakukan terhadap mendiang Ketua Perguruan!"

Tetua Braja Biru mendengus sinis, suaranya berubah menjadi gelak tawa menyeramkan yang membuat bulu kuduk merinding. "Pertanggungjawaban? Hukum rimba hanya mengenal satu kebenaran, Chafia: siapa yang paling kuat, dialah yang memegang hukum! Jika kalian bersikeras ingin mengantarkan nyawa, maka terimalah kematian yang mengerikan!"

Tanpa menunggu aba-aba lagi, Braja Biru mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Kepulan asap tipis berwarna biru kehitaman mulai menguar dari telapak tangannya, menyebarkan bau manis yang memuakkan ke udara sekitar. Para pengawal pribadi di belakangnya segera menghunus senjata masing-masing, bersiap menyambut perintah untuk mengamuk bersama sang tetua.

❖ ❖ ❖

Suasana di Puncak Lembah langsung berubah menjadi lautan kengerian begitu Tetua Braja Biru menghentakkan kakinya ke tanah. Batu-batu karang di bawah pijakannya pecah berkeping-keping akibat gelombang tenaga dalam yang sangat kuat. Para pengawal pribadi yang berjumlah dua belas orang bergerak serentak seperti sekawanan serigala kelaparan, menerjang ke depan tanpa memperdulikan keselamatan nyawa mereka sendiri. Mereka adalah pasukan khusus yang telah dicekokin dosis racun halusinasi tingkat tinggi, membuat mereka kehilangan rasa takut dan rasa sakit.

"Lindungi barisan belakang! Jangan biarkan mereka menembus formasi tabib!" komando Chafia dengan suara tegas, memberikan instruksi kepada para murid penjaga di sekitarnya.

Chafia melesat maju bagaikan kilat menyambar. Pedangnya berkelebat membentuk lingkaran pertahanan yang rapat, menangkis tebasan tombak dari pengawal pertama yang datang menyerang. Suara benturan logam berdengking nyaring, memercikan bunga api di tengah kegelapan malam. Chafia memutar tubuhnya dengan anggun namun mematikan, mengirimkan tendangan berputar yang berhasil menjatuhkan dua orang pengawal sekaligus ke atas tanah berbatu.

Namun, para pengawal pribadian Braja Biru bukanlah tandingan sembarangan. Begitu dua orang terjatuh, tiga orang lainnya langsung menggantikan posisi mereka dengan serangan bertubi-tubi yang mengarah ke titik-titik vital. Chafia terpaksa mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan terjangan tersebut, membuat gerakannya mulai sedikit melambat di bawah tekanan serangan yang begitu masif.

Di belakang garis pertahanan Chafia, Zahra tetap fokus memantau situasi sambil menyiapkan wadah ramuan penetral racun. Ia tahu betul bahwa kekuatan fisik semata tidak akan mampu meredam amukan orang-orang yang berada di bawah pengaruh Bunga Teratai Biru Gila. Mereka membutuhkan strategi khusus untuk melumpuhkan sistem saraf para penyerang tanpa harus membunuh mereka secara membabi buta.

"Chafia, tarik mundur sedikit ke kiri! Biarkan celah terbuka bagi mereka!" seru Zahra di tengah hiruk-pikuk suara pertarungan.

Chafia yang mempercayai insting tajam sahabatnya langsung melompat mundur sejauh dua meter, membuka celah tipis di tengah formasi pertempuran. Tiga orang pengawal pribadi yang terprovokasi langsung menerobos masuk melalui celah tersebut, mengira mereka berhasil mendesak pertahanan kedua gadis itu.

Namun, itu adalah perangkap yang sengaja disiapkan. Begitu ketiga pengawal itu melangkah masuk ke area yang ditentukan, Zahra melemparkan beberapa tabung bambu kecil ke lantai batu. Tabung tersebut pecah seketika dan melepaskan kepulan asap putih tebal beraroma kayu manis yang harum.

Asap tersebut langsung terhisap oleh para pengawal pribadi. Dalam hitungan detik, gerakan mereka yang tadinya beringas mendadak melambat. Mata mereka mendelik sayu, dan keseimbangan tubuh mereka goyah sebelum akhirnya ambruk beruntun ke tanah, tertidur lelap dalam pengaruh obat bius kuat buatan Zahra.

Melihat pasukannya tumbang dalam sekejap, kemarahan Tetua Braja Biru mencapai puncaknya. Ia menggeram tertahan, urat-urat di lehernya semakin membesar dan berubah warna menjadi kehitaman yang pekat. Aura permusuhan yang memancar dari tubuhnya terasa begitu menyesakkan dada, membuat udara di sekitar puncak lembah serasa mendidih.

❖ ❖ ❖

"Kalian benar-benar sekumpulan tikus yang merepotkan!" bentak Tetua Braja Biru dengan suara yang parau dan menggelegar.

Tanpa menunggu pengawalnya yang tersisa, Braja Biru melangkah maju secara perlahan. Setiap langkah kakinya meninggalkan jejak hangus kehitaman di atas rumput dan batu yang diinjaknya—sebuah bukti nyata dari tingkat penguasaan ilmu hitam yang telah menyatu dengan racun di dalam tubuhnya. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, dan dalam sekejap, kepulan api biru yang dingin menyelimuti kedua telapak tangannya.

Zahra dan Chafia merasakan hawa dingin yang luar biasa menusuk tulang begitu ilmu tersebut dikeluarkan. Mereka tahu persis apa nama jurus mematikan itu dari naskah kuno perguruan yang pernah mereka pelajari di ruang arsip rahasia.

"Itu... Pukulan Teratai Biru Melukai Jiwa!" desis Chafia dengan wajah pucat, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia tahu bahwa jurus tersebut adalah ilmu terlarang tingkat tinggi yang diciptakan untuk menghancurkan organ dalam dan merusak jiwa lawan secara perlahan tanpa meninggalkan bekas luka luar yang besar.

Lihat selengkapnya