SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Panah Angin Pemutus Sumpah Palsu

Malam di Lembah Bayangan Hitam menyisakan pekat yang menyesakkan dada. Kabut tebal merayap naik dari dasar jurang, melilit pepohonan tua yang meranggas bagai jari-jari kurus pencari mangsa. Di tengah tanah lapang yang dikelilingi tebing batu cadas, sebuah pertempuran sengit tengah mencapai puncaknya. Benturan senjata tajam dan desingan angin akibat pengerahan tenaga dalam menciptakan gelombang kejut yang membuat dedaunan di sekitar arena beterbangan liar.

Setya dan Arya berdiri berdampingan di tengah lingkaran para pengkhianat dari Perguruan Langit Utara. Napas kedua pendekar muda itu memburu, keringat bercampur debu mengalir deras di pelipis mereka. Jubah putih yang biasa mereka kenakan kini robek di sana-sini dan ternoda oleh noda darah kering. Di hadapan mereka, kelompok bayangan hitam pimpinan Braja Biru menyeringai tajam, menatap keduanya bagai sekawanan serigala kelaparan yang siap menerkam mangsa terakhirnya.

"Kalian tidak akan bisa keluar dari lembah ini hidup-hidup, Setya!" suara Braja Biru melengking dingin, membelah keheningan malam. Ia memegang pedang bermata dua yang memantulkan pendaran cahaya kebiruan yang mematikan. "Sumpah setia yang kalian ucapkan di hadapan para leluhur sudah tidak ada artinya lagi. Perguruan Langit Utara kini berada di bawah kendali kami!"

"Sumpah tidak akan pernah kehilangan makna hanya karena dikhianati oleh orang-orang pengecut sepertimu, Braja!" balas Setya tajam, mencengkeram gagang pedangnya semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Kau menjual kehormatan perguruan demi kekuasaan semu yang diberikan oleh Lembah Hitam! Kami di sini untuk membersihkan nama baik para leluhur!"

Arya melirik sekilas ke arah sahabatnya, lalu menatap tajam ke barisan musuh di depan mereka. "Jangan banyak bicara dengan pengkhianat, Setya. Mereka sudah lama kehilangan nurani. Siapkan dirimu, mereka mulai bergerak."

Betul apa yang dikatakan Arya. Braja Biru mengangkat pedang ke udara sebagai aba-aba. Tanpa suara, lima orang pendekar bayangan di bawah komandonya melesat maju secara bersamaan, mengandalkan kecepatan tingkat tinggi untuk melumpuhkan pertahanan Setya dan Arya dari berbagai arah.

Setya langsung mengerahkan jurus Bayang Angin Utara, melompat tinggi sambil menebaskan pedangnya membentuk lingkaran cahaya perak yang menyambut hantaman musuh dari depan. Sementara itu, Arya memutar tongkat baja di tangannya, menciptakan perisai angin puyuh yang menepis tebasan bertubi-tubi dari dua pendekar bayangan di sisi kanan. Benturan logam beradu nyaring, memercikkan bunga api di kegelapan malam yang pekat.

Pertempuran berlangsung sangat cepat dan mematikan. Setya dan Arya bahu-membahu menangkis setiap serangan mematikan yang datang silih berganti. Namun, jumlah musuh yang terlalu banyak mulai menguras tenaga kedua pemuda itu. Di atas tebing batu yang menjulang tinggi, sekitar lima puluh meter dari arena pertarungan bawah, Azalia dan Risha mengamati jalannya pertempuran dengan mata awas dan jantung berdegup kencang.

"Mereka mulai terdesak, Risha," bisik Azalia cemas, jemarinya meraba tabung panah di punggungnya.

"Tenanglah, Azalia. Kita tunggu momentum yang tepat," jawab Risha tegas, mengeluarkan busur pusaka berukir naga dari balik jubahnya.

❖ ❖ ❖

Di bawah sana, situasi semakin berbahaya bagi Setya dan Arya. Braja Biru, yang sedari tadi mengamati celah dalam pertahanan kedua pendekar muda itu, perlahan-lahan merangsek maju tanpa menarik perhatian. Gerakannya sangat senyap, memanfaatkan bayangan batu besar dan pekatnya kabut malam untuk menyusup ke belakang punggung Setya dan Arya yang sedang sibuk meladeni serangan frontal dari para anak buahnya.

"Setya, waspada di sebelah kiri!" teriak Arya memperingatkan saat melihat salah satu musuh hampir melayangkan tusukan ke arah rusuk sahabatnya.

Setya berputar cepat, menebaskan pedangnya secara mendatar dan merobohkan musuh tersebut dalam satu gerakan. Namun, kelengahan sepersekian detik itu dimanfaatkan sepenuhnya oleh Braja Biru. Pimpinan pengkhianat tersebut menyeringai lebar, matanya memancarkan niat membunuh yang pekat. Ia keluar dari balik bayangan pohon, mengangkat pedang kebiruannya tinggi-tinggi untuk melancarkan serangan kejutan mematikan yang diarahkan langsung ke punggung Setya dan Arya yang sedang membelakangi posisinya.

"Matilah kalian, pendekar bodoh!" geram Braja Biru dalam hati, mengalirkan seluruh tenaga dalamnya ke ujung bilah pedang.

Dari atas tebing perbukitan, Azalia dan Risha melihat gerakan licik tersebut dengan jelas. Jarak mereka memang cukup jauh, namun pelatihan memanah jarak jauh yang mereka tempuh selama bertahun-tahun membuat mereka mampu membaca arah angin dan target dengan akurasi yang luar biasa tinggi.

"Lihat itu! Dia mengincar mereka dari belakang!" seru Azalia dengan nada panik, langsung menarik busurnya setengah jalan.

"Jangan panik, Azalia! Tarik napasmu, fokus pada target!" instruksi Risha dengan suara tenang namun penuh wibawa. Gadis itu sudah membidikkan anak panahnya ke arah pergelangan tangan kanan Braja Biru yang memegang pedang.

Azalia mengangguk cepat. Ia memejamkan matanya sejenak untuk meresapi desir angin malam, lalu membuka matanya kembali dengan tatapan tajam setajam mata panah. Dalam satu tarikan napas yang sama, mereka berdua mengalirkan tenaga dalam ke ujung anak panah masing-masing, membuat bulu panah tersebut berpendar mengeluarkan cahaya kehijauan yang lembut namun bertenaga.

"Sekarang!" teriak Risha.

❖ ❖ ❖

Dua anak panah melesat membelah udara malam bagai bintang jatuh yang memancarkan garis cahaya hijau. Kecepatan lesatan anak panah itu jauh melampaui kecepatan suara, menembus kabut tebal di lembah dengan presisi yang mengerikan.

Di arena bawah, Braja Biru sudah mengangkat pedangnya tinggi-tinggi, siap menghujamkan mata pedang kebiruan itu tepat ke punggung Setya yang sedang fokus menghadapi dua musuh di depannya. Arya, yang matanya menangkap kilatan cahaya dari sudut pandang ekor matanya, berteriak memperingatkan, namun jarak yang terlalu dekat membuat mereka tidak sempat menghindar secara konvensional.

Lihat selengkapnya