SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Hawa Keemasan Pembakar Hasad

Udara di pelataran utama markas besar terasa membeku, seolah seluruh oksigen tersedot habis oleh aura kematian yang dilepaskan oleh Tetua Braja Biru. Di hadapan ribuan pasang mata anggota organisasi yang terpaku, lelaki tua itu berdiri dengan seringai mengerikan di bibirnya. Kedua telapak tangannya mengeluarkan uap hitam pekat yang berbau busuk seperti bangkai binatang dan logam berkarat. Itu adalah manifestasi dari Pukulan Hati Bangkai, ilmu terlarang tingkat tinggi yang mampu membekukan aliran darah dan membusukkan organ internal lawan dalam hitungan detik.

"Kau pikir selembar surat wasiat murahan bisa menyelamatkan nyawamu, anak muda?" suara Braja Biru bergemerincing dingin, memecah kesunyian malam yang pekat. Setiap kata yang meluncur dari mulutnya mengandung getaran tenaga dalam yang membuat beberapa anggota muda di barisan depan menutup telinga karena kesakitan.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia mengambil satu langkah tegap ke depan, memposisikan dirinya tepat di antara Braja Biru dan kerumunan anggota organisasi yang masih diliputi rasa bimbang. Tatapan matanya tenang, sedingin es, namun di dalam dada pemuda itu, sebuah tungku pembakaran mahadassyat tengah bergemuruh hebat. Dendam kesumat atas kematian sang ayah angkat dan kehancuran yang ditimbulkan oleh pengkhianat ini menyatu dengan aliran tenaga dalam yang selama bertahun-tahun ia latih secara tersembunyi.

"Bukan surat wasiat itu yang akan mengakhiri riwayatmu, Braja Biru," ucap Arka akhirnya, suaranya pelan namun terdengar jelas dan menggema di setiap sudut pelataran. "Tetapi dosa-dosamu sendiri yang telah menumpuk selama puluhan tahun."

"Sombong!" bentak Braja Biru.

Tanpa buang waktu lagi, sang tetua pengkhianat melesat maju bagai bayangan iblis malam. Kecepatannya luar biasa, meninggalkan jejak embun hitam di atas lantai batu yang diinjaknya. Dalam sekejap, ia sudah berada tepat di hadapan Arka. Telapak tangannya yang diselimuti uap hitam beracun langsung menghantam ke arah dada Arka dengan kekuatan penuh, berniat menghancurkan jantung pemuda itu dalam sekali pukul.

Angin badai beracun berhembus kencang, menerbangkan jubah Arka dan membuat orang-orang di sekitar menahan napas ngeri. Namun, alih-alih menghindar atau mundur, Arka justru menegakkan dadanya. Ia mengangkat tangan kanannya perlahan, membentuk gestur tapak terbuka dengan jari-jari yang lentur menyerupai kuntum bunga teratai yang hendak mekar di tengah fajar.

ZING!

Seketika itu juga, sebuah pendar cahaya kuning keemasan yang sangat menyilaukan meledak dari tubuh Arka. Hawa panas yang luar biasa menyengat langsung menyebar ke sekeliling, menguapkan embun hitam beracun yang tadinya mendominasi udara. Itu adalah pancaran murni dari Pendekar Teratai Emas, ilmu legendaris yang selama ini dikira telah punah bersama gugurnya sang pendiri utama organisasi.

Hawa panas keemasan itu berbenturan langsung dengan hawa dingin beracun milik Braja Biru di udara terbuka. Dentuman energi yang dahsyat menciptakan gelombang kejut kasatmata, memancarkan percikan api kecil dan suara mendesis yang memekakkan telinga.

"Ilmu itu... tidak mungkin!" teriak Braja Biru dengan mata terbelalak lebar, wajahnya mendadak pucat pasi saat merasakan hawa panas keemasan tersebut mulai membakar kulit telapak tangannya sendiri.

❖ ❖ ❖

"Ilmu warisan leluhur yang kau curi dan kotori dengan darah tidak akan pernah bisa menandingi kemurnian sejati, Braja Biru," seru Arka dengan suara penuh wibawa.

Gelombang cahaya keemasan dari tubuh Arka semakin membesar, membentuk siluet kelopak bunga teratai raksasa yang mengitari tubuhnya. Hawa panas yang dipancarkannya bukan sekadar energi biasa, melainkan manifestasi dari semangat keadilan dan kejujuran yang membakar setiap niat jahat. Uap hitam beracun yang tadinya mengepung perlahan-lahan terpental mundur, tidak sanggup menahan teriknya pancaran energi keemasan tersebut.

Braja Biru menggeram tertahan, mengerahkan seluruh sisa tenaga dalamnya untuk menekan telapak tangannya lebih kuat lagi. Urat-urat di leher dan pelipis lelaki tua itu menonjol keluar, menunjukkan betapa besar tekanan yang harus ia tanggung saat berhadapan langsung dengan kekuatan Pendekar Teratai Emas.

"Jangan besar kepala, bocah tengik!" geram Braja Biru penuh amarah. "Kau baru mempelajari dasar-dasarnya! Kau tidak akan pernah bisa mengalahkan pengalaman puluhan tahun milikku!"

Dengan sebuah teriakan nyaring, Braja Biru mengerahkan jurus pamungkas kedua dari Pukulan Hati Bangkai. Tubuhnya berputar cepat di udara, mengubah kepulan uap hitam menjadi puluhan jarum gaib beracun yang meluncur deras menyerang seluruh titik vital di tubuh Arka. Serangan itu datang dari berbagai arah, sangat cepat dan mematikan.

Arka menyipitkan matanya. Ia tidak sedikit pun kehilangan fokus. Jemarinya bergerak lincah membentuk pola lingkaran di udara, memanggil seluruh hawa keemasan untuk berpusat di telapak tangannya.

"Teratai Membelah Badai!" gumam Arka pelan.

BAM! BAM! BAM!

Puluhan jarum gaib beracun yang dilepaskan Braja Biru menghantam perisai cahaya keemasan yang diciptakan Arka. Alih-alih menembus pertahanan, jarum-jarum tersebut seketika meleleh dan menguap menjadi asap putih begitu bersentuhan dengan pendar panas keemasan. Tidak ada satupun jarum yang mampu menyentuh kulit Arka.

Melihat serangan andalannya dimentahkan dengan begitu mudah, Braja Biru terhuyung mundur dua langkah ke belakang. Napasnya mulai tersengal-sengal, dan peluh dingin bercampur jelaga hitam mengalir deras di wajahnya yang keriput.

"Bagaimana mungkin... tingkat kultivasimu bisa mencapai tahap ini dalam waktu singkat?" tanya Braja Biru tidak percaya, suaranya bergetar hebat di antara rasa terkejut dan dengki yang membakar dadanya.

"Karena hasad dan ambisi busukmu telah membuat jiwamu rapuh, Braja Biru," jawab Arka tajam, melangkah maju mendekati sang tetua dengan tatapan penuh ketegasan. "Orang yang dikendalikan oleh kebencian tidak akan pernah bisa mencapai puncak tertinggi dari ilmu bela diri sejati."

Di barisan penonton, para anggota dewan dan ribuan anggota organisasi terperangah menyaksikan pemandangan tersebut. Mereka yang tadinya ragu kini melihat secara langsung bagaimana keunggulan moral dan kekuatan murni menundukkan kelicikan sang pengkhianat.

❖ ❖ ❖

"Jangan dengarkan omong kosongnya!" jerit Braja Biru histeris, kepanikannya mulai mengalahkan akal sehatnya. Ia tahu bahwa jika pertarungan ini berlarut-larut, tenaga dalamnya akan terkuras habis oleh hawa panas keemasan Arka yang terus-menerus mendesak pertahanannya.

Braja Biru merogoh saku jubah bagian dalamnya dengan tangan yang bergetar hebat. Ia mengeluarkan sebuah pil merah darah berukuran sebesar biji kemiri—pil pengobar jiwa terlarang yang mampu melipatgandakan kekuatan tenaga dalam dalam waktu singkat, namun dengan bayaran hancur leburnya meridian tubuh setelah efek obat itu habis.

Lihat selengkapnya