Malam di Padang Candrakanta menyisakan aroma anyir darah yang begitu pekat, bercampur dengan debu panas yang mengepul dari sisa-sisa benturan senjata tajam. Di tengah gelapnya gulita malam yang hanya diterangi oleh nyala obor dari kejauhan, ketegangan menyergap setiap sudut perkemahan darurat Perguruan Teratai Biru. Suara desau angin malam berpadu dengan deru napas berat para murid yang terluka, menciptakan simfoni kepedihan yang menyayat hati. Perang saudara yang dipicu oleh pengkhianatan faksi internal kini telah merambah hingga ke jantung pertahanan terakhir mereka.
Di bawah naungan tenda utama yang koyak, Arya dan Setya berdiri bersandar pada pilar kayu yang hampir patah. Wajah kedua pemuda itu pucat pasi, bukan hanya karena kelelahan fisik yang mendera tubuh mereka selama berhari-hari pelarian, tetapi juga karena shock luar biasa melihat kehancuran yang melanda saudara-saudara seperguruan mereka sendiri. Di hadapan mereka, barisan bayangan hitam mulai mendekat dengan langkah senyap namun mematikan. Para pengawal rahasia dari Pasukan Braja Biru, faksi pembelot yang dipimpin oleh para tetua sesat, telah menyusup masuk melalui celah pertahanan belakang. Niat mereka satu: melenyapkan pewaris sah ajaran Teratai Biru tanpa sisa.
"Setya, lindungi gulungan pusaka itu dengan nyawamu," bisik Arya dengan suara bergetar, tangannya erat mencengkeram hulu pedang yang sudah tumpul dan bernoda darah kering.
"Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian, Arya," balas Setya tajam, matanya menyalang menatap kegelapan di luar tenda, bersiap menghadapi maut yang datang menjemput.
Tiba-tiba, dari balik kegelapan malam, kilatan baja menyambar dengan kecepatan luar biasa. Seorang pengawal Braja Biru melompat menerjang lewat celah tenda yang terkoyak, mengarah langsung ke punggung Setya yang sedang melindungi Arya. Serangan bokongan itu datang begitu cepat, tanpa suara, memanfaatkan kelengahan sesaat akibat kepanikan massal. Setya terlambat menyadari bahaya yang mengancam nyawanya dari arah belakang.
Sebelum mata pedang beracun itu sempat merobek tubuh Setya, dua sosok bayangan raksasa melesat bagaikan badai dari samping. Fathan dan Galin, yang dikenal sebagai dua benteng perkasa Perguruan Teratai Biru, merangsek masuk ke jalur serangan. Dengan mengandalkan ketahanan fisik luar biasa dan tekad baja yang tidak tergoyahkan, Fathan dan Galin berdiri tepat di hadapan Arya dan Setya, menjadikan tubuh mereka sebagai perisai hidup bagi rekan-rekan mereka.
"Menyingkirlah dari jalan kami, pengkhianat!" bentak sang pembunuh bayaran dengan suara serak yang mengerikan.
Sabetan pedang bermata ganda yang dilancarkan oleh sang pengawal Braja Biru menghujam telak tanpa ampun. Sabetan maut itu merobek kain tebal pakaian Fathan dan Galin, menembus kulit dan daging dada kedua pemuda berbadan tegap tersebut dalam satu ayunan keji. Darah segar seketika menyembur, membasahi tanah berdebu di bawah kaki mereka. Suara rintihan tertahan lolos dari bibir Fathan, sementara Galin menggigit bibirnya hingga berdarah demi menahan rasa sakit yang luar biasa hebat akibat koyakan logam panas di dadanya.
Meskipun menderita luka tebasan yang sangat parah di bagian dada, Fathan dan Galin sedikit pun tidak mundur ke belakang. Mereka justru merentangkan tangan mereka lebar-lebar, menutup rapat jalur akses menuju tempat Arya dan Setya berdiri. Keteguhan jiwa kedua benteng perkasa ini memancarkan wibawa yang begitu kuat, membuat sang pembunuh bayaran tertegun sejenak, ragu untuk melanjutkan tusukan maut berikutnya.
❖ ❖ ❖
"Fathan! Galin!" jerit Arya tertahan, suaranya pecah oleh kombinasi rasa bersalah, ketakutan, dan kepedihan yang teramat sangat. Ia hendak melangkah maju untuk menopang tubuh kedua sahabatnya itu, namun Setya segera menarik lengannya kuat-kuat, menahan pergerakan Arya agar tidak memperburuk situasi.
"Jangan sia-siakan pengorbanan mereka, Arya!" seru Setya dengan napas memburu, air mata menetes di pipinya yang kotor oleh debu mesiu. "Fathan dan Galin mempertaruhkan nyawa agar kita bisa menyelamatkan rahasia perguruan ini!"
Di hadapan mereka, Fathan terhuyung ke depan akibat kehilangan banyak darah, namun ia tetap menegakkan tubuhnya dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya. Tangannya yang berlumuran darah mencengkeram erat tiang tenda untuk menjaga keseimbangannya. Di sampingnya, Galin memuntahkan darah segar, namun sorot matanya tajam menghunjam menembus kegelapan malam, menatap para pengawal Braja Biru dengan keberanian yang membuat bulu kuduk musuh merinding.
"Kalian... tidak akan pernah bisa... meruntuhkan Teratai Biru selama kami masih bernapas," desis Fathan dengan suara berat yang terengah-engah, setiap kata yang diucapkannya terasa seperti menelan serpihan kaca yang membakar kerongkongannya.
Sang pengawal Braja Biru mendengus sinis, meskipun ada keraguan yang mulai merayap di dalam dadanya melihat keteguhan luar biasa dari dua orang yang seharusnya sudah tumbang itu. "Kalian hanya sekumpulan orang bodoh yang mati demi sia-sia! Maju! Habisi mereka semua!" teriak sang pembunuh kepada rekan-rekannya yang lain di luar tenda.
Mendengar teriakan itu, beberapa pengawal tambahan bersiap menerjang masuk dari berbagai sisi, membawa bilah pedang berkilat yang siap merenggut nyawa siapa saja di dalam tenda. Suasana di dalam kemah darurat itu mendadak menjadi sangat menyesakkan. Ketegangan mencapai puncaknya ketika bayangan-bayangan musuh mulai mengepung dari segala arah, menciptakan lingkaran maut di sekeliling Fathan, Galin, Arya, dan Setya.
Galin menoleh sekilas ke arah Arya dan Setya di belakangnya. Senyuman tipis tersungging di bibirnya yang pucat, menyiratkan ketulusan persaudaraan yang melampaui batas-batas kepentingan kelompok yang selama ini memecah belah perguruan. "Ingat... persaudaraan kita... adalah kekuatan sejati... Teratai Biru," bisik Galin lirih kepada kedua sahabatnya yang terpaku dalam duka mendalam.