SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #20

Mekarnya Keadilan di Puncak Biru

Langit Puncak Biru di fajar hari menyibak tirai kelamnya dengan semburat jingga kemerahan yang memantul megah di atas hamparan awan putih. Di tengah pelataran utama Perguruan Teratai Biru, angin pagi bertiup kencang, menerbangkan ujung jubah para pendekar yang berdiri dalam ketegangan tingkat tinggi. Suasana begitu hening, seolah alam sendiri menahan napas menyaksikan detik-detik penentuan nasib dunia persilatan. Di hadapan ribuan pasang mata, Arka berdiri tegak dengan tatapan mata setajam elang. Napasnya teratur, memancarkan ketenangan batin yang luar biasa, sementara di hadapannya, Tetua Braja Biru berdiri dengan seringai mengerikan dihiasi aliran darah hitam pekat dari sudut bibirnya.

"Arka, bocah kurang ajar!" suara Braja Biru bergetar hebat, dipenuhi amarah yang membakar ubun-ubun. "Kau pikir dengan ilmu setengah matang itu kau bisa meruntuhkan dominasi Cabang Selatan yang telah kuangunkan selama puluhan tahun?!"

Braja Biru merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Seketika itu juga, kepulan asap hitam pekat berbau busuk meletup dari pori-pori kulitnya, membentuk gelombang energi sesat yang meretakkan lantai batu pualam di sekitarnya. Jurus Cakar Iblis Penghancur Jiwa miliknya berada di ambang batas maksimal, siap meremukkan siapa pun yang berani menghalangi jalan kekuasaannya. Di bawah pengaruh ilmu hitam tingkat tinggi itu, bayangan-bayangan mengerikan berbentuk roh penasaran tampak berkelebat di sekeliling tubuh sang pengkhianat, menebarkan teror psikologis yang membuat beberapa murid muda perguruan bergidik ngeri dan mundur teratur.

"Kesombonganmu telah menutup mata hatimu sendiri, Tetua Braja," jawab Arka dengan suara berat yang menggema tenang, membelah desau angin pagi. "Kau mengkhianati kepercayaan guru, membunuh saudara seperguruanku, dan menjual kehormatan Teratai Biru kepada kaum sesat. Hari ini, di tempat suci ini, riwayat kebejatanmu harus diakhiri."

"Omong kosong!" bentak Braja Biru. Tanpa membuang waktu lagi, ia melesat maju bagaikan kilat hitam beracun. Kecepatannya luar biasa, memanfaatkan angin puyuh kegelapan untuk mengecoh pandangan mata. Dalam sekejap, ia sudah berada tepat di depan Arka, mengayunkan cakar hitamnya yang siap merobek dada pemuda itu menjadi berkeping-keping.

Para murid di pinggir pelataran menahan napas, beberapa di antaranya bahkan menutup mata karena ngeri melihat kecepatan serangan maut tersebut. Namun, Arka tidak sedikit pun bergeming dari tempatnya berdiri. Ia menunggu saat yang paling tepat, menyatukan seluruh kesadaran spiritualnya dengan aliran tenaga dalam murni yang mengalir deras di dalam meridian tubuhnya.

❖ ❖ ❖

Sesaat sebelum cakar hitam Braja Biru menyentuh kulit dadanya, Arka bergerak secepat kilat. Ia tidak menghindar, melainkan melangkah maju setengah langkah, memutar tubuhnya dengan anggun namun penuh tenaga, lalu mengibaskan telapak tangan kanannya untuk menepis hantaman maut tersebut.

BARRR!

Dentuman keras menggelegar dahsyat, menciptakan gelombang kejut angin puyuh yang menyapu debu pelataran hingga membubung tinggi ke udara. Arka terdorong mundur tiga langkah ke belakang, sementara Braja Biru terpental sejauh lima langkah dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah pucat pasi.

"Ugh... tenaga dalam macam apa ini?!" geram Braja Biru, merasakan getaran hebat menjalar dari telapak tangannya hingga ke seluruh tulang belikatnya. Ia merasa seolah-olah baru saja menghantam dinding baja yang dilapisi api murni.

"Tenaga dalam yang bersumber dari kemurnian niat dan kebenaran," ucap Arka dingin, mengangkat tangan kanannya perlahan. Di telapak tangan pemuda itu, pendar cahaya putih keemasan mulai berpijar terang, perlahan-lahan membentuk siluet kelopak bunga teratai yang berputar perlahan dengan keindahan yang menyilaukan mata. "Kau telah menyimpang terlalu jauh dari ajaran leluhur, Braja Biru. Kegelapan yang kau pelihara tidak akan pernah bisa menandingi cahaya suci yang dijaga oleh tekad suci perguruan ini."

"Jangan sombong, anak muda!" murka Braja Biru. Ia mengerahkan seluruh sisa tenaga hitamnya, membakar umur hidupnya sendiri demi melipatgandakan kekuatan jurus sesatnya. Tubuhnya kini diselimuti oleh kobaran api hitam legam yang menderu-deru. "Terimalah kematianmu dalam neraka keabadian!"

Braja Biru kembali menerjang, kali ini dengan serangan gabungan sepuluh jurus cakar maut yang dilancarkan dalam satu detik penuh. Udara di sekitar mereka terasa mendidih oleh hawa panas beracun, membuat dedaunan di pohon-pohon sekitar pelataran layu dan menghitam seketika.

Arka menyipitkan matanya. Ia tahu bahwa pertarungan ini tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Jika tenaga hitam Braja Biru berhasil mencemari udara Puncak Biru lebih lama lagi, dampaknya akan sangat buruk bagi para murid muda yang masih menyaksikan. Arka mulai memusatkan seluruh pikirannya, menarik napas dalam-dalam untuk menyelaraskan aliran energi di titik pusar energinya.

"Arka, berhati-hatilah!" seru Dyah dari barisan penonton, cemas melihat bayangan hitam kini telah mengurung sekujur tubuh pemuda itu dalam lingkaran kematian.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan senyuman kecil menenangkan kepada gadis itu, lalu menutup kedua matanya sejenak, membiarkan aliran darah dan tenaga dalam sucinya mengalir tanpa hambatan, bersiap melancarkan jurus paling agung yang diwariskan secara turun-temurun di Perguruan Teratai Biru.

❖ ❖ ❖

Detik berikutnya, Arka membuka matanya. Sepasang bola matanya kini memancarkan cahaya keemasan yang terang benderang, menembus kegelapan asap hitam yang dilepaskan oleh Braja Biru. Ia mengangkat kedua tangannya ke depan dada, merentangkan jemarinya bagaikan kelopak bunga yang bersiap menyambut terbitnya fajar.

"Matahari Teratai Agung..." bisik Arka pelan, namun suaranya terdengar sangat jelas dan bergema di setiap sudut hati orang-orang yang mendengarnya.

Lihat selengkapnya