SERI 8: KEMELUT TERATAI BIRU

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Tumbangnya Sang Pengkhianat Tahta

Halaman utama Perguruan Teratai Biru mendadak berubah menjadi lautan keheningan yang mencekam. Angin malam yang bertiup kencang membawa serta aroma abu kebakaran dan bau amis darah dari sisa-sisa pertempuran sengit yang baru saja reda. Di tengah pelataran batu pualam yang retak, sosok Braja Biru—pria yang selama ini dikenal sebagai bayangan kelam di balik perpecahan perguruan—berdiri terhuyung-huyung dengan jubah biru tua yang kini compang-camping dan ternoda darah segar.

Setya berdiri tegak beberapa langkah di depan sang pengkhianat, pedang panjang di tangannya masih memancarkan pendar cahaya keperakan yang tipis. Napas Setya memburu, sementara keringat bercampur debu mengalir deras di pelipisnya. Di sisi lain, Arya melangkah mendekat dengan langkah berat, matanya menatap tajam penuh amarah sekaligus kelegaan yang mendalam.

"Semuanya sudah berakhir, Braja Biru," suara Setya memecah keheningan malam, terdengar berat namun tegas menggema di antara reruntuhan bangunan aula utama. "Kekuatanmu telah runtuh, pasukan bayaranmu telah kocar-kacir melarikan diri, dan rahasia kelammu kini telah terbongkar di hadapan seluruh tetua serta murid perguruan."

Braja Biru mengangkat wajahnya perlahan. Di balik sisa-sisa topeng peraknya yang hancur berkeping-keping, tampak senyuman getir tersungging di bibirnya yang pucat. Ia tertawa kecil—sebuah tawa hampa yang menyiratkan keputusasaan yang teramat sangat.

"Kau pikir kemenangan ini milik kalian seutuhnya, Setya?" geram Braja Biru dengan suara serak, batuk kecil menyusul di sela kalimatnya, memuntahkan cairan merah pekat ke atas batu pualam. "Kalian hanya melihat apa yang ingin kalian lihat. Perguruan ini sudah busuk dari dalam jauh sebelum aku menjejakkan kaki di lembah ini."

"Jangan mencoba memutarbalikkan fakta, Braja Biru!" seru Arya dengan suara bergetar menahan emosi yang meluap-luap. Arya mencengkeram erat hulu pedangnya, hampir saja melompat maju jika saja Setya tidak mengulurkan tangan kiri untuk menahannya. "Kau mengkhianati guru besar, meracuni pikiran para murid muda, dan memecah belah persaudaraan kita demi ambisi rendahanmu untuk menduduki tahta ketua perguruan!"

Suasana di sekitar pelataran semakin menegang. Ratusan murid Teratai Biru yang selamat dari pertempuran berkerumun di balik pilar-pilar yang tersisa, menyaksikan detik-detik kejatuhan sang pengkhianat dengan napas tertahan. Tidak ada suara bisikan; semuanya fokus pada pusat arena tempat takdir perguruan sedang ditentukan malam itu.

Braja Biru menarik napas panjang, rongga dadanya naik turun dengan kasar. Ia menatap berkeliling ke arah para murid yang memandangnya dengan tatapan benci dan kecewa. Kesombongan yang selama ini melekat pada dirinya perlahan runtuh, menyisakan kerapuhan seorang manusia yang dikuasai oleh keserakahan.

"Aku... aku hanya ingin membuat perguruan ini menjadi yang terkuat di tanah persilatan," bisik Braja Biru lirih, pandangannya mulai kabur. "Tetapi ambisiku sendiri... telah membutakan mataku."

❖ ❖ ❖

Pengakuan pelan itu menggema di tengah reruntuhan, namun tidak ada rasa iba yang terpancar dari wajah para saksi mata. Setya menatap tajam pria paruh baya di hadapannya itu dengan perasaan campur aduk antara amarah, iba, dan rasa kehilangan yang teramat besar atas apa yang telah dihancurkan oleh pengkhianatan tersebut.

"Pengakuanmu tidak akan pernah bisa mengembalikan nyawa para murid yang gugur malam ini, Braja Biru," kata Setya dengan nada dingin yang menusuk kalbu. "Kerusakan yang kau perbuat membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dipulihkan."

Braja Biru mendengus pelan, lututnya mulai bergetar hebat tak mampu lagi menopang berat tubuhnya sendiri. "Aku tahu... aku tidak meminta pengampunan dari kalian. Aku tahu dosaku terlalu besar untuk ditebus dengan kata-kata manis."

Tiba-tiba, tubuh Braja Biru terhuyung ke depan. Kaki kanannya menyerah, dan dalam hitungan detik, sang pengkhianat besar itu jatuh berlutut di hadapan Setya dan Arya di atas lantai pualam yang dingin. Pedang pendek yang selama ini diandalkannya terlepas dari genggaman, berdenting nyaring saat menghantam batu dan menggelinding menjauh.

Arya melangkah maju, pedangnya diarahkan tepat ke leher Braja Biru yang tertunduk lesu. "Berlututlah selamanya di atas tanah ini, dan sesali semua kejahatan yang telah kau lakukan terhadap keluarga besar Teratai Biru!"

"Arya, tahan dirimu," tegur Setya lembut namun tegas, menepuk bahu saudaranya itu untuk menurunkan bilah pedang dari leher sang musuh yang sudah tak berdaya. "Kita adalah pendekar penegak keadilan, bukan algojo yang membunuh musuh yang sudah menyerah."

Braja Biru mendongakkan kepalanya perlahan, menatap Setya dengan sorot mata yang dipenuhi kebingungan. "Kenapa... kenapa kau tidak membunuhku sekarang juga, Setya? Setelah semua penderitaan yang kubawa ke perguruan ini?"

"Karena kematianmu terlalu mudah untuk menebus semua kesalahan itu," jawab Setya dengan tenang. "Kau harus hidup, Braja Biru. Kau harus menyaksikan bagaimana perguruan ini bangkit kembali dari abu kehancuran, dan bagaimana persaudaraan kami jauh lebih kuat daripada kebencian yang coba kau tanamkan."

Mendengar kata-kata itu, pertahanan mental Braja Biru akhirnya benar-benar runtuh. Air mata penyesalan bercampur darah mengalir deras di pipinya yang kotor oleh debu pertempuran. Ia membungkuk dalam-dalam hingga keningnya menyentuh lantai batu, mengakui kekalahan mutlaknya di hadapan seluruh anggota perguruan.

"Aku... Braja Biru... mengaku bersalah atas segala pengkhianatan dan kejahatan yang kulakukan terhadap Perguruan Teratai Biru," ucapnya terbata-bata di antara isak tangis penyesalan yang mendalam.

Setya memberi isyarat kepada dua orang murid senior yang berdiri di barisan depan. "Bawa dia ke ruang tahanan bawah tanah. Beri ia pengobatan yang layak, lalu jaga ketat sampai para tetua memutuskan hukuman resmi esok hari."

"Baik, Ketua!" jawab kedua murid itu serempak. Mereka segera maju, menarik kedua lengan Braja Biru yang sudah kehilangan seluruh tenaga dan kewibawaannya, lalu membawanya menjauh dari pelataran utama.

Namun, meskipun ancaman fisik dari sang pengkhianat telah diatasi, ketegangan di antara para anggota perguruan belum sepenuhnya cair. Masih ada dinding tak kasat mata yang memisahkan kubu Setya dan kubu Arya—sebuah perpecahan internal yang telah lama dipupuk oleh intrik Braja Biru selama bertahun-tahun.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya