
Kabut tipis yang semula menyelimuti Lembah Wilis kini berangsur-angsur menyingkir, digantikan oleh kehangatan sinar matahari pagi yang menyinari atap-atap paviliun Perguruan Teratai Biru. Suasana yang selama beberapa pekan terakhir dicekam oleh ketegangan, kecurigaan, dan pertumpahan darah akibat intrik pengkhianatan kini telah berubah total. Kedamaian dan persatuan yang sempat koyak akhirnya berhasil dirajut kembali di bawah pimpinan baru yang adil dan bijaksana. Para murid dari berbagai kubu yang tadinya saling memusuhi kini tampak berlatih bersama di halaman utama, mengembalikan marwah perguruan silat terkemuka di tanah persilatan tersebut.
Di ruang utama paviliun dalam, Arka berdiri di samping jendela besar yang menghadap langsung ke arah halaman. Ia mengenakan jubah putih bersih berkerah bordir biru, lambang kebesaran baru yang disematkan kepadanya sebagai salah satu pendekar penyelamat perguruan. Di dekatnya, Tera duduk bersila sambil memeriksa kembali gulungan peta kuno yang baru saja dibersihkan dari debu lemari arsip rahasia. Suasana terasa begitu tenang, seolah badai besar yang baru saja menghantam perguruan telah benar-benar berlalu tanpa sisa.
Namun, ketenangan itu tidak serta-merta membuat kewaspadaan mereka kendur. Di sebuah sel tahanan khusus di bawah tanah paviliun barat, para pengawal setia Braja Biru yang tertangkap dalam pertempuran akhir tengah menjalani interogasi terakhir sebelum dijatuhi hukuman pengasingan. Salah seorang pengawal utama Braja Biru, seorang pria bertubuh kekar dengan luka parah melintang di pipi kirinya bernama Kebo Lusi, tampak terduduk lemah di atas lantai batu yang dingin.
"Untuk apa kau masih menutup-nutupi sisa jaringan mereka, Kebo Lusi?" suara Arka terdengar tenang namun tegas saat ia melangkah masuk ke dalam sel ditemani oleh Tera dan beberapa sahabat dekat mereka. "Braja Biru dan para pengikut utamanya sudah diadili. Perguruan Teratai Biru kini sudah kembali bersih. Tidak ada lagi alasan bagimu untuk melindungi orang-orang yang telah membuangmu begitu saja."
Kebo Lusi mengangkat kepalanya perlahan. Bibirnya yang kering menyunggingkan senyuman sinis, menatap Arka dengan sorot mata penuh kebencian yang belum padam. "Kalian mengira kemenangan di Lembah Wilis ini adalah segalanya, anak muda? Kalian benar-benar naif jika menganggap ancaman telah berakhir hanya karena benteng utama ini berhasil direbut kembali."
Tera melangkah maju, sorot matanya menyelidik tajam. "Apa maksud perkataanmu? Jangan berputar-putar lagi atau kesabaran kami akan habis."
Kebo Lusi tertawa kecil, suara tawanya memantul di dinding sel yang lembap. "Kalian tidak tahu siapa sekutu sejati yang berdiri di belakang Braja Biru selama ini. Dia bukanlah pendekar biasa dari daratan kering ini. Dia adalah penguasa mutlak di kedalaman air asin yang tidak tersentuh hukum persilatan."
Mendengar ucapan tersebut, Arka dan Tera saling berpandangan. Suasana di dalam sel mendadak menjadi jauh lebih tegang.
"Katakan siapa dia!" desak Arka sambil mencengkeram jeruji besi sel.
"Sang Raja Iblis Lautan," jawab Kebo Lusi dengan suara berbisik namun terdengar sangat mengerikan. "Dan ketahuilah, saat kalian sibuk membersihkan perguruan ini, pasukan khususnya sudah bergerak menuju pesisir pesisir Samudra Selatan untuk memburu pusaka tertinggi yang selama ini disembunyikan leluhur kalian: Kitab Teratai Sakti."
❖ ❖ ❖
Informasi yang dibocorkan oleh Kebo Lusi menyebar dengan cepat ke seluruh jajaran petinggi Perguruan Teratai Biru. Suasana damai yang baru saja dikecap mendadak terguncang oleh kekhawatiran baru yang jauh lebih besar. Di aula pertemuan utama, kedelapan sahabat Arka dan Tera—termasuk Kamil, Sekar, dan para pendekar pilihan lainnya—telah berkumpul mengitari meja kayu besar tempat peta kuno Samudra Selatan dibentangkan lebar-lebar.
"Kitab Teratai Sakti bukanlah sekadar kumpulan jurus silat biasa," ucap Kamil serius sambil menunjuk sebuah titik di peta yang dikelilingi oleh garis-garis biru tua samudra. "Kitab itu adalah kunci pengimbang energi alam semesta. Jika jatuh ke tangan Raja Iblis Lautan, kekuatan destruktifnya mampu menciptakan gelombang pasang raksasa yang bisa menenggelamkan seluruh kota pesisir dalam semalam."
Sekar menganggukkan kepalanya setuju, jemarinya menunjuk ke arah jalur pelayaran berbahaya yang harus dilewati jika ingin mencapai pulau karang tempat penyimpanan kitab tersebut. "Masalahnya bukan hanya pada kekuatan pasukan Raja Iblis Lautan, melainkan medan pertempurannya. Samudra Selatan terkenal dengan badai abadi, pusaran air maut, dan para siluman air yang menguasai kedalaman. Kita tidak memiliki pengalaman bertempur di atas lautan luas."
"Kita harus pergi sekarang," kata Tera dengan nada suara yang tidak dapat dibantah. Ia berdiri tegak, memandang satu per satu wajah para sahabatnya yang duduk mengelilingi meja. "Jika kita menunggu hingga mereka menemukan tempat penyimpanan kitab tersebut, semuanya akan terlambat. Perguruan Teratai Biru tidak boleh tinggal diam dan menunggu kehancuran datang menjemput."
Arka bangkit dari kursinya, menyatukan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda kesiapan penuh. "Tera benar. Kita tidak punya banyak waktu untuk ragu. Persiapan harus dilakukan hari ini juga. Semua perbekalan, senjata khusus anti-air, serta kapal layar tercepat dari pelabuhan barat harus segera disiapkan."
Di luar aula, para murid perguruan tampak sibuk membantu mempersiapkan perlengkapan ekspedisi. Suasana penuh semangat bercampur ketegangan menyelimuti pelataran perguruan. Delapan sahabat Arka dan Tera membagi tugas dengan cermat; sebagian bertugas mengamankan pertahanan internal lembah selama mereka ditinggal pergi, sementara sepuluh orang pendekar inti—dipimpin langsung oleh Arka, Tera, Kamil, dan Sekar—akan berlayar langsung menuju pesisir selatan.
Namun, sebelum langkah kaki mereka benar-benar meninggalkan gerbang Lembah Wilis, seorang sesepuh perguruan bernama Ki Arya mendatangi mereka dengan membawa sebuah kotak kayu berukir kuno. Wajah tua Ki Arya menyiratkan kekhawatiran yang mendalam.
"Anak-anakku," ucap Ki Arya lirih sambil menyerahkan kotak kayu tersebut kepada Arka. "Di dalam kotak ini terdapat Kompas Bayangan Bintang, satu-satunya alat navigasi yang mampu menembus kabut magis di perairan Samudra Selatan. Gunakan dengan bijak, dan ingatlah bahwa persatuan adalah senjata terkuat kalian dalam menghadapi kegelapan di ujung dunia sana."
Arka menerima kotak kayu itu dengan kedua tangan, merasakan getaran energi hangat yang terpancar dari benda pusaka tersebut. "Terima kasih, Tetua. Kami akan menjaga kehormatan Teratai Biru sampai titik darah penghabisan."
❖ ❖ ❖
Perjalanan panjang dari daratan tinggi Lembah Wilis menuju pesisir Samudra Selatan memakan waktu berhari-hari lamanya. Angin darat yang kering perlahan-lahan berganti menjadi udara laut yang asin dan lembap. Suara deburan ombak besar yang menghantam karang tajam kini menjadi melodi konstan yang menyambut kedatangan rombongan sepuluh pendekar Teratai Biru di Pelabuhan Karang Nyiur, gerbang terakhir sebelum memasuki wilayah kekuasaan Raja Iblis Lautan.
Di dermaga kayu yang sudah mulai lapuk dimakan usia, sebuah kapal layar bermtiang tiga dengan lambang teratai biru di layar utamanya telah bersandar tenang menunggu perintah. Namun, suasana di pelabuhan tampak sepi dari aktivitas nelayan biasa. Penduduk setempat tampaknya telah mengungsi jauh ke daratan bagian dalam karena ketakutan yang luar biasa terhadap teror pasukan laut.