Desir angin malam di Pantai Selatan membawa aroma garam yang pekat, bercampur dengan kelembapan hutan karang yang lebat. Di bawah naungan tebing curam yang menghadap langsung ke Samudra Hindia, ombak raksasa menghantam batuan karang dengan suara menggelegar, menciptakan buih putih yang berkilauan diterpa cahaya bulan sabit. Di tempat yang tersembunyi dari pandangan manusia biasa inilah, tersimpan sebuah rahasia besar yang telah menjadi legenda paling diperebutkan di dunia persilatan selama lebih dari satu abad.
"Dunia persilatan hari ini tidak lagi mengenal belas kasih, Ki Sanak," bisik Arya kepada dirinya sendiri, suaranya hampir tenggelam di antara deru ombak yang tak pernah lelah. Pemuda berambut ikal sebahu itu berdiri tegak di atas sebuah batu karang terjal, jubah birunya berkibar liar diterpa angin laut. Tatapannya tajam menerobos kegelapan malam, tertuju pada sebuah celah goa sempit yang tertutup sulur-sulur akar pohon bakau tua.
Goa karang rahasia itu bukan sekadar tempat berlindung dari badai. Di dalam rongga batu yang basah dan gelap gulita itu, tersimpan sebuah pusaka langka yang keberadaannya selalu memancing pertumpahan darah: Kitab Teratai Sakti.
Konon, menurut catatan kuno kaum persilatan yang tersisa, kitab tersebut ditulis oleh seorang pertapa sakti dari dataran timur ribuan tahun silam. Kitab itu tidak terbuat dari kertas biasa, melainkan lembaran kulit sutra putih yang ditenun dari benang emas murni dan direndam dalam air embun pegunungan salju. Namun, bukan nilai materialnya yang membuat para pendekar aliran hitam maupun putih kehilangan akal sehat untuk memburunya.
Kitab Teratai Sakti menyimpan ilmu penyelarasan tenaga dalam tingkat tertinggi yang sanggup menetralkan segala jenis jurus beracun dan hawa iblis di dunia persilatan. Siapa pun yang berhasil menguasai isi kitab tersebut bukan hanya akan memiliki kekebalan mutlak terhadap racun apa pun, tetapi juga mampu memurnikan aliran darah mereka hingga mencapai tingkat kesempurnaan batin yang langka. Dalam dunia yang penuh dengan kelicikan, racun tersembunyi, dan ambisi kekuasaan, kekuatan semacam itu adalah kunci untuk menguasai jagat persilatan.
"Apakah kau benar-benar yakin kitab itu masih ada di dalam, Arya?" sebuah suara serak memecah keheningan di belakangnya.
Arya menoleh sedikit. Ki Jati, seorang pendekar tua bermata tajam dengan janggut putih panjang, melangkah perlahan mendekati bibir karang. Langkah kakinya begitu ringan, seolah-olah tubuhnya tidak menjejak tanah sama sekali—sebuah tanda bahwa pria tua itu telah mencapai tingkat ilmu meringankan tubuh yang sangat tinggi.
"Aku tidak yakin kitab itu masih utuh, Ki Jati," jawab Arya dengan nada rendah. "Tetapi jejak darah di sekitar mulut goa ini membuktikan bahwa ada orang lain yang mendahului kita malam ini. Dan dari bau amis yang tertinggal, mereka bukanlah pendekar dari aliran lurus."
Ki Jati menghentikan langkahnya, mengerutkan kening sambil mengendus udara malam. "Bau racun Ular Bayangan Hitam. Jika dugaanku benar, kelompok Bayangan Merah pimpinan si Licik Buang Seng telah mencium keberadaan tempat ini."
Nama Buang Seng membuat suasana malam terasa semakin mencekam. Tokoh aliran hitam itu terkenal sangat kejam dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Jika Buang Seng berhasil mendapatkan Kitab Teratai Sakti, maka malapetaka besar akan menimpa seluruh perguruan silat di negeri ini. Keseimbangan dunia persilatan yang rapuh dipastikan akan hancur lebur dalam sekejap.
❖ ❖ ❖
Tanpa memperingatkan satu sama lain, Arya dan Ki Jati langsung melompat turun dari batu karang tinggi menuju pelataran sempit di depan mulut goa. Gerakan mereka bagaikan bayangan angin yang berkelebat cepat dalam kegelapan. Sesampainya di depan celah goa, bau amis darah dan hawa dingin yang menyesakkan dada langsung menyambut indra penciuman mereka.
"Hati-hati, Arya. Hawa di dalam goa ini sangat pekat. Sepertinya ada susunan perangkap tenaga dalam yang dipasang untuk menyambut tamu tak diundang," ujar Ki Jati memperingatkan, tangannya perlahan meraba hulu pedang tua yang terselip di pinggangnya.
Arya mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, memusatkan tenaga dalamnya ke seluruh persendian untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk. Dengan langkah berhati-hati, mereka berdua mulai memasuki rongga goa yang semakin lama semakin menyempit dan menurun ke dalam perut bumi.
Dinding goa terasa basah dan licin, dipenuhi oleh tetesan air laut yang merembes melalui celah-celah batu karang. Di beberapa bagian lantai goa, tampak ceceran darah segar yang masih mengental, serta beberapa mayat pengawal berpakaian hitam tergeletak kaku dengan kulit yang berubah kebiruan—tanda kematian akibat racun tingkat tinggi yang mematikan seketika.
"Mereka bukan hanya dibunuh oleh musuh, tetapi juga oleh jebakan di dalam goa ini sendiri," gumam Arya sambil berjongkok, memeriksa salah satu mayat yang tergeletak di dekat dinding batu.
"Lihat tanda di leher mayat itu," kata Ki Jati menunjuk dengan ujung tongkatnya. "Ada bekas tusukan jarum es. Ini adalah ciri khas jurus Jarum Es Neraka milik Perguruan Lembah Siluman. Tampaknya perebutan Kitab Teratai Sakti ini melibatkan lebih banyak pihak daripada yang kita duga sebelumnya."
Sebelum Arya sempat menjawab, sebuah suara tawa dingin mendadak menggema dari dalam kegelapan lorong goa, memantul di dinding-dinding batu dan menciptakan gema yang menusuk telinga.
"Hehehe... Pendekar bodoh dari aliran mana lagi yang datang mengantarkan nyawa ke sarang harimau?"
Suara itu terdengar parau namun penuh dengan tekanan tenaga dalam yang kuat, membuat dada Arya terasa sesak sesaat. Dari balik kelokan lorong yang gelap, sesosok bayangan tinggi kurus dengan jubah merah darah perlahan-lahan muncul ke permukaan terang obor dinding yang hampir padam.
Wajah orang itu pucat pasi bagaikan mayat hidup, sepasang matanya memancarkan cahaya merah kekuningan yang menyeramkan. Di tangan kanannya yang kurus kering dan kehitaman, tergenggam sebuah kipas lipat besi beracun yang memancarkan kilau kehijauan.
"Buang Seng!" desis Arya, menyebut nama tokoh yang baru saja mereka bicarakan.
Pimpinan Perguruan Bayangan Merah itu tersenyum menyeringai, memperlihatkan deretan giginya yang kecoklatan. "Bagus sekali. Ternyata masih ada orang yang mengenalku di tempat terpencil ini. Kedatangan kalian sangat tepat waktu. Aku sedang mencari tumbal segar untuk menyempurnakan jurus racun baruku, dan sepertinya tenaga dalam kalian berdua cukup memadai."
"Jangan bermimpi, Buang Seng!" seru Ki Jati dengan suara berwibawa. "Serahkan Kitab Teratai Sakti yang kau curi dari dalam, atau kubuat malam ini menjadi malam kematianmu yang terakhir!"
Buang Seng tertawa terbahak-bahak, membuat dinding goa bergetar ringan. "Kitab itu milik mereka yang kuat! Jika kalian ingin mengambilnya, melangkahlah dulu melewati mayatku!"
❖ ❖ ❖
Pertempuran pecah seketika di dalam lorong goa yang sempit itu. Tanpa aba-aba lagi, Buang Seng melesat maju bagaikan kilat merah, mengibaskan kipas besinya ke arah leher Ki Jati dengan kecepatan yang luar biasa. Angin beracun yang sangat tajam langsung mendesing, membawa aroma busuk yang mematikan.
"Tua bangka, terimalah salam perpisahan dariku!" bentak Buang Seng.