Malam itu, gulungan ombak Pantai Selatan menghantam tebing karang dengan suara menggelegar mirip deru ribuan ekor kuda perang. Buih putih menyembur tinggi, diterangi cahaya bulan purnama yang pucat pasi tertutup tipisnya halimun laut. Di balik kegelapan abadi samudera, jauh di dasar jurang karang terjal yang jarang dijamah manusia, berdiri sebuah benteng megah sekaligus menyeramkan: Istana Bawah Karang.
Istana tersebut dibangun dari batu-batu karang hitam legam yang dipahat langsung oleh arus tekanan air laut dalam ribuan tahun. Pilar-pilar raksasa berbentuk naga melilit menopang atap aula utama yang berkilau karena puluhan mutiara raksasa memancarkan cahaya biru kehijauan. Di sinilah tempat bersemayamnya seorang tokoh paling ditakuti di dunia persilatan masa kini, penguasa kaum sesat pantai selatan yang menggelari dirinya sebagai Raja Iblis Lautan.
Namanya sendiri sudah cukup membuat anak-anak di pesisir pantai berhenti menangis dan para pendekar aliran lurus gemetar ketakutan. Dengan tinggi badan hampir dua meter, bahu bidang, dan janggut kaku berwarna kelabu yang tertiup angin gaib di dalam air, ia duduk di singgasana batu karang berukir tengkorak hiu raksasa. Sepasang matanya menyala tajam seperti bara api di kegelapan samudra, memancarkan aura pembunuh yang pekat.
"Laporan!" suara Raja Iblis Lautan menggelegar, menciptakan riak gelombang kejut yang membuat beberapa pengawal bergetar mundur.
Seorang panglima bajak laut bermuka parut, berpakaian kulit ikan hiu hitam, segera maju berlutut dengan satu kaki di atas lantai karang yang licin. Napasnya terengah-engah, menahan tekanan air dan ketakutan yang luar biasa.
"Beribu ampun, Penguasa Agung," suara panglima itu bergetar hebat. "Pasukan pengintai yang kita utus ke daratan untuk melacak keberadaan pewaris terakhir Sekte Teratai Putih telah kembali dengan hasil mengejutkan. Mereka... mereka gagal menjalankan tugas."
Raja Iblis Lautan menyipitkan matanya. Hawa dingin seketika menyelimuti seluruh ruangan aula. "Gagal? Sekelompok pengemis tua dan anak-anak ingusan dari sekte murahan itu berhasil meloloskan diri dari pasukan hiu hitammu?"
"Bukan sekadar lolos, Agung Mulia," sang panglima menunduk semakin dalam hingga dahinya hampir menyentuh lantai batu. "Mereka dilindungi oleh seorang pendekar misterius berpedang bambu. Gerakannya bagai bayangan angin, dan dalam sekali tebas, sepuluh anak buah pilihan kita tewas seketika tanpa sempat mengeluarkan jeritan."
Mendengar kata-kata itu, Raja Iblis Lautan perlahan bangkit dari singgasananya. Tekanan tenaga dalam tingkat tinggi memancar keluar dari tubuhnya, membuat air di sekitar singgasana mendidih kecil.
"Pendekar berpedang bambu?" gumamnya dingin. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang mengerikan. "Rupanya masih ada tikus-tikus daratan yang berani mencari mati di wilayah kekuasaanku. Dengar baik-baik, panglima bodoh!"
"Hamba mendengarkan, Penguasa Agung!"
"Kumpulkan seluruh armada bajak laut pilihan. Kerahkan tiga ratus jagoan silat pesisir yang telah kita gembleng dengan racun mutiara hitam selama sepuluh tahun terakhir. Kita tidak boleh gagal kali ini." Raja Iblis Lautan mengepalkan tinjunya hingga batu karang di dekatnya hancur berkeping-keping. "Kitab Teratai Sakti itu harus berada di tanganku sebelum bulan purnama berganti. Hanya dengan kitab suci itu, aku bisa menembus batas tertinggi ilmu silat dan menjadi penguasa tunggal seluruh rimba persilatan, baik di daratan maupun di samudra raya!"
"Baik! Perintah Agung Mulia adalah titah mutlak bagi kami!" seru seluruh panglima dan kepala pasukan bajak laut yang hadir di aula serempak, menggemuruhkan dinding-dinding karang bawah laut.
❖ ❖ ❖
Di daratan, tepatnya di sebuah kedai teh tua yang terletak di kaki bukit karang pesisir selatan, suasana tampak jauh lebih tenang namun menyimpan ketegangan yang menyesakkan dada. Kedai kayu itu nyaris kosong, hanya menyisakan seorang kakek renta pemilik kedai dan dua orang pelancong muda yang duduk di sudut dekat jendela usang.
Pelancong pertama adalah seorang pemuda berwajah tegas dengan sebilah pedang tua terselip di punggungnya, bernama Arya. Di sebelah duduknya, seorang gadis berbusana putih bersih dengan sulaman bunga teratai emas di ujung jubahnya, Dewi Sekar, tampak memegang cangkir teh hangat dengan jemari yang sedikit gemetar.
"Arya, aku merasa tidak enak," bisik Dewi Sekar lirih, matanya menatap ke arah garis pantai di mana ombak mulai bergulung lebih ganas dari biasanya. "Sejak kemarin, burung-burung camar terbang menjauhi pantai. Para nelayan juga mendadak menutup pintu rumah mereka rapat-rapat. Apakah mereka sudah tahu keberadaan kita di sini?"
Arya meletakkan cangkirnya perlahan. Ia menatap gadis di depannya dengan pandangan menenangkan, meski dalam hatinya ia tahu bahaya besar sedang mendekat.
"Tenanglah, Sekar," ucap Arya lembut namun penuh keyakinan. "Selama aku masih memegang pedang ini, tidak seorang pun dari kaum sesat pantai selatan yang bisa menyentuhmu, apalagi merampas Kitab Teratai Sakti yang ada di tanganmu."
Tiba-tiba, pintu kayu kedai terbanting terbuka dengan suara keras. Angin malam yang dingin dan berbau amis air laut menerobos masuk, memadamkan separuh lampu pelita di dalam ruangan. Kakek pemilik kedai langsung menjatuhkan nampannya, berteriak ketakutan, lalu lari terbirit-birit mencari perlindungan ke bagian belakang rumah.
"Wah, wah, wah... lihat siapa yang kita temukan di sini," sebuah suara serak dan parau bergema dari ambang pintu.
Tiga orang pria berperawakan kekar dengan tato gambar gurita melingkar di leher mereka melangkah masuk. Mata mereka merah, memancarkan kehausan darah. Di tangan masing-masing, mereka memegang trisula tajam berlumuran racun yang memancarkan kilau kebiruan di dalam gelap.
"Kalian... anak buah Raja Iblis Lautan," desis Arya, berdiri perlahan dari kursinya. Tangannya secara alami bersandar pada gagang pedangnya.
"Bocah daratan yang sombong!" geram pemimpin kelompok bajak laut itu sambil menyeringai lebar, menampakkan deretan gigi kuning yang kotor. "Serahkan gadis itu beserta kitab pusaka yang dibawanya, maka kami akan mengampuni nyawa kalian dan membiarkan kalian merangkak pulang dengan utuh!"
Dewi Sekar merapatkan jubah putihnya, bersiap mencabut belati giok miliknya. "Kalian tidak akan pernah mendapatkan kitab ini! Kitab Teratai Sakti adalah warisan leluhur kami untuk menegakkan keadilan, bukan untuk dikuasai oleh iblis kejam sepertimu!"
"Banyak bicara!" bentak si pemimpin bajak laut. "Serang!"
Ketiga bajak laut itu langsung melompat bersamaan. Trisula mereka menyabet udara dengan kecepatan kilat, menciptakan desingan angin tajam yang langsung menghancurkan meja dan kursi di sekitarnya berkeping-keping.
Arya tidak tinggal diam. Dalam sepersekian detik, tubuhnya melesat bagai anak panah lepas dari busurnya. Pedang bambu di tangannya berputar, mengeluarkan bunyi dengungan angin yang nyaring.
Trang! Trang!
Benturan senjata terjadi begitu cepat. Meskipun musuh menggunakan senjata logam beracun, tebasan pedang bambu Arya yang dilapisi tenaga dalam murni mampu menangkis setiap serangan mematikan tanpa meninggalkan sedikit pun goresan pada kayunya.
"Ilmu macam apa ini?!" seru salah satu bajak laut terkejut saat melihat senjatanya terpental hebat akibat getaran tenaga dalam Arya.
"Ilmu yang akan mengirim kalian kembali ke dasar laut!" sahut Arya dingin.
Dengan gerakan kaki yang lincah, Arya meluncur di antara ketiga musuh tersebut. Sabetan kilat menyapu lambung dan pergelangan tangan mereka. Dalam tiga jurus saja, ketiga bajak laut pesisir itu jatuh tersungkur ke lantai dengan jeritan tertahan, tak berdaya akibat totokan akupuntur Arya yang melumpuhkan aliran darah mereka.
Dewi Sekar menghela napas panjang, namun ekspresi di wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kelegaan. Ia tahu, ketiga bajak laut rendahan ini hanyalah umpan pancingan.
"Arya," kata Dewi Sekar dengan suara gemetar, menunjuk ke luar jendela. "Lihat ke sana..."
Arya mengalihkan pandangannya ke luar. Di sepanjang garis pantai, ratusan obor menyala terang menerobos kegelapan malam. Gelombang air laut mendadak naik secara tidak wajar, membawa puluhan perahu perang berbendera hitam bergambar tengkorak hiu merapat ke bibir pantai. Pasukan utama Raja Iblis Lautan telah tiba.