SERI 9: TERATAI SAKTI DARI SAMUDRA SELATAN

Amrullah Ibrahim
Chapter #4

Ginkang Burung Camar

Angin laut selatan bertiup kencang, membawa partikel-partikel air asin yang langsung menampar wajah siapa saja yang berani mendekati bibir tebing. Di tempat yang dinamakan Karang Tengkorak ini, deburan ombak raksasa setinggi rumah berulang kali menghantam dinding batu karang hitam yang curam dan tajam. Suaranya menderu-deru bagaikan amukan ribuan makhluk buas yang tak sabar meremukkan apa pun yang jatuh ke dalam pelukan buih putih di bawah sana. Namun, di tengah kengerian alam yang begitu beringas, dua sosok manusia justru bergerak dengan keanggunan yang menyalahi hukum gravitasi.

Azalia merapatkan jubah sutra birunya yang berkibar liar diterpa angin topan. Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, menembus kabut tebal yang tercipta dari uap air laut. Di sebelah kanannya, Risha melayang ringan di atas permukaan batu karang dengan postur tubuh yang begitu lentur. Keduanya tengah mengintai pergerakan musuh dari faksi Bayangan Lintas Samudra, sebuah kelompok penyelundup dan pembunuh bayaran yang dikenal kejam dan menguasai jalur laut selatan secara mutlak.

"Risha, jarak pandang kita tidak lebih dari sepuluh tombak akibat kabut ini," bisik Azalia, suaranya hampir tenggelam oleh deru ombak, namun berkat tenaga dalam yang disalurkan ke pita suaranya, kata-kata itu terdengar sangat jelas di telinga Risha. "Mereka pasti memanfaatkan cuaca buruk ini untuk memindahkan pasokan senjata selundupan ke gua persembunyian di bawah tebing."

Risha mengangguk kecil. Wajahnya yang rupawan tampak tenang, tanpa secercah pun rasa takut terpancar di sana. "Benar, Kak Azalia. Informan kita tidak mungkin salah. Kelompok Naga Hitam sudah mulai bergerak mendekati teluk barat. Kita harus segera mencari titik pantau yang lebih tinggi sebelum mereka menyadari kehadiran kita."

Untuk mencapai puncak tebing utara yang menjadi satu-satunya tempat strategis guna melihat seluruh pergerakan musuh, mereka harus mendemonstrasikan ilmu ginkang paling mutakhir dari perguruan mereka. Tanpa aba-aba tambahan, kedua gadis itu bersiap.

"Bersiaplah, kita gunakan Ginkang Burung Camar tingkat ketiga!" seru Azalia.

Detik berikutnya, tubuh Azalia melesat ke udara bagaikan selembar bulu yang ditiup badai. Kaki indahnya menyentuh permukaan karang yang licin dan runcing hanya dalam hitungan detik—bahkan sepersekian kedipan mata—sebelum kembali mendorong tubuhnya terbang lebih tinggi. Gerakan mereka benar-benar menyerupai sepasang burung camar yang sedang menari di atas amukan gelombang samudra. Tidak ada suara decakan batu, tidak ada jejak kaki yang tertinggal, melainkan hanya bayangan biru dan putih yang meliuk-liuk menembus dinding kabut tebal.

Risha mengekor tepat di belakang Azalia, menjaga jarak tiga langkah untuk mengantisipasi serangan mendadak dari arah samping. Konsentrasi mereka terpusat penuh pada aliran Qi di Dantian masing-masing, memastikan setiap pijakan memiliki bobot yang sangat ringan, seolah-olah berat badan mereka telah lenyap sepenuhnya. Di bawah mereka, batu-batu karang runcing siap merobek daging siapa pun yang melakukan kesalahan sekecil apa pun. Namun, bagi Azalia dan Risha, tebing maut itu ibarat panggung dansa yang luas dan aman.

❖ ❖ ❖

Di tengah kecepatan pelarian dan pengintaian mereka yang luar biasa, tiba-tiba sebuah siulan tajam membelah udara. Suara itu begitu nyaring hingga mampu menembus deru ombak dan angin badai. Azalia langsung mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat agar Risha berhenti seketika.

Whosh!

Sebuah anak panah hitam legam melesat dengan kecepatan kilat, menghantam batu karang tepat di tempat Azalia berdiri sepersekian detik sebelumnya. Hantaman itu begitu kuat hingga membuat batu karang sekeras baja hancur berkeping-keping, menyemburkan serpihan tajam ke segala arah.

"Kita ketahuan!" geram Risha, segera mencabut sebilah pedang pendek berukir naga dari sarung di pinggangnya. "Ada pemanah ulung di atas tebing seberang."

Azalia tidak langsung menjawab. Matanya menyapu sekeliling dengan kecepatan luar biasa, menganalisis sudut datangnya panah serta arah angin. "Bukan hanya satu pemanah, Risha. Lihat ke atas sana!"

Dari balik kabut tebal yang mulai tersibak oleh terbitnya rembulan pucat, puluhan sosok berbusana hitam seragam muncul di atas bubungan karang yang lebih tinggi. Mereka berdiri tegak di tengah terpaan angin badai, masing-masing memegang busur besar berlapis baja dengan anak panah beracun yang siap dilepaskan kapan saja. Pemimpin kelompok penyergap itu, seorang pria berparut melintang di wajah dengan tatapan mata reptil, tertawa dingin.

"Kalian pikir bisa mengintai wilayah kekuasaan faksi Bayangan Lintas Samudra semudah itu, gadis-gadis bodoh?" suara pria berparut itu menggema, memantul di dinding-dinding tebing batu. "Hari ini, Karang Tengkorak akan menjadi kuburan kalian!"

Suasana berubah mencekam dalam sekejap. Azalia dan Risha kini terpojok di sebuah anjungan karang yang menjorok langsung ke jurang laut, dengan dinding tebing vertikal setinggi ratusan tombak di belakang mereka dan barisan musuh bersenjata lengkap yang memblokade satu-satunya jalan mundur ke daratan. Tidak ada ruang untuk melarikan diri ke samping, karena ombak raksasa terus-menerus menjilat-jilat dasar tempat mereka berdiri.

"Kak Azalia, jalan mundur kita sudah terpotong," ucap Risha dengan napas sedikit memburu, meskipun ketenangan masih menghiasi wajahnya. "Mereka sengaja menggiring kita ke titik jepit ini."

Azalia mengeratkan genggaman pada pedangnya. "Jangan panik, Risha. Ingat pelajaran Guru tentang situasi terjepit di tebing curam. Semakin sempit ruang gerak kita, semakin besar pula tekanan Qi yang bisa kita pantulkan kembali kepada musuh."

Pria berparut di seberang kembali mengangkat tangan kanannya, memberikan aba-aba kepada para pemanah untuk menarik tali busur mereka secara bersamaan. Suara gesekan kayu dan logam berdengung nyaring, menciptakan ketegangan psikologis yang luar biasa berat.

"Lepaskan!" teriak pemimpin itu.

Cepat! Batin Azalia menjerit. Puluhan anak panah hitam meluncur bagaikan hujan badai kematian, menutupi seluruh langit-langit di atas mereka, tidak menyisakan celah sekecil apa pun untuk lolos.

Lihat selengkapnya