Angin laut malam itu membawa bau amis yang pekat dan menusuk hidung, pertanda buruk bagi siapa saja yang berlayar di perairan terlarut bayangan. Di atas geladak kapal utama, deburan ombak terdengar menghantam lambung kayu dengan ritme yang menegangkan. Langit malam tertutup awan kelabu tebal, menghalangi cahaya bulan dan bintang, menyisakan kegelapan mutlak yang hanya diterangi oleh temaram lampu minyak di sudut-sudut anjungan.
Zahra berdiri tegak di dekat kemudi, jemarinya yang terampil memegang sebotol kecil minyak penawar herbal yang baru saja selesai ia racik. Wajahnya tampak serius, menyiratkan beban berat yang harus dipikulnya sebagai tabib sekaligus pelindung bagi rekan-rekannya. Di sekitarnya, para prajurit dan kru kapal sibuk mempersiapkan diri menghadapi pertempuran yang tak terelakkan. Pasukan bayangan dari Kerajaan Iblis Lautan dilaporkan telah mendekati garis pertahanan mereka.
"Zahra, bagaimana persediaan minyak penawarnya? Apakah cukup untuk melapisi seluruh kulit pasukan kita?" suara Chafia memecah keheningan malam, terdengar tegas namun menyimpan kecemasan yang mendalam. Chafia melangkah mendekat, jubah perangnya bergesekan pelan dengan angin malam yang dingin. Di tangannya, sebuah belati berkilau tajam tertelan cahaya lampu minyak.
Zahra menoleh, menghela napas panjang sebelum menjawab, "Kita hampir kehabisan bahan dasar daun kelor karang, Chafia. Anak buah Raja Iblis Lautan kali ini menggunakan taktik yang jauh lebih keji dari sebelumnya. Mereka melapisi senjata dan perangkap mereka dengan Racun Duri Karang. Racun itu bukan sembarang racun; ia dirancang untuk menyebabkan kelumpuhan saraf seketika hanya dalam hitungan detik setelah menembus kulit."
Chafia menggertakkan gigi, rahangnya mengeras mendengar penjelasan tersebut. Ia tahu betul betapa mematikannya makhluk-makhluk kegelapan dari kedalaman laut itu. "Mereka tahu kita tidak punya banyak waktu. Jika ada prajurit kita yang terkena goresan kecil saja tanpa perlindungan minyak ini, mereka akan lumpuh total sebelum sempat mengangkat pedang."
"Benar," sahut Zahra sambil menyerahkan wadah besar berisi cairan herbal berwarna kehijauan pekat kepada Chafia. "Karena itulah kita harus bergerak cepat meracik dan mengusapkannya pada kulit kawan-kawan kita sebagai pelindung utama. Minyak ini akan menciptakan lapisan transparan yang mampu menetralkan toksin sebelum sempat meresap ke dalam aliran darah."
Tanpa membuang waktu, Chafia memanggil para komandan regu untuk segera mengumpulkan pasukan di geladak tengah. Suasana berubah menjadi hiruk-pikuk yang terorganisir. Ratusan prajurit berbaris rapi dalam kegelapan, menunggu giliran mereka untuk diolesi minyak penawar herbal racikan Zahra dan Chafia.
Zahra bergerak dari satu prajurit ke prajurit lainnya dengan kecepatan luar biasa. Tangannya yang cekatan mengoleskan cairan herbal tersebut ke bagian-bagian tubuh yang rentan tersayat senjata musuh, seperti leher, lengan, dan pergelangan kaki. Setiap kali ia selesai mengoleskan minyak, ia selalu memberikan kata-kata penguatan. "Tetaplah fokus, jangan biarkan rasa takut menguasai pikiran kalian. Lindungi titik-titik vital kalian," bisiknya penuh keyakinan kepada prajurit muda di hadapannya.
Chafia mengawasi proses tersebut sambil mengedarkan pandangan ke arah horizon lautan yang gelap gulita. Di kejauhan, bintik-bintik cahaya biru keunguan mulai tampak bermunculan dari dalam air. Itu adalah tanda kemunculan pasukan infanteri iblis lautan yang menunggangi arus bawah laut. Pertempuran besar akan segera pecah, dan persiapan yang mereka lakukan malam ini adalah penentu antara hidup dan mati.
❖ ❖ ❖
Suasana tegang mendadak pecah ketika suara gemuruh hebat mengguncang dasar laut, disusul oleh hantaman ombak kolosal yang mengangkat kapal utama beberapa meter ke udara sebelum membantingnya kembali ke permukaan. Prajurit di geladak berteriak kaget, beberapa di antaranya hampir kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke dalam air yang bergolak.
"Mereka datang! Bersiap di posisi masing-masing!" seru Chafia lantang, suaranya memotong suara deburan ombak dan angin badai. Ia mencabut pedangnya dari sarung, membiarkan bilah logam tersebut memantulkan cahaya biru keunguan dari musuh yang kini mulai merangsek naik ke atas geladak kapal.
Dari balik buih ombak yang pekat, sesosok makhluk bertanduk lancip dengan kulit bersisik hitam legam melompat tinggi melewati pagar kapal. Itu adalah panglima terdepan pasukan Iblis Lautan, membawa tombak trisula yang ujungnya menitikkan cairan ungu berpendar—Racun Duri Karang murni yang mematikan. Makhluk itu mendesis mengerikan, menatap tajam ke arah barisan pertahanan manusia.
Zahra, yang masih berada di dekat palka penyimpanan bahan herbal, langsung berdiri tegak saat menyadari bahaya besar mengancam. Ia melihat seorang prajurit di sebelah kirinya terlambat mengangkat perisai. Tombak sang iblis melesat cepat seperti kilat, menggores lengan prajurit tersebut meski telah diolesi minyak penawar.
"Awas!" teriak Zahra memperingatkan. Namun, kekhawatiran sempat melintas di benaknya; apakah lapisan minyak penawar buatannya cukup kuat menahan dosis racun murni dari sang panglima iblis? Prajurit itu terjatuh ke lantai geladak, mengerang kesakitan sementara napasnya mulai tersengal-sengal.
Chafia tidak tinggal diam. Dengan gerakan akrobatik yang memukau, ia melompat menerjang sang panglima iblis sebelum makhluk itu sempat melancarkan serangan susulan. Benturan pedang dan trisula menciptakan percikan api yang terang di tengah kegelapan malam. "Zahra! Periksa prajurit itu!" perintah Chafia di tengah-tengah benturan senjata yang sengit.
Zahra segera berlari menerobos kekacauan pertempuran, mengabaikan desingan panah beracun yang meluncur di atas kepalanya. Ia berlutut di samping prajurit yang tergeletak. Napas prajurit itu mulai melemah, dan kulit di sekitar luka goresannya mulai menghitam. Zahra dengan sigap mengeluarkan botol ekstrak pekat dan meneteskannya langsung ke luka terbuka tersebut, sambil merapalkan mantra pembersih racun kuno.
"Bertahanlah, kawan," ucap Zahra penuh konsentrasi, keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia melihat perjuangan prajurit itu untuk tetap sadar, sementara di sekeliling mereka, suara pertempuran semakin menggila. Pasukan iblis lautan kini telah berhasil memanjat naik dari segala penjuru kapal, mengepung ruang gerak Zahra dan Chafia.
Situasi menjadi semakin terdesak ketika puluhan makhluk beracun itu mulai melepaskan lemparan duri-duri tajam ke arah kerumunan manusia. Zahra harus membagi konsentrasinya antara menyembuhkan prajurit yang terluka dan menciptakan perisai angin pelindung untuk menangkis hujan duri beracun yang beterbangan di udara. Beban fisik dan mental mulai menggerogoti tenaganya.
❖ ❖ ❖