SERI 9: TERATAI SAKTI DARI SAMUDRA SELATAN

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Perisai Karang Menahan Tebasan

Malam di pesisir selatan Selat Sunda tidak pernah benar-benar menjanjikan ketenangan, terutama bagi mereka yang mengemban rahasia besar di pundak masing-masing. Angin laut berembus kencang, membawa serta aroma garam yang pekat dan gemuruh ombak yang menghantam tebing batu karang dengan ritme monoton namun mematikan. Di bawah naungan langit tanpa bintang, sekelompok pejalan sunyi menyusuri garis pantai yang berliku, menghindari jalur utama demi keselamatan nyawa yang terus diincar oleh bayang-bayang gelap.

Fathan memimpin di depan, langkah kakinya mantap di atas pasir basah yang padat oleh hempasan pasang surut. Di belakangnya, Galin berjalan dengan napas teratur, membawa gulungan peta kuno yang menjadi kunci perjalanan mereka menuju benteng pertahanan terakhir. Di antara mereka, keheningan bukanlah bentuk permusuhan, melainkan wujud kewaspadaan yang telah diasah oleh perjalanan panjang penuh darah dan air mata. Setiap desir angin, setiap suara kepiting batu, dan setiap bayangan yang bergerak di ujung tebing selalu diperhitungkan sebagai potensi ancaman.

"Kita sudah terlalu lama berjalan di ruang terbuka, Fathan," bisik Galin, suaranya hampir tenggelam di bawah deru ombak yang memecah karang. "Mata-mata Raja Iblis tidak pernah tidur. Mereka bisa saja mengawasi kita dari atas tebing-tebing curam itu tanpa kita sadari."

Fathan menghentikan langkahnya sejenak, mengangkat tangan kanannya sebagai tanda bagi Galin untuk ikut berhenti. Ia menengadahkan kepala, menatap gugusan tebing karang terjal yang menjulang tinggi di sisi kiri mereka, menyerupai raksasa-raksasa hitam yang membentang melawan langit malam. Kegelapan di atas sana begitu pekat, menyembunyikan apa pun yang mungkin sedang mengintai dari ketinggian.

"Aku tahu, Galin," jawab Fathan pelan, matanya menyipit menembus kegelapan malam. "Tetapi jalur darat di atas jauh lebih berbahaya. Pasukan penjaga perbatasan Raja Iblis telah menutup semua celah bukit. Pesisir ini adalah satu-satunya jalan pintas jika kita ingin mencapai pelabuhan sebelum fajar menyingsing."

"Dan jika mereka sudah menunggu kita di depan?" tanya Galin, nada suaranya menyiratkan ketegangan yang tertahan lama.

"Maka kita hadapi," Fathan menoleh sekilas, menyunggingkan senyisan tipis yang penuh keyakinan. "Kita tidak punya pilihan lain untuk mundur. Bayang-bayang masa lalu sudah mengejar kita terlalu dekat."

Mereka kembali melanjutkan perjalanan dengan langkah yang lebih hati-hati, merapat ke dinding tebing untuk meminimalkan siluet tubuh di bawah temaram cahaya bulan yang sesekali keluar dari balik gumpalan awan tebal. Di sepanjang jalur sempit itu, formasi bebatuan semakin meruncing, membentuk labirin alami yang menyerupai gigi-gigi taring raksasa. Suasana terasa semakin mencekam, seolah-olah alam sendiri sedang menahan napas, menunggu detik-detik penentu yang akan mengubah jalannya takdir mereka selamanya.

❖ ❖ ❖

Tanpa diduga, suasana sunyi itu pecah seketika oleh suara gemeretak kerikil yang berhamburan dari atas tebing, disusul oleh suara logam bergesekan dengan batu. Sebelum akal sehat sempat menerjemahkan tanda-tanda tersebut, puluhan sosok hitam melompat turun dari kegelapan celah karang, mendarat dengan ringan tanpa suara di pasir basah di depan dan di belakang Fathan serta Galin.

Penyergapan itu terjadi dalam sepersekian detik. Barisan pengawal Raja Iblis muncul dari balik bayangan batu karang dengan gerakan yang terlatih sempurna, mengepung kedua pejuang itu tanpa celah untuk melarikan diri. Mata mereka menyala merah padam di balik topeng besi legam, memancarkan aura haus darah yang langsung membekukan udara di sekitar pantai.

Fathan langsung bereaksi dengan kecepatan kilat. Tangan kanannya meraba gagang pedang di pinggang, sementara kaki kirinya bersiap mengambil kuda-kuda kokoh. "Galin, rapatkan punggungmu ke belakangku!" serunya tegas.

"Mereka sudah menunggu kita di sini sejak tadi!" balas Galin, langsung bergeser cepat dan merapatkan punggungnya ke punggung Fathan. Di tangan Galin, sebilah belati bercahaya biru kehijauan terhunus, siap menyambut hantaman pertama.

Di hadapan mereka, sesosok panglima pasukan pengawal Raja Iblis melangkah maju. Tubuhnya tinggi besar, dibalut zirah hitam legam yang berukir lambang tengkorak bertanduk. Di tangan kanannya, ia memegang sebilah parang raksasa yang bilahnya memancarkan kilau keperakan yang mematikan di bawah cahaya bulan. Senyum mengerikan tersungging di balik topengnya yang retak.

"Fathan... dan tikus kecil yang membawanya," suara panglima itu terdengar berat dan serak, menggema di antara dinding-dinding karang. "Kalian mengira bisa melarikan diri dari wilayah kekuasaan Raja Iblis? Langkah kalian telah terkunci sejak pertama kali menginjakkan kaki di tanah pesisir ini."

"Kalian tidak akan pernah mendapatkan peta itu," sahut Fathan dengan suara dingin yang penuh wibawa. "Peta itu milik dunia yang merdeka, bukan untuk dikuasai oleh kegelapan kalian."

Lihat selengkapnya