Udara lembap dan bau amis laut mengepung lambung kapal Naga Samudera yang remang-remang. Cahaya dari sebuah lentera minyak tunggal berayun-ayun pelan mengikuti irama ombak malam, memantulkan bayangan panjang di dinding kayu jati yang basah. Di atas meja kasar yang dipenuhi noda tinta dan garam, terbentang benda yang baru saja mengubah arah hidup Yafid dan Rafar untuk selamanya.
Benda itu adalah selembar kain tebal berwarna kekuningan, terbuat dari serat kulit pohon langka yang dirajut rapat, tahan air, dan dihiasi coretan tinta cumi-cumi hitam pekat. Kain tersebut ditemukan di dalam saku mantel kulit tebal milik Kapten Vane, seorang pemimpin bajak laut paling ditakuti di perairan selatan, yang baru saja mereka taklukkan dalam duel sengit beberapa jam lalu.
Yafid, dengan napas yang masih sedikit tersengal dan goresan luka dangkal di lengan kanannya, mencondongkan tubuh ke depan. Matanya menatap tajam setiap garis, simbol, dan lambang bintang yang terukir di atas kain tersebut.
"Rafar, kemarilah. Coba lihat ini," panggil Yafid dengan suara tertahan namun bergetar penuh rasa takjub.
Rafar melangkah mendekat dari sudut kabin, membawa sebotol air segar. Ia meletakkan botol itu di atas meja, lalu menyipitkan mata meneliti kain tersebut. "Apa itu peta harta karun rampasan biasa? Kita sudah sering melihat peta palsu buatan para bajak laut licik."
"Bukan. Ini jauh lebih berharga dari sekadar emas atau permata," jawab Yafid sambil menunjuk sebuah simbol segitiga di ujung barat daya peta. "Perhatikan guratan garis anginnya. Ini adalah gaya cartography dari era Kerajaan Bahari Nusantara Kuno. Simbol-simbol ini... aku pernah melihatnya di perpustakaan tua pelabuhan utama."
Rafar terdiam, jari telunjuknya menyusuri garis-garis tipis yang membentuk pola gugusan pulau fiktif dalam mitos pelaut. "Tunggu dulu. Jika simbol ini asli, maka pulau karang di ujung selatan itu bukanlah isapan jempol. Garis lintangnya menunjuk langsung ke Kepulauan Karang Hitam."
"Tepat sekali," sahut Yafid penuh keyakinan. "Dan lihat lambang lingkaran ganda di tengah pulau itu. Ini adalah penanda altar batu. Altar tempat persemayaman Kitab Teratai Sakti yang selama ini kita cari."
Suasana kabin mendadak terasa semakin sunyi, hanya diselingi suara deburan air laut yang menghantam lambung kapal. Temuan ini bukan lagi sekadar rumor atau catatan usang dalam hikayat tua. Selembar kain dari saku seorang kapten bajak laut itu telah memberikan bukti fisik yang tak terbantahkan. Letak altar rahasia itu kini terbentang jelas di hadapan mereka, menunggu untuk diungkap.
❖ ❖ ❖
Namun, kegembiraan atas penemuan besar itu seketika dibayangi oleh kenyataan pahit yang mencengkeram dada. Kegelapan malam di luar tiba-tiba dipecah oleh suara dentuman keras dari buritan kapal. Bum! Suara itu disusul oleh getaran hebat yang membuat meja kayu bergeser dan lentera minyak nyaris padam.
Yafid dan Rafar saling berpandangan dengan wajah tegang.
"Musuh?" seru Rafar sambil menyambar pedang panjangnya yang bersandar di tiang kabin.
"Tidak mungkin. Kapal Bajak Laut Vane sudah lumpuh total di belakang sana," sangkal Yafid, meraih belati pusakanya. "Kecuali..."
Sebelum Yafid sempat menyelesaikan kalimatnya, pintu kabin didobrak dari luar. Asap mengepul tebal, disusul bau belerang yang menyengat. Seorang anak buah kapal melompat masuk dengan luka bakar di sekujur lengan, terengah-engah menahan sakit.
"Tuan! Kita disergap! Kapal Armada Bayangan muncul dari balik kabut tebal!" teriak awak kapal itu sebelum ambruk ke lantai akibat kehabisan tenaga.
Yafid segera berlogika cepat. Armada Bayangan—pasukan khusus bentukan sindikat pedagang gelap yang selama ini mengincar Kitab Teratai Sakti—telah melacak keberadaan mereka. Terlebih lagi, Vane rupanya bukanlah pemain tunggal; ia adalah bagian dari jaringan mata-mata bayangan yang sengaja dibiarkan memegang peta tiruan untuk mengecoh siapa pun yang mendekat, atau justru peta ini adalah umpan balik yang berbahaya.
"Sial! Mereka tahu kita merebut peta ini dari Vane," geram Rafar, matanya menyalang penuh amarah. "Mereka tidak akan membiarkan kita hidup keluar dari perairan ini."
"Kalau begitu, kita harus bergerak cepat," ujar Yafid tegas, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Jika peta ini jatuh ke tangan Armada Bayangan, rahasia Kitab Teratai Sakti akan disalahgunakan untuk menghancurkan keseimbangan dunia pelayaran."
Suara meriam kembali meledak di sisi kiri kapal, menghancurkan pagar pembatas geladak dan mengirimkan serpihan kayu berhamburan ke udara. Situasi kini berada di titik jepit yang sangat berbahaya. Di satu sisi, mereka memegang kunci utama menuju tempat penyimpanan kitab sakti; di sisi lain, armada musuh yang jauh lebih besar telah mengunci ruang gerak mereka di tengah lautan lepas yang gelap gulita.
❖ ❖ ❖
Pertempuran di atas geladak Naga Samudera berkecamuk tanpa ampun. Asap mesiu mengepul pekat, menghalangi pandangan mata dan membuat pernapasan terasa sesak. Di tengah kekacauan itu, Yafid dan Rafar bahu-membahu menangkis serangan pasukan bayangan yang melompat dari kapal penyergap.
"Yafid! Di sebelah kananmu!" seru Rafar memperingatkan, sambil menebaskan pedangnya untuk menjatuhkan seorang penyerang bertopeng hitam.
Yafid berputar cepat, belatinya berkelebat memotong jalur serangan musuh. "Aku baik-baik saja! Tapi kita tidak bisa terus bertahan seperti ini! Kapal kita sudah mulai kemasukan air di lambung kiri!" teriak Yafid di tengah deru angin malam dan suara dentingan logam yang beradu nyaring.