Malam merangkak naik, membawa serta keheningan yang tebal di atas gugusan karang tajam Pantai Selatan. Desau angin laut bergemuruh pelan, berpadu dengan deburan ombak besar yang menghantam dinding karang tanpa kenal lelah. Di bawah pendar cahaya bulan purnama yang tumpah ruah ke permukaan air, lautan tampak berkilau perak bagaikan permadani raksasa yang membentang tanpa batas. Namun, di balik keindahan pemandangan malam itu, terselip ketegangan yang begitu pekat. Esok hari, fajar akan menyingsing membawa badai pertempuran yang menentukan nasib seluruh negeri.
Arka dan Tera berdiri berdampingan di atas puncak bukit karang tertinggi. Jubah mereka berkibar ditiup angin malam yang dingin, namun tak satupun dari mereka yang bergeming. Tatapan mata mereka lurus menatap horizon, tempat di mana langit gelap dan lautan kelam berpadu dalam kepekatan misteri. Pikirkan tentang badai yang akan datang, pikiran mereka dipenuhi oleh bayangan benturan senjata, kobaran api, dan jeritan kesakitan yang tak terhindarkan.
Arka perlahan menoleh. Wajah pemuda itu tampak tenang, diterangi cahaya rembulan yang memahat garis rahangnya dengan tegas. Ia melihat Tera, kekasih sekaligus rekan seperjuangannya, yang tengah mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Beban berat di pundak Tera terlihat jelas dari cara wanita itu mengatur napasnya yang sesekali memburu.
Melihat kegelisahan yang menyelimuti hati Tera, Arka melangkah mendekat. Tanpa ragu, ia meraih jemari Tera yang dingin dan menggenggamnya erat-erat, seolah ingin menyalurkan seluruh kehangatan dan ketenangan yang tersisa di dalam dirinya.
"Kekuatan kita tidak terletak pada seberapa hebat ilmu yang kita miliki, Tera, melainkan pada ketulusan cinta dan niat kita untuk melindungi sesama," ucap Arka lembut, memantapkan hati Tera.
Suara Arka begitu tenang, mengalir lembut di tengah deru ombak yang memecah karang. Kata-kata itu bukan sekadar pelipur lara, melainkan sebuah jangkar yang menahan jiwa Tera agar tidak hanyut dalam ketakutan yang mencekam.
Tera menoleh, membalas tatapan Arka dengan mata yang berkaca-kaca. Pantulan pendar purnama terpancar jelas di genangan air mata yang hampir tumpah di pelupuk matanya. Ia menarik napas panjang, meresapi setiap suku kata yang diucapkan oleh pria di hadapannya itu.
"Aku tahu, Arka," jawab Tera dengan suara bergetar halus, sarat akan emosi yang tertahan. "Tetapi bayangan mereka yang gugur mendahului kita, bayangan rakyat tak berdosa yang terjebak dalam perang ini... itu semua terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Aku takut kita gagal. Aku takut kehilanganmu."
Arka menggeleng pelan, senyuman tipis tersungging di bibirnya. Ia mengangkat tangan bebasnya untuk mengusap lembut helaian rambut Tera yang tertiup angin malam.
"Ketakutan itu bukti bahwa kita masih manusia, Tera. Justru karena kita takut kehilangan, kita memiliki alasan paling suci untuk berjuang hingga titik darah penghabisan," balas Arka penuh keyakinan. "Ingatlah mengapa kita memilih jalan ini. Kita tidak bertempur untuk kebencian atau kekuasaan, melainkan demi kedamaian yang layak didapatkan oleh anak cucu kita kelak."
Tera terdiam, mencerna setiap makna dari kalimat tersebut. Genggaman tangan Arka yang hangat perlahan meresap ke dalam aliran darahnya, mengusir dinginnya angin malam dan melunturkan keraguan yang sempat mencengkeram dadanya. Perlahan, kepalan tangan Tera mengendur, berganti dengan balasan genggaman yang tak kalah erat.
"Terima kasih, Arka," bisik Tera, sudut bibirnya kini membentuk senyuman tipis yang tulus. "Selama kau ada di sisiku, rasanya tidak ada malam yang terlalu gelap untuk dilewati."
❖ ❖ ❖
Di tengah kehangatan sesaat di antara mereka berdua, suasana malam yang tenang mendadak terusik oleh sebuah suara. Kлёк! Suara ranting patah yang disusul oleh desau angin yang tidak wajar dari arah semak-semak belukar di belakang bukit karang.
Arka seketika melepaskan genggaman tangannya, tubuhnya bergeser cepat menempatkan diri di depan Tera. Tangan kanan Arka secara refleks bertumpu pada hulu pedang pusaka yang terselip di pinggangnya, sementara matanya tajam memindai setiap jengkal kegelapan di sekitar mereka.
"Siapa di sana?" seru Arka tegas, suaranya menggelegar memecah keheningan malam, bersaing dengan suara ombak.
Dari balik bayangan pohon-pohon bakau yang pekat, sesosok bayangan hitam perlahan melangkah maju. Sosok itu mengenakan jubah gelap yang hampir menyatu dengan kegelapan malam, menyembunyikan wajahnya di balik tudung kepala yang lebar. Tanpa sepatah kata pun, sosok tersebut berhenti pada jarak sepuluh langkah dari tempat Arka dan Tera berdiri.
"Kalian terlalu naif jika mengira bisa menikmati rembulan dengan tenang malam ini," suara serak bernada dingin keluar dari balik tudung tersebut, menusuk telinga bagaikan desisan ular beracun.
Tera merapatkan posisinya, berdiri tepat di sisi kiri Arka. Tangannya kini telah menggenggam sebilah belati bermata kembar yang memantulkan cahaya perak bulan. "Tunjukkan wajahmu! Jangan bersembunyi di balik kegelapan jika kedatanganmu bukan untuk pengecut," tantang Tera tajam.
Sosok itu tertawa kecil, suara tawa yang hambar dan mengerikan. Perlahan, ia mengangkat kedua tangannya dan menarik tudung jubah yang menutupi kepalanya. Terpampanglah wajah seorang pria paruh baya dengan bekas luka bakar melintang dari pelipis kiri hingga ke ujung rahangnya, membuat senyumannya tampak mengerikan. Itu adalah Ki Ranu, tangan kanan sang penguasa lalim yang memimpin pasukan musuh.
"Kalian menganggap diri kalian pahlawan penegak kebenaran," geram Ki Ranu, matanya menyipit penuh kebencian menatap Arka dan Tera. "Tetapi di mata Baginda, kalian hanyalah duri dalam daging yang harus segera dicabut sebelum merusak seluruh kerajaan. Dan malam ini, sebelum fajar menyingsing, aku sendiri yang akan memastikan kalian berdua menemui ajal."
Sebelum Arka sempat membalas ucapan provokatif itu, Ki Ranu sudah melompat dengan kecepatan luar biasa. Gerakannya bagaikan bayangan hitam yang membelah angin malam. Di tangannya, sebilah golok bermata lebar berkilat memantulkan cahaya bulan, mengarah langsung ke leher Arka.
"Hati-hati, Arka!" teriak Tera memperingatkan.
Arka tidak tinggal diam. Dengan refleks yang terlatih dalam berbagai medan pertempuran, ia menarik pedangnya keluar dari sarung. Suara logam bergesekan menciptakan bunyi nyaring yang tajam. Trang! Benturan keras terjadi saat pedang Arka beradu dengan golok Ki Ranu, menciptakan percikan api kecil yang berpijar di udara malam yang gelap.
Getaran dari benturan tersebut merambat hingga ke lengan Arka, membuktikan bahwa Ki Ranu tidak main-main dengan tenaganya. Pria paruh baya itu mendengus marah, lalu melompat mundur untuk mengambil jarak, bersiap melancarkan serangan susulan yang lebih mematikan.
❖ ❖ ❖
Pertarungan jarak dekat di atas bukit karang itu berlangsung sengit dan tanpa ampun. Ki Ranu menyerang secara membabi buta, setiap ayunan goloknya mengandung tenaga dalam tingkat tinggi yang mampu membelah batu karang jika meleset. Arka meliuk-liuk menghindari setiap tebasan, membalas dengan tusukan-tusukan cepat yang memaksa Ki Ranu terus bertahan.
Namun, di tengah kesibukan Arka menghadapi Ki Ranu, situasi berubah drastis ketika suara derap kaki berat terdengar dari bawah bukit. Puluhan prajurit bayangan bermasker hitam mendadak muncul dari balik tebing, mengepung tempat Arka dan Tera berdiri. Mereka membawa obor bernyala merah yang menerangi kegelapan, membuat area sekitar bukit karang tampak bagaikan lautan api kecil.