SERI 9: TERATAI SAKTI DARI SAMUDRA SELATAN

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Raja Lautan Berjubah Hitam

Suara deburan ombak di Pantai Karang Hitam mendadak berubah menjadi gemuruh yang menggetarkan dada. Langit yang semula cerah seketika tertutup oleh gulungan awan hitam pekat, seolah-olah malam datang merayap lebih cepat dari yang seharusnya. Angin laut bertiup kencang, membawa aroma asin yang pekat bercampur dengan bau amis darah yang menyengat.

Di bibir pantai, air laut mulai bergolak hebat membentuk pusaran raksasa. Buih-buih putih berhamburan ke udara, tersapu oleh angin ribut yang menderu-deru. Para nelayan di perkampungan terdekat bergegas mengamankan perahu mereka, sementara warga berlarian masuk ke dalam rumah sambil menutup jendela rapat-rapat. Mereka tahu, tanda-tanda alam semacam ini bukanlah badai biasa. Ini adalah pertanda bangkitnya kekuatan purba dari dasar palung terdalam.

"Tutup semua pintu! Jangan ada yang keluar rumah!" teriak Ki Lurah Basuki dengan suara parau namun tegas, mencoba menembus deru angin yang memekakkan telinga.

Dari balik gulungan ombak yang menghantam karang terjal, permukaan air terbelah dua. Siluet besar muncul perlahan, menantang gravitasi dan hukum alam. Dari dalam goa bawah karang yang legendaris, sesosok makhluk raksasa melangkah keluar dengan angkuh.

Ia adalah Sang Raja Iblis Lautan, penguasa mutlak palung laut selatan yang namanya saja sudah cukup membuat anak-anak kecil berhenti menangis ketakutan di malam hari. Sosoknya berdiri tegak setinggi dua kali lipat orang dewasa. Wajahnya menyeramkan dengan kulit kebiruan gelap seperti mayat tenggelam, mata merah menyala yang memancarkan kebiadaban, serta taring tajam yang mencuat keluar dari bibirnya yang pucat. Tubuh kekarnya dibalut oleh jubah hitam tebal yang berkibar liar diterpa angin malam, seolah-olah jubah itu hidup dan menyerap setiap cahaya di sekitarnya.

Kehadirannya langsung memancarkan aura dingin yang menusuk tulang. Rumput-rumput di sekitar pantai seketika membeku, berubah menjadi kristal es putih yang rapuh dalam hitungan detik.

Sang Raja Iblis Lautan menarik napas panjang, menikmati udara daratan yang sudah puluhan tahun tidak ia hirup. Suara tawa menggelegar keluar dari tenggorokannya, memecah keheningan malam dan mengguncang tebing-tebing karang di sekitarnya.

"Ha-ha-ha! Dunia daratan yang rapuh! Setelah sekian lama aku tertidur dalam kurungan segel kuno, akhirnya aku bisa menghirup kebebasan ini kembali!" Suara Raja Iblis Lautan menggelegar bagaikan petir di siang bolong, membuat tanah yang dipijaknya bergetar hebat.

Di balik batu karang besar, Arya—seorang pendekar muda berbaju putih dengan pedang pusaka terselip di pinggangnya—mengepalkan tangan erat-erat. Urat-urat di pelipisnya menonjol, menahan amarah dan ketegangan yang bergemuruh di dalam dadanya. Ia telah memburu makhluk ini selama berbulan-bulan demi membalaskan dendam gurunya yang tewas di tangan sang iblis laut.

"Raja Iblis Lautan! Pelarianmu berakhir di sini!" seru Arya lantang, melompat keluar dari persembunyiannya dan berdiri tegak di atas batu karang yang membeku.

Sang Raja Iblis Lautan menghentikan tawanya. Ia menundukkan kepala, menatap rendah ke arah pemuda yang berdiri di hadapannya bagaikan seekor semut yang berani menantang gajah. Matanya yang merah menyala memicing tajam.

"Bocah tengik. Beraninya kau menghadang jalanku? Apakah nyawamu sudah begitu murah hingga kau datang sendiri mengantarkan kepala ke hadapanku?" geram Raja Iblis Lautan dengan nada merendahkan.

Arya menghunus pedangnya. Kilau baja beradu dengan cahaya bulan yang lolos diantara celah awan hitam, memantulkan tekad baja di wajah sang pendekar muda. "Aku datang untuk menagih utang darah, iblis jahanam! Bersiaplah menghadapi kematianmu!"

❖ ❖ ❖

Pertarungan langsung meletus tanpa aba-aba. Sang Raja Iblis Lautan tidak membuang waktu. Ia mengangkat tangan kanannya yang besar, dan seketika udara di sekitar telapak tangannya berputar kencang, menyerap kelembapan udara hingga berubah menjadi butiran es padat.

Jurus Telapak Karang Samudra!

Sebuah jurus legendaris yang memancarkan hawa dingin pembeku darah. Begitu telapak tangan itu diayunkan ke depan, gelombang hawa dingin yang luar biasa dahsyat meluncur deras seperti naga es menyusur permukaan tanah, mengarah langsung ke dada Arya.

Arya merasakan darah di dalam tubuhnya seperti mendadak membeku. Suhu di sekitarnya turun drastis hingga puluhan derajat di bawah titik beku. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh menerima serangan langsung itu. Dengan kelincahan tingkat tinggi, Arya melompat tinggi ke udara, menghindari terjangan gelombang es yang langsung mengubah batu karang tempat ia berdiri sebelumnya menjadi berkeping-keping serpihan es.

"Cukup lihai juga pergerakanmu, bocah!" cibir Raja Iblis Lautan. Tanpa mengendurkan serangan, sang raja iblis melesat cepat bagaikan bayangan hitam, menutup jarak dalam sekejap mata.

Ia melayangkan pukulan maut langsung ke arah punggung Arya yang masih melayang di udara.

Bum!

Benturan keras terjadi saat Arya menangkis serangan itu menggunakan bagian flat pedangnya. Meskipun berhasil menahan hantaman tersebut, tenaga dalam yang luar biasa besar membuat tubuh Arya terpental mundur sejauh belasan meter. Ia mendarat dengan lutut menumpu di tanah yang kini telah membeku sepenuhnya. Napasnya memburu, dan embun tipis keluar dari setiap hembusan napasnya. Lengan kanannya terasa mati rasa akibat merambatnya hawa dingin dari jurus sang musuh.

"Bagaimana? Apakah jurusku sudah cukup membuatmu menikmati kematian, Pendekar Muda?" ucap Raja Iblis Lautan dengan senyum seringai mengerikan yang menampilkan taring-taring tajamnya.

Arya menggertakkan gigi, mengalirkan seluruh tenaga dalam ke seluruh meredian tubuhnya untuk mengusir hawa dingin yang mulai mengancam jantungnya. "Jangan sombong dulu, Iblis! Kau belum melihat kemampuan yang sesungguhnya!"

Arya bangkit perlahan, berdiri tegak meskipun sekujur tubuhnya terasa kaku. Ia merapal jurus pamungkas perguruannya, Pedang Bayangan Langit. Pedang di tangannya mulai berdengung nyaring, mengeluarkan cahaya keemasan yang hangat, perlahan-lahan mencairkan es yang membelenggu kakinya.

Melihat cahaya keemasan itu, sorot mata Raja Iblis Lautan sedikit menyipit. Ada sedikit keheranan di balik wajah menyeramkannya, namun rasa angkuh segera mendominasi kembali pikirannya.

"Cahaya murahan dari perguruan rendahan! Biar kupecahkan pedangmu beserta tulang-tulangmu!" teriak Raja Iblis Lautan. Ia kembali merapatkan kedua telapak tangannya, memusatkan seluruh kekuatan Jurus Telapak Karang Samudra ke tingkat tertinggi.

Udara di sekitar pantai mendadak hampa. Badai salju kecil tercipta di sekeliling tubuh sang raja iblis, membuat penampilannya tampak semakin menakutkan bagaikan dewa kematian dari dasar samudra.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya