Suara gemuruh air laut yang menghantam dinding karang terdengar begitu memekakkan telinga, bersahutan dengan deru angin laut lepas yang bertiup kencang di ujung kepulauan terpencil. Di hadapan sebuah celah batu karang yang besar dan tampak angker, Arka dan Tera berdiri berdampingan. Di belakang mereka, kedelapan sahabat setia—Bara, Kirana, Seno, Lintang, Bayu, Rinjani, Dirga, dan Melati—siap siaga dengan kuda-kuda yang kokoh. Perjalanan panjang dan melelahkan menyeberangi lautan ganas akhirnya membawa mereka tepat di depan mulut Goa Pusaran Air, tempat penyimpanan salah satu kunci rahasia yang diincar oleh perkumpulan Tujuh Gerbang Samudera.
"Dari informasi yang kita dapatkan dari peta kuno itu, bagian dalam goa ini menyimpan lorong labirin yang mengarah langsung ke ruang utama penyimpanan artefak," kata Lintang sambil menggulung peta kulit rusa di tangannya, matanya menatap tajam ke arah kegelapan pekat di dalam celah batu.
"Tetapi tempat ini terkenal angker dan berbahaya, bahkan para nelayan lokal tidak ada yang berani mendekati radius satu kilometer dari bibir karang ini," sahut Seno sambil merapikan ikatan kain di lengan kanannya yang sempat terluka dalam perjalanan laut sebelumnya.
Arka mengangguk pelan, tatapannya menyapu setiap sudut dinding karang yang ditumbuhi lumut hijau licin. "Kita tidak punya pilihan lain. Waktu kita sangat terbatas sebelum para anak buah musuh mengejar jejak kita dari pulau seberang."
"Benar kata Arka. Kita harus bergerak cepat dan tetap dalam formasi rapat," tambah Tera dengan suara tenang namun tegas, tangannya sudah memegang hulu pedangnya erat-erat.
Tanpa buang waktu lagi, Arka memimpin langkah pertama memasuki celah sempit goa karang tersebut. Suasana di dalam langsung berubah drastis menjadi gelap gulita dan terasa pengap. Bau garam yang pekat bercampur dengan aroma amis lumpur laut memenuhi rongga pernapasan mereka. Hanya cahaya pijar dari batu lumut bercorak biru samar di dinding goa yang membantu menerangi jalan setapak berbatu yang licin.
Mereka berjalan menyusuri lorong sempit yang semakin lama semakin menurun ke bawah, mengarah tepat ke dasar permukaan laut. Suara tetesan air yang jatuh berirama dari langit-langit goa menciptakan gema menyeramkan, seolah menyambut kedatangan para tamu tak diundang dengan seringai kematian.
"Kalian dengar suara itu?" bisik Melati tiba-tiba, menghentikan langkahnya dan memegang lengan Rinjani dengan erat.
"Suara apa, Melati?" tanya Rinjani waswas, memasang telinga baik-baik di tengah keheningan lorong.
"Seperti suara air yang bergemuruh dalam jumlah besar, tetapi datang dari arah bawah kaki kita," jawab Melati dengan napas mulai memburu.
Belum sempat siapa pun menjawab, lantai batu di bawah pijakan mereka tiba-tiba bergetar hebat. Getaran itu disusul oleh suara dentuman keras dari ujung lorong depan, bagaikan raksasa yang baru saja mendobrak pintu gerbang bawah tanah. Dari arah depan, embusan angin lembap bercampur buih air laut mendadak menerpa wajah mereka dengan kekuatan luar biasa.
"Awas! Ada mekanisme tersembunyi yang baru saja aktif!" seru Bara memperingatkan, merentangkan tangannya untuk melindungi Kirana dan Lintang yang berada tepat di belakangnya.
Sebelum mereka sempat berbalik arah untuk menyelamatkan diri, sebuah dinding batu raksasa di belakang mulut goa mendadak bergeser dengan suara decitan logam dan batu yang memekakkan telinga. Pintu batu tebal itu menutup dengan kecepatan kilat, memutuskan satu-satunya jalur cahaya matahari dan jalan keluar yang mereka miliki.
Dalam hitungan detik, seluruh ruangan di dalam goa terjebak dalam kegelapan pekat yang mencekam.
❖ ❖ ❖
"Pintu masuknya tertutup rapat!" teriak Dirga dengan nada panik, berlari ke arah belakang dan mencoba mendorong lempengan batu raksasa tersebut dengan sekuat tenaga. Namun, batu itu tidak bergeming sedikit pun, seolah menyatu dengan dinding karang yang kokoh.
"Jangan panik, Dirga! Tenangkan dirimu dan simpan tenaga!" seru Arka dari bagian depan kelompok, mencoba menjaga kestabilan mental teman-temannya di tengah situasi yang mendadak berubah menjadi mimpi buruk.
Suara gemuruh air yang tadi terdengar sayup-sayup kini meledak menjadi suara deburan dahsyat. Dari lubang-lubang ventilasi tersembunyi di dinding bawah goa, air laut mulai membanjiri ruangan dengan volume yang sangat besar. Air asin yang dingin itu menerjang masuk bagaikan air bah, merendam mata kaki mereka dalam sekejap, lalu dengan cepat merambat naik hingga mencapai lutut dalam hitungan detik.
"Airnya masuk dengan sangat cepat! Kita bisa tenggelam di dalam ruangan tertutup ini!" seru Bayu sambil mengangkat senjatanya agar tidak basah sepenuhnya.
"Ini bukan sekadar banjir biasa. Perhatikan pola aliran airnya," kata Tera dengan mata menyipit tajam, mencoba membaca situasi di tengah remang-remang cahaya batu lumut. "Ini adalah sistem jebakan air pasang buatan. Ruangan ini dirancang untuk berfungsi sebagai mangkuk raksasa yang berputar."
Benar apa yang dikatakan Tera. Arus air yang masuk dari berbagai celah dinding tidak langsung mengalir rata, melainkan saling berbenturan dan membentuk sebuah pusaran air raksasa di bagian tengah ruangan goa. Pusaran itu berputar semakin kencang, menciptakan daya sedot luar biasa kuat yang menarik apa saja di sekitarnya ke arah lubang pembuangan di dasar goa yang gelap.
"Kita terjebak di dalam pusaran air maut!" seru Seno, tubuhnya mulai terhuyung-huyung saat arus air di sekitar mereka mulai berputar liar dan menyeret pijakan kaki mereka.
"Pegang tangan satu sama lain! Jangan sampai ada yang terlepas!" perintah Arka dengan suara menggelegar, mengatasi suara gemuruh air yang semakin memekakkan telinga.
Kesepuluh sahabat itu segera saling berpegangan tangan, membentuk sebuah lingkaran rantai manusia yang kokoh untuk melawan tarikan arus pusaran yang semakin ganas. Bara dan Bayu, yang memiliki postur tubuh paling tegap dan kekuatan fisik terbesar, berdiri di bagian terdepan lingkaran, menahan hantaman air yang terus mendesak tubuh mereka ke arah dinding batu yang tajam.
"Kekuatan arus ini luar biasa berat!" teriak Bara, otot-otot di lengan dan lehernya menonjol keluar akibat mengerahkan seluruh tenaga dalam yang ia miliki. "Kita tidak akan bisa bertahan lama jika terus berdiri di sini!"
"Kita harus mencari titik tumpuan yang lebih tinggi di dinding goa sebelum airnya merendam seluruh ruangan!" usul Kirana sambil menunjuk ke arah sebuah tonjolan batu karang yang agak menonjol di ketinggian tiga meter di atas permukaan air yang terus naik.
"Ide bagus! Lintang, Rinjani, bantu yang lain naik ke atas sana terlebih dahulu!" seru Tera, sementara ia sendiri berdiri berdampingan dengan Arka untuk melindungi bagian belakang kelompok dari terjangan gelombang air yang datang beruntun.
Suasana di dalam goa semakin kacau dan menegangkan. Air laut kini telah mencapai dada mereka, membuat gerakan fisik menjadi sangat lambat dan berat. Pusaran air di tengah ruangan semakin membesar, menciptakan suara desisan air yang menakutkan, siap menelan siapa saja yang kehilangan keseimbangan walau hanya sedetik.
❖ ❖ ❖
"Cepat, raih tanganku!" seru Lintang kepada Melati yang kesulitan menggapai tonjolan batu karang di atas akibat tinggi air yang terus merangkak naik mencapai leher mereka.