Desau angin laut yang bergemuruh di luar tebing karang Pantai Selatan berpadu dengan suara deburan ombak besar yang menghantam dinding batu berlapis lumut. Di dalam rongga terowongan bawah tanah yang sempit, suasana terasa begitu menyesakkan. Air laut pasang mendadak masuk dengan volume luar biasa besar, menerjang lorong-lorong batu tempat Kamil dan tim khususnya terjebak tanpa jalan keluar yang jelas.
"Airnya bergerak terlalu cepat! Kita bisa tenggelam sebelum sempat mencapai ujung lorong!" teriak Fathan dengan suara parau, berusaha menahan terjangan arus deras yang kini telah mencapai lutut mereka.
Galin di sampingnya mengatupkan rahang, mengerahkan seluruh tenaga dalamnya untuk menahan hantaman kayu balok yang terbawa arus agar tidak menghantam rekan-rekan mereka. "Kamil! Pikirkan sesuatu! Jalur utama di depan sudah sepenuhnya tertutup oleh longsoran batu karang!"
Di tengah kepanikan yang mencengkeram seluruh anggota tim, Kamil berdiri tegak di atas sebuah batu besar yang setengah terendam. Matanya menyapu dinding-dinding goa dengan tatapan tajam, mengabaikan cipratan air asin yang terus menerpa wajahnya. Otaknya bekerja dengan kecepatan penuh, membaca pola rembesan air dan struktur geologi batu karang di sekitarnya.
Sebagai pemimpin taktik kelompok tersebut, Kamil tahu bahwa kepanikan hanya akan mempercepat kematian mereka. Ia tidak boleh salah mengambil langkah.
"Fathan, Galin, jangan sia-siakan tenaga kalian untuk melawan arus secara langsung!" seru Kamil lantang, suaranya memotong deru air yang memekakkan telinga. "Perhatikan dinding di sebelah kiri kalian! Lihat bagaimana warna batu di sana tampak lebih gelap dan berpori!"
Fathan menolehkan kepalanya, memicingkan mata di tengah remang-remang cahaya obor yang hampir padam. "Batu itu tampak lapuk, Kamil! Tapi itu adalah dinding pembatas luar yang langsung menghadap ke laut lepas!"
"Justru itu kelemahannya!" jawab Kamil dengan senyuman tipis di balik ketegangan wajahnya. Dengan kecerdikan luar biasa yang menjadi ciri khasnya, Kamil telah membaca bahwa dinding goa yang rapuh tersebut merupakan sisa kikisan ombak purba yang rongganya telah keropos di bagian dalam.
"Jika kita menghantam titik temu antara urat batu tua itu dengan saluran pembuangan alami di bawahnya, tekanan air justru akan membantu kita membelah dinding tersebut tanpa harus menghancurkan seluruh tebing," lanjut Kamil menjelaskan teorinya dengan cepat dan terstruktur.
Galin mengerutkan kening, mencoba memahami strategi yang tidak biasa itu. "Kau yakin, Kamil? Kalau perhitunganmu meleset sedikit saja, runtuhan batu itu akan mengubur kita hidup-hidup di dalam terowongan ini!"
"Aku tidak pernah salah dalam membaca struktur batu karang, Galin. Percayalah padaku," jawab Kamil mantap, menepuk bahu kedua rekannya untuk menyalurkan keyakinan. "Kita tidak punya pilihan lain. Waktu kita tinggal beberapa detik sebelum air sepenuhnya memenuhi rongga goa ini."
❖ ❖ ❖
Suasana di dalam lorong goa semakin menegang. Permukaan air kini telah naik hingga sepinggang orang dewasa, membuat pergerakan mereka menjadi jauh lebih lambat dan berat. Obor terakhir yang mereka miliki berkedip-kedip lemah sebelum akhirnya padam sepenuhnya, menyisakan kegelapan pekat yang hanya diterangi oleh kilatan cahaya fosfor alami dari dinding karang basah.
"Baiklah, Kamil! Kami serahkan keselamatan tim ini padamu!" seru Fathan sambil menarik napas dalam-dalam, memusatkan seluruh tenaga dalamnya ke kedua telapak tangannya. Otot-otot di lengan Fathan menegang kencang, memancarkan pendar keperakan yang menandakan kesiapan jurus Pukulan Besi Membelah Bumi.
"Galin, posisikan dirimu dua meter di sebelah kanan Fathan. Berikan dorongan tenaga dalam secara horizontal tepat saat Fathan menghantam titik pusatnya," instruksi Kamil dengan nada tegas, menunjuk sebuah celah kecil berbentuk lingkaran di permukaan dinding karang yang rapuh.
"Mengerti!" balas Galin singkat. Ia segera merapatkan kuda-kudanya di tengah terjangan air yang semakin liar, menyatukan kedua tangannya di depan dada untuk menghimpun energi dari jurus Tenaga Bayangan Gunung.
Kamil sendiri bergerak cepat ke sisi depan, menempatkan dirinya sebagai pengarah arus sekaligus penjaga keseimbangan agar tim tidak terseret oleh gelombang balik yang sewaktu-waktu bisa datang menghantam.
"Pada hitungan ketiga, kerahkan seluruh tenaga kalian sekaligus! Satu... Dua... Tiga... Hantam!" teriak Kamil mengomando.
Bum!
Sebuah ledakan tenaga dalam yang luar biasa dahsyat mengguncang isi perut bumi. Fathan dan Galin menghantam dinding batu karang yang rapuh secara bersamaan dengan presisi tingkat tinggi. Benturan tersebut menciptakan gelombang kejut yang merambat melalui pori-pori batu, memicu reaksi berantai di sepanjang struktur goa yang sudah lama keropos.
Namun, alih-alih langsung jebol ke luar, dinding batu tersebut justru mengeluarkan suara derak yang mengerikan. Retakan-retakan besar berbentuk jaring laba-laba seketika menjalar ke segala arah, sementara air laut di dalam lorong berputar kencang membentuk pusaran kecil akibat perubahan tekanan udara yang mendadak.
"Ada yang tidak beres, Kamil! Dinding itu lebih tebal dari perkiraan kita!" teriak Fathan dengan napas tersenggal-senggal, menahan beban tekanan balik dari batu karang yang keras.
"Jangan hentikan aliran tenaga kalian!" geram Kamil, melompat maju untuk menyalurkan tambahan tenaga dalamnya ke punggung Fathan. "Tahan sebentar lagi! Saluran pembuangan alami di balik dinding itu sudah mulai merespons tekanan air!"
Tekanan air dari luar terowongan terus mendesak masuk dengan kekuatan ribuan ton, menghimpit ruang gerak mereka semakin sempit. Keringat dingin bercampur dengan air laut membasahi seluruh tubuh Kamil dan rekan-rekannya, sementara detik-detik penentuan terasa berjalan begitu lambat dan menyiksa.
❖ ❖ ❖
Keadaan mencapai titik kritis ketika retakan di dinding karang tiba-tiba menyemburkan air bertekanan tinggi, menciptakan suara siulan nyaring yang memekakkan telinga. Air laut yang dingin meresap masuk melalui celah-celah kecil, membawa serpihan batu tajam yang melukai kulit beberapa anggota tim pendukung di barisan belakang.
"Aduh!" jerit salah seorang anggota tim bernama Soni, lengannya tergores batu tajam yang terlempar oleh tekanan air.