SERI 9: TERATAI SAKTI DARI SAMUDRA SELATAN

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Keanggunan Tarian Selendang

Malam merayap turun di atas lautan luas, membawa serta angin dingin yang menusuk tulang hingga ke dasar samudra. Di sebuah altar batu raksasa yang terendam air setinggi mata kaki, ribuan obor ajaib menyala memancarkan cahaya biru berpendar, menerangi ruangan bawah air terbuka yang dikelilingi oleh pilar-pilar karang raksasa. Tempat ini adalah ruang altar tersembunyi milik Pasukan Bahari Hitam, sebuah tempat suci sekaligus arena eksekusi bagi siapa saja yang berani menentang kekuasaan Raja Iblis Lautan di wilayah perairan selatan.

Di tengah-tengah altar yang digenangi air tenang menyerupai cermin raksasa itu, berdiri seorang gadis berbusana sutra putih bersih dengan hiasan rambut mutiara yang berkilau lembut. Gadis itu adalah Tera, seorang pendekar wanita berhati baja dari Sekte Selendang Samudra. Wajahnya tampak tenang, namun sepasang matanya memancarkan ketegasan yang mampu meruntuhkan nyali prajurit mana pun. Di sekelilingnya, puluhan bajak laut pilihan mengepung dengan senjata terhunus—rantai berduri besi dan trisula beracun yang siap merobek daging siapa saja dalam sekejap.

"Tera, menyerahlah!" seru seorang komandan bajak laut berwajah garang dengan parut melintang di pipi kanannya, menunjuk ujung trisulanya tepat ke arah dada gadis itu. "Ruang altar ini sudah dikelilingi oleh ratusan pasukan elit kami. Kau tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup, apalagi membawa pergi pusaka mutiara air!"

Tera menarik napas panjang, meresapi hawa dingin air yang membasahi telapak kakinya. Ia sama sekali tidak menunjukkan rasa gentar. Tangannya perlahan merentangkan sehelai selendang putih tipis yang terbuat dari benang sutra laut pilihan—sebuah senjata pusaka yang memadukan keindahan seni tari dan kekuatan tenaga dalam tingkat tinggi.

"Kalian boleh mengumpulkan seluruh bajak laut di samudra ini, Komandan Guntur," jawab Tera dengan suara lembut namun tegas, bergema memantul di dinding-dinding batu karang altar. "Tetapi ketahuilah, kejahatan yang kalian tegakkan di atas penderitaan rakyat pesisir tidak akan pernah mendapat tempat di dunia persilatan ini!"

"Gadis sombong!" geram Komandan Guntur dengan wajah memerah karena marah. "Beri pelajaran dia! Jangan biarkan ia bernapas keluar dari altar ini!"

Mendengar perintah itu, puluhan bajak laut langsung melompat serentak bersamaan. Rantai-rantai besi berduri meluncur deras dari berbagai arah, mendesing di udara bagaikan sekumpulan ular berbisa yang siap membelit mangsanya. Cipratan air beracun disemburkan dari mulut beberapa prajurit bayaran, menciptakan kabut ungu pekat yang langsung berbau busuk dan mematikan di sekitar altar.

Namun, di tengah hujan serangan yang mematikan itu, Tera mulai bergerak. Ia tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun, melainkan mulai melangkah dengan ritme gemulai yang menyerupai sebuah tarian suci dari negeri kayangan.

❖ ❖ ❖

Di atas permukaan air yang menggenangi lantai altar, Tera melompat ringan bagaikan sehelai bulu angsa yang ditiup angin sepoi-sepoi. Kakinya menyentuh air tanpa menimbulkan riak yang berarti, seolah-olah ia sedang berjalan di atas hamparan permadani sutra yang kokoh.

Syuut!

Selendang putih di tangannya berputar anggun bagaikan teratai mekar di atas samudra. Gerakannya begitu cepat namun penuh keindahan seni, memadukan kelembutan gerak tari dengan tenaga dalam murni yang membara. Ketika cipratan air beracun menyambar ke arah wajahnya, Tera memutar selendangnya membentuk sebuah perisai angin melingkar.

Desisss!

Air beracun itu terpental balik akibat hantaman tenaga dalam selendang putih, mengenai dinding karang di dekatnya hingga batu tersebut mendesis dan berlubang mengeluarkan asap hitam. Para bajak laut yang melihat kejadian itu terbelalak kaget, tidak menyangka seorang gadis muda mampu menangkis racun pusaka mereka dengan begitu mudah.

"Jangan biarkan dia bergerak bebas! Perketat jaring rantai!" teriak Komandan Guntur panik, memberikan instruksi kepada anak buahnya yang mulai kebingungan.

Tiga orang bajak laut bertubuh kekar melemparkan jaring rantai besi berduri secara bersamaan, membentuk jaring laba-laba raksasa di udara yang mengurung seluruh jalur pergerakan Tera. Rantai-rantai tersebut berderak nyaring, siap merobek pakaian dan kulit sang gadis jika ia terlambat sepersekian detik saja.

Tera menyipitkan matanya. Ia melompat berputar di udara dengan posisi tubuh horizontal, selendang putihnya dikibaskan bagaikan sayap burung garuda.

Kring! Trang!

Suara benturan logam berdengking keras memenuhi ruangan altar. Dengan ketepatan yang luar biasa, ujung selendang sutra Tera yang dialiri tenaga dalam tingkat tinggi berhasil merobek jaring rantai musuh menjadi berkeping-keping. Besi-besi keras itu patah berserakan jatuh ke dalam genangan air altar, menciptakan cipratan riak putih yang memukau.

"Ilmu silat macam apa ini?!" seru salah satu bajak laut dengan nada ketakutan, mundur tiga langkah ke belakang sambil menatap selendang di tangan Tera yang kini memancarkan cahaya putih keperakan.

"Itu adalah Tarian Selendang Penjinak Gelombang!" sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari sudut gelap altar, membuat seluruh prajurit bajak laut langsung membungkuk hormat.

Dari balik bayang-bayang pilar karang terbesar, sesosok pria paruh baya bertubuh tinggi besar dengan jubah biru tua melangkah keluar. Ia adalah Jendral Lautan Biru, tangan kanan utama Raja Iblis Lautan yang terkenal memiliki ilmu silat telapak air tingkat sepuluh. Senyum dingin tersungging di bibirnya yang tipis saat ia menatap tajam ke arah Tera.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya