Udara di dalam perut bumi terasa begitu pekat, sarat akan hawa dingin purba yang membekukan sumsum tulang. Di kedalaman Gua Sakral, sebuah rongga raksasa tersembunyi jauh dari jangkauan cahaya matahari. Dinding-dinding batu goa tersebut memancarkan pendar pirus samar-samar, menerangi tetesan air yang jatuh secara konstan dari stalaktit runcing di langit-langit yang tinggi menjulang. Di tengah ruangan yang luas dan sunyi itu, berdiri sebuah altar batu hitam legam yang diukir menyerupai kelopak bunga teratai raksasa yang sedang merekah sempurna. Di atas pusat pahatan teratai tersebut, terbaring sebuah lempengan batu giok putih bersih, memancarkan cahaya keemasan lembut yang menepis segala kegelapan di sekitarnya. Itulah Kitab Teratai Sakti, pusaka legendaris yang menyimpan rahasia kekuatan tertinggi dunia persilatan.
Dua sosok pemuda berdiri terpaku di hadapan altar suci itu. Arya menarik napas dalam-dalam, merasakan denyut energi murni yang beresonansi langsung dengan tenaga dalam di dalam tubuhnya. Di sebelah kirinya, Kirana menatap lempengan batu giok itu dengan mata terbelalak, kagum sekaligus waspada. Suara deburan air bawah tanah bergemuruh pelan di kejauhan, menciptakan latar belakang suara yang khidmat namun mencekam.
"Hati-hati, Arya," bisik Kirana, suaranya bergetar pelan di dalam keheningan goa. "Hawa di sekitar altar ini terasa sangat berat. Seolah-olah ada segel tak kasat mata yang melindungi kitab tersebut dari tangan-tangan yang tidak berhak."
Arya mengangguk perlahan, jemarinya menggenggam erat hulu pedang pusaka di pinggangnya. "Aku merasakannya, Kirana. Kitab Teratai Sakti ini bukan sekadar lembaran teks biasa. Setiap goresan pahatan aksara di atas giok itu memuat kekuatan spiritual yang mampu mengubah jalannya sejarah dunia persilatan jika jatuh ke tangan yang salah."
Sebelum Kirana sempat menjawab, sebuah getaran hebat tiba-tiba mengguncang seluruh lantai goa. Bebatuan kecil berjatuhan dari langit-langit, dan pendar pirus di dinding goa mendadak meredup, digantikan oleh gelombang aura hitam pekat yang mendesak masuk dari mulut terowongan utama. Suhu ruangan drop drastis, mengubah uap air menjadi kristal es tipis yang beterbangan di udara.
"Mereka sudah datang!" seru Kirana, langsung mencabut belati kembar peraknya.
Dari balik kegelapan terowongan, suara tawa menggelegar yang memekakkan telinga memecah keheningan. Suara itu begitu berat dan penuh dominasi, membuat dada siapa pun yang mendengarnya terasa sesak seketika. "Ha-ha-ha! Kerja bagus, bocah-bocah bodoh! Kalian telah membukakan jalan menuju pusaka agung ini tanpa harus mengotori tangan ku!"
❖ ❖ ❖
Sosok raksasa melangkah keluar dari bayangan terowongan, mengenakan jubah keemasan bermotif ombak darah yang berkibar megah meskipun tidak ada angin. Dialah Raja Iblis Lautan, penguasa tirani dari wilayah perairan selatan yang terkenal kejam, memiliki tingkat ilmu hitam yang sudah mencapai tataran dewa maut. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya dipenuhi bekas luka masa lalu yang mengerikan, dan sepasang matanya menyala merah terang di dalam kegelapan goa.
Di belakangnya, belasan pengawal elit berbaju zirah hitam berdiri siaga dengan tombak bercabang di tangan mereka, langsung menyebar untuk memblokade seluruh jalur keluar dari ruangan altar tersebut.
"Raja Iblis Lautan!" geram Arya, melangkah maju untuk melindungi Kirana dan berdiri tepat di antara sang tiran dan altar batu giok. "Jangan bermimpi bisa menyentuh Kitab Teratai Sakti!"
Raja Iblis Lautan berhenti sepuluh langkah dari altar. Ia melirik remeh ke arah Arya, lalu mengalihkan pandangannya pada lempengan giok putih yang bercahaya keemasan di atas altar teratai. Senyum penuh nafsu serakah terukir di bibirnya yang tipis. "Bocah lancang, keberadaan kalian di sini hanya sebagai alat pelebur segel terakhir. Sekarang, enyah dari hadapanku sebelum aku meremukkan tulang-tulang kalian menjadi debu!"
"Langkahi dulu mayat kami jika kau ingin mengambil kitab itu!" balas Kirana dengan suara lantang, menyalurkan tenaga dalamnya hingga belati kembar peraknya memancarkan kilau menyilaukan.
"Bagus! Aku suka semangat anak muda yang keras kepala," ejek Raja Iblis Lautan. Ia mengangkat tangan kanannya, dan seketika gelombang energi hitam pekat berputar di telapak tangannya, membentuk cakar bayangan raksasa. "Terimalah pembalasan dari telapak pemusnah jiwa!"
Tanpa aba-aba tambahan, Raja Iblis Lautan mengibaskan tangannya ke depan. Cakar bayangan raksasa melesat dengan kecepatan kilat, membelah udara goa dan mengarah langsung ke dada Arya dan Kirana. Tekanan angin dari serangan itu begitu kuat hingga lantai batu di bawah kaki mereka retak bercabang-cabang.
Arya tidak punya waktu untuk berpikir panjang. Ia menarik Kirana ke belakang tubuhnya, lalu menghunus pedangnya dan menebaskan bilah besi itu ke depan dengan mengerahkan seluruh kekuatan Ilmu Pedang Langit Biru.
Bum!
Benturan hebat antara energi hitam dan cahaya biru pedang menciptakan ledakan tenaga dalam yang mengguncang seluruh ruangan goa. Arya terpental mundur tiga langkah, darah segar merembes keluar dari sudut bibirnya, sementara Kirana jatuh berlutut dengan napas memburu akibat menahan sisa gelombang kejut tersebut.
❖ ❖ ❖
Ruangan goa kini dipenuhi oleh debu tebal dan aroma belerang yang menyengat. Raja Iblis Lautan tidak memberi kesempatan kepada kedua pemuda itu untuk memulihkan diri. Dengan gerakan secepat kilat, tubuh raksasanya melesat menembus kepulan debu, langsung melompat melewati posisi Arya dan Kirana untuk mendarat tepat di depan altar batu giok tempat Kitab Teratai Sakti berada.