SERI 9: TERATAI SAKTI DARI SAMUDRA SELATAN

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Penawar Racun Murni

Angin malam yang berembus kencang di dataran tinggi Lembah Kematian membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Di tengah kegelapan yang diselimuti kabut tebal, dua sosok wanita berdiri berdampingan di atas sebuah gundukan tanah berbatu. Mereka adalah Chafia dan Zahra, dua srikandi dari perguruan penjaga warisan leluhur yang terkenal karena kecerdasan mereka dalam meracik obat serta keteguhan hati dalam menghadapi marabahaya. Di hadapan mereka, pasukan musuh dari faksi pemberontak telah mengepung perkemahan utama dengan formasi yang rapat, membawa ancaman kehancuran yang nyata.

Chafia merapatkan jubah pelindungnya sambil menatap ke arah barisan musuh di kejauhan. Matanya menyipit di balik kegelapan malam, mengamati setiap gerak-gerik mencurigakan dari para prajurit bayaran yang dipimpin oleh panglima kejam bernama Graha. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah tabung bambu kecil berisi serbuk putih kekuningan yang memancarkan aroma herbal menyengat. Serbuk itu adalah hasil eksperimen panjang mereka berdua, sebuah penawar racun murni yang dirancang khusus untuk menghadapi gas kimia berbahaya milik musuh.

"Zahra, perhatikan barisan depan mereka," bisik Chafia dengan suara tertahan, menjaga agar suaranya tidak terbawa angin malam yang menderu. "Para pengawal khusus Graha mulai mengeluarkan tabung-tabung lontar dari punggung mereka. Mereka bersiap menggunakan taktik kotor."

Zahra, yang sedang melilitkan kain basah di sekitar hidung dan mulutnya, mengangguk tegas. Tangannya dengan lincah memeriksa kantung-kantung kecil yang tergantung di sabuk pinggangnya. "Aku sudah menduganya, Chafia. Graha tidak akan pernah bertindak ksatria. Setelah gagal memenangi pertarungan pedang secara terbuka, mereka pasti akan menggunakan racun udara untuk melumpuhkan pertahanan kita seketika."

"Kita tidak boleh membiarkan gas itu menyentuh tanah perkemahan," jawab Chafia mantap. "Jika uap beracun itu sampai menyebar ke tenda-tenda pengungsian di belakang, para warga sipil dan pejuang yang terluka tidak akan memiliki kesempatan untuk menyelamatkan diri."

Suasana di sekitar mereka mendadak menjadi sangat sunyi, seolah alam sendiri menahan napas menyambut bentrokan yang akan terjadi. Dari kegelapan barisan musuh, suara logam bergesekan terdengar nyaring, diikuti oleh aba-aba teriakan berat yang membelah keheningan malam.

"Bersiaplah! Mereka mulai bergerak!" seru Zahra memperingatkan, mengangkat tangannya tinggi-tinggi sambil menggenggam erat tabung penawar di telapak tangannya.

Di seberang lapangan terbuka, puluhan pengawal musuh secara bersamaan membuka katup tabung lontar logam di tangan mereka. Dalam hitungan detik, desis tajam terdengar bersahutan, disusul oleh kepulan asap tebal berwarna hijau pekat yang melesat cepat ke udara, bergulung-gulung membentuk awan beracun yang mematikan. Uap beracun itu langsung menyebar dengan cepat, menyengat mata dan membakar tenggorokan siapa saja yang menciumnya, bergerak agresif meluncur lurus menuju posisi Chafia dan Zahra.

Chafia menarik napas dalam-dalam, menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh. "Sekarang, Zahra!" serunya.

❖ ❖ ❖

Awan hijau pekat itu meluncur bagaikan ombak beracun yang siap menelan apa saja di jalurnya. Bau belerang dan busuk yang menyengat langsung mencemari udara malam, membuat para pejuang di lini belakang terbatuk-batuk hebat. Namun, di garis depan, Chafia dan Zahra tidak menunjukkan sedikit pun rasa panik. Mereka telah memperhitungkan arah angin dan kecepatan sebaran gas tersebut sejak detik pertama musuh menarik pelatuk tabung lontar mereka.

"Lempar sekarang!" komando Zahra dengan suara tegas.

Tanpa ragu sedikit pun, kedua wanita itu mengayunkan tangan mereka secara serentak ke arah udara. Tabung bambu kecil yang merekapegang terbuka di tengah jalan, melepaskan ribuan butir serbuk pembersih udara halus yang langsung berhamburan menyambut gumpalan asap hijau tersebut. Reaksi kimia terjadi seketika di udara terbuka. Begitu serbuk penawar murni buatan Chafia bersentuhan dengan gas beracun musuh, warna hijau pekat itu perlahan-lahan memudar, berubah menjadi putih bersih.

Dalam hitungan detik, uap beracun penyengat mata yang tadinya mematikan itu berubah total menjadi uap harum beraroma melati dan daun mint yang menyegarkan. Asap berbahaya tersebut lenyap tanpa sisa, digantikan oleh embusan angin wangi yang menenangkan seluruh prajurit di perkemahan.

Dari balik barisan musuh, suara umpatan keras terdengar menggema. Graha, sang panglima pemberontak, melangkah maju ke depan dengan wajah merah padam karena amarah. Matanya menatap tajam ke arah Chafia dan Zahra yang berdiri tenang di balik kepulan uap harum tersebut.

"Apa yang terjadi?! Bagaimana mungkin racun maut itu bisa lenyap begitu saja?!" bentak Graha kepada para pengawalnya dengan suara menggelegar.

"Panglima, racun kita... racun kita dinetralkan oleh gadis-gadis itu!" jawab salah seorang pengawal dengan nada gemetar ketakutan, menatap tidak percaya pada tabung-tabung kosong di tangan mereka.

Chafia melangkah maju selangkah, menatap Graha dengan senyum tipis penuh percaya diri. "Taktik murahanmu sudah basi, Graha! Kau pikir racun buatan tangan kotor kalian bisa menembus pertahanan kami? Perguruan kami telah mempelajari ribuan jenis racun alam selama puluhan tahun. Senjata kimia murahan seperti itu tidak ada apa-apanya!"

"Kurang ajar!" geram Graha. Ia menghunus pedang panjang bermata dua dari sarungnya. "Jangan biarkan kedua perempuan itu hidup! Serbu mereka sekarang juga! Hancurkan pertahanan mereka sampai rata dengan tanah!"

Mendengar perintah sang panglima, puluhan prajurit bayaran musuh kembali menerjang maju dengan teriakan garang. Mereka berlari membawa tombak dan pedang terhunus, merangsek menembus sisa-sisa uap harum yang masih melayang di udara malam.

Zahra menarik pedang pendek bersarung perak dari pinggangnya. Logam itu berdenting nyaring saat ditarik keluar, memantulkan cahaya bulan sabit yang mulai tertutup awan mendung.

"Mereka datang menyerang secara membabi buta, Chafia," ucap Zahra tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari barisan musuh yang semakin mendekat.

"Bagus," balas Chafia, meraba belati beracun penawar di balik jubahnya. "Itu berarti mereka melangkah masuk langsung ke dalam perangkap kita."

Lihat selengkapnya