SERI 9: TERATAI SAKTI DARI SAMUDRA SELATAN

Amrullah Ibrahim
Chapter #16

Pertempuran Dahsyat

Suara deburan ombak menghantam dinding karang tajam dengan kekuatan yang memekakkan telinga, menciptakan buih putih yang melayang diterpa angin laut malam. Di atas hamparan pasir kasar dan batu karang yang licin akibat lumut, sebuah pertempuran kolosal baru saja meletus keluar dari perut goa rahasia. Bentrokan senjata tajam beradu nyaring, menciptakan percikan bunga api di tengah temaram cahaya bulan yang tertutup awan badai.

"Jangan biarkan mereka lolos ke arah dermaga!" teriak Arya dengan suara menggelegar, membelah deru angin laut yang menderu kencang. Pedang panjang di tangan kanannya berkelebat cepat, menangkis tebasan golok melengkung dari seorang prajurit elit bajak laut.

Sepuluh orang pesilat gabungan dari berbagai perguruan bersatu padu membentuk formasi pertahanan berlapis di bibir pantai karang tersebut. Mereka adalah benteng terakhir yang berdiri di antara kedamaian pesisir dan amukan gerombolan bajak laut pimpinan juragan laut bertopeng perak. Di sisi kiri Arya, Kinasih bergerak lincah bagai bayangan angin, memutar kipas baja beracun miliknya untuk melumpuhkan titik syaraf musuh yang menyerang secara membabi buta.

"Formasi kita mulai terdesak di bagian timur pantai!" seru Raga memperingatkan, sambil melompat tinggi dan menghantamkan tongkat besinya ke tanah karang, menciptakan gelombang kejut kecil yang merobohkan tiga orang lawan sekaligus. Napas Raga memburu, peluh bercampur air laut membasahi sekujur tubuhnya yang bidang.

Bajak laut elit yang dikerahkan bukanlah tandingan sembarangan. Mereka mengenakan pakaian serba hitam dengan pelindung dada dari kulit hiu keras, bergerak dengan koordinasi yang sangat terlatih. Pemimpin mereka, seorang petarung berbadan besar bernama Blorong, tertawa terbahak-bahak di atas batu karang tinggi sambil mengayunkan gada berduri tajam.

"Kalian pikir bisa keluar hidup-hidup dari pantai karang ini? Pantai ini adalah kuburan bagi siapa saja yang berani menentang penguasa lautan!" geram Blorong, suaranya menggema mengalahkan suara ombak.

Arya menatap tajam ke arah Blorong, namun ia tidak membiarkan provokasi tersebut memecah konsentrasinya. "Bacotmu terlalu besar untuk ukuran perompak yang hanya bisa menyerang dari kegelapan," balas Arya dingin, lalu memberi isyarat tangan kepada kawan-kawannya untuk memperketat barisan.

Dialog di antara mereka terputus seketika saat gelombang pasang yang lebih besar datang menerjang, membasahi kaki-kaki mereka yang berpijak di atas karang tajam. Delapan kawan lainnya—Sura, Maya, Pandu, Sekar, Jaka, Laras, Bayu, dan Dewi—bergerak serempak merapatkan barisan, saling melindungi punggung satu sama lain. Sura menangkis serangan tombak musuh dengan perisai kayunya, sementara Maya langsung melesatkan panah pendek dari balik punggung Sura, tepat menembus bahu musuh yang hendak menyerang dari sudut buta.

"Pertempuran ini baru saja dimulai," bisik Kinasih kepada Arya sambil menyeka darah di sudut bibirnya akibat hempasan angin bertekanan tinggi dari jurus musuh.

Arya mengangguk tegas. "Tetap fokus pada pola pergerakan kelompok. Jangan biarkan mereka memecah formasi kita."

❖ ❖ ❖

Tekanan dari barisan elit bajak laut semakin menjadi-jadi. Gelombang serangan datang bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan sedetik pun bagi para pesilat untuk menarik napas. Di sektor barat pantai karang, Sura dan Pandu terdesak mundur beberapa langkah akibat terjangan pasukan bajak laut yang menggunakan trisula bermata ganda. Batu karang yang licin membuat pijakan mereka tidak stabil, sebuah kelemahan fatal yang langsung dimanfaatkan oleh musuh.

"Sura, awas sisi kiri!" teriakan Maya menggema dari atas batu karang tinggi tempat ia berdiri memegang busur. Maya segera melepaskan dua anak panah secara bersamaan. Anak panah itu meluncur deras, memaksa dua orang bajak laut yang hendak menusuk Sura dari samping untuk melompat menghindar.

Sura mendengus kasar, memanfaatkan kesempatan sekecil itu untuk memutar posisinya. Dengan sisa tenaga yang ada, ia mengayunkan parang pendeknya dengan keras, memotong gagang trisula musuh hingga patah menjadi dua bagian. "Terima kasih, Maya! Hampir saja aku kehilangan keseimbangan di batu sialan ini," seru Sura sambil menyeka keringat di dahinya.

"Jangan banyak bicara, fokuslah! Mereka mengirim bala bantuan tambahan dari arah teluk," jawab Maya cepat, kembali menarik tali busurnya untuk membidik sasaran berikutnya.

Di tengah hiruk-pikuk bentrokan, Raga dan Jaka berjuang keras mempertahankan garis tengah. Jaka, pesilat muda berilmu silat angin, melompat berputar di udara menghindari tebasan rantai berduri. Begitu mendarat, ia langsung menyapu kaki lawan dengan tendangan berputar yang sangat kencang. Lawannya tersungkur keras ke atas hamparan batu karang yang tajam.

"Jaka, posisimu terlalu maju ke depan! Tarik mundur sedikit!" perintah Raga dengan nada tinggi, mengingatkan rekannya agar tidak terlampau jauh dari jangkauan perlindungan kelompok.

Jaka mengangguk cepat, menyadari kesalahannya. "Maaf, Raga! Darahku terlalu panas menghadapi bajak laut sombong ini."

Namun, peringatan itu terlambat sepersekian detik. Dari balik bayangan tebing karang, seorang petarung elit bajak laut bermasker besi melompat menerjang Jaka dengan jurus cakar harimau bayangan. Cakar itu meluncur cepat mengarah ke leher Jaka. Jaka mencoba menangkis dengan lengannya, namun cakar tersebut berhasil menggores tebal pelindung kain di lengannya, meninggalkan luka sayatan tipis yang mengeluarkan darah segar.

"Jaka!" seru Laras histeris dari barisan belakang. Sebagai tabib sekaligus pesilat, Laras segera merogoh kantong obat di pinggangnya, bersiap maju memberikan pertolongan pertama jika situasi semakin memburuk.

"Aku tidak apa-apa, Laras! Lanjutkan pertahananmu!" balas Jaka menahan perih, kembali mengangkat senjatanya dengan rahang yang terkatup rapat.

Suasana pantai karang semakin memanas. Deburan ombak laut yang berwarna gelap seolah ikut merespons darah yang tumpah di atas batu karang. Sepuluh pesilat gabungan menyadari bahwa musuh kali ini tidak akan membiarkan satupun dari mereka keluar dari pantai tersebut dalam keadaan bernyawa.

❖ ❖ ❖

Pertempuran kini berada di titik tengah yang sangat krusial. Sepuluh kawan terpecah menjadi tiga kelompok kecil akibat desakan gelombang serangan pasukan elit bajak laut yang menggunakan taktik pengepungan melingkar. Di bagian tengah pantai, Arya dan Kinasih dikelilingi oleh belasan petarung berbaju hitam yang memegang rantai besi berduri.

"Kinasih, punggung kita saling bersandar. Jangan beri mereka celah untuk menyusup," instruksi Arya tenang, meskipun keringat telah membasahi seluruh jubah tempurnya.

Lihat selengkapnya