SERI 9: TERATAI SAKTI DARI SAMUDRA SELATAN

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Panah Kembar Menembus

Malam di atas geladak kapal perang Samudra Biru terasa begitu kejam, seolah-olah alam semesta sendiri sedang bersekutu dengan kegelapan untuk menenggelamkan asa terakhir umat manusia. Di tengah ganasnya lautan selatan, angin badai bertiup kencang, membawa serta cipratan air asin yang membekukan kulit dan menghantam lambung kapal dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Layar-layar kapal robek di beberapa bagian, berkibar liar seperti sayap burung yang terluka parah. Di tengah kekacauan itu, bau mesiu, darah, dan keputusasaan bercampur menjadi satu di udara.

Azalia berdiri tegak di anjungan buritan, kakinya berpijak kuat pada kayu geladak yang basah dan licin. Jubah perangnya berkibar liar diterpa angin badai, namun tatapannya tetap tajam menerobos pekatnya malam. Di tangan kirinya, ia menggenggam busur panjang berukir ukiran naga perak—sebuah pusaka leluhur yang telah diwariskan turun-temurun. Napasnya teratur, menyatu dengan deru angin dan ombak besar yang silih berganti menghantam sisi kapal.

"Badai ini semakin menggila, Azalia!" teriak Risha, yang berdiri beberapa langkah di sisi kanannya, suaranya hampir tenggelam di bawah suara gemuruh guntur yang menyambar langit. "Pasukan armada bayangan musuh sudah mengepung kita dari segala penjuru. Jika kita tidak segera melumpuhkan para pimpinan mereka di kapal utama, kapal ini akan hancur lebur sebelum sempat mencapai Teluk Harapan!"

Azalia melirik sekilas ke arah Risha, lalu mengangguk mantap. Risha bukanlah sekadar rekan seperjuangan biasa; ia adalah pemanah terbaik yang pernah dilahirkan di lembah utara, dengan ketajaman mata yang mampu melihat dalam kegelapan total. Hubungan batin di antara mereka telah teruji melalui ratusan pertempuran mematikan di darat maupun di atas lautan luas.

"Aku tahu, Risha," jawab Azalia dengan suara tegas yang sarat akan keyakinan. "Mereka sengaja memanfaatkan badai ini untuk menyembunyikan pendekatan armada tempur mereka. Tapi mereka lupa, angin badai yang sama juga bisa menjadi jalur bagi anak panah kita untuk melesat tanpa terdeteksi."

"Kau benar," Risha menyunggingkan senyisan tipis di bibirnya yang pucat, lalu mengangkat busur gandanya yang terbuat dari kayu jati hitam. "Mari kita tunjukkan kepada para penguasa kegelapan itu bahwa panah kita tidak pernah meleset dari sasaran, betapapun besar badai yang menghalangi."

Di kejauhan, melalui kilatan cahaya petir yang menyambar sela-sela awan hitam, siluet kapal-kapal perang musuh tampak semakin mendekat. Lampu-lampu obor merah menyala di sepanjang geladak mereka, membentuk formasi mengepung yang sangat rapi. Di atas anjungan kapal panglima musuh, para pemimpin pasukan berdiri pongah dengan zirah baja tebal, merasa aman di balik jarak puluhan langkah dan perlindungan badai yang mengamuk.

"Bersiaplah, Risha," bisik Azalia sambil meraba wadah anak panah di punggungnya, merasakan permukaan kayu khusus yang berukir simbol elemen angin. "Kita lakukan dalam satu hitungan yang sama. Biarkan angin laut ini membawa takdir mereka."

❖ ❖ ❖

Kapal musuh kini hanya berjarak puluhan langkah dari posisi kapal Azalia dan Risha. Ombak besar mengangkat kedua kapal itu naik turun secara tidak beraturan, membuat keseimbangan di atas geladak menjadi ujian terberat bagi siapa pun yang berdiri di atasnya. Para prajurit musuh di seberang mulai bersorak-sorai merendahkan, meneriakkan ancaman kematian yang disambut dengan dentuman genderang perang yang menggema menembus badai.

"Mereka mulai mengangkat busur silang!" seru Risha memperingatkan, matanya awas mengamati setiap gerakan di atas geladak kapal musuh utama. "Prajurit barisan depan mereka bersiap melepaskan tembakan salvo!"

"Jangan pedulikan prajurit rendahan itu," balas Azalia tanpa sedikit pun mengalihkan pandangannya. "Fokuskan mata dan tenaga dalammu pada para pimpinan di anjungan utama. Mereka adalah otak dari penyergapan ini. Jika kepala ular itu putus, maka tubuhnya akan mati dengan sendirinya."

"Aku mengincar panglima bersayap hitam di sebelah kiri," kata Risha sambil menarik tali busurnya perlahan, menciptakan suara dengungan halus yang beresonansi dengan desiran angin laut. "Biar aku yang membuka jalan pertama untukmu, Azalia."

"Dan aku akan menembus perisai baja panglima utama di sebelah kanan," sahut Azalia, merapatkan kuda-kuda kakinya dan menarik napas dalam-dalam untuk menyatukan tenaga dalamnya dengan pusaran angin badai. "Kita lepaskan bersamaan saat petir berikutnya menyambar."

Situasi semakin mendesak ketika gelombang ombak raksasa tiba-tiba menghantam kedua kapal secara bersamaan, membuat lambung kapal berderit nyaring dan miring ke sisi kiri. Dalam keadaan darurat yang nyaris merenggut keseimbangan mereka, Azalia dan Risha tetap bertahan pada posisi masing-masing, jemari mereka mengunci erat anak panah khusus yang telah dialiri energi cahaya kebiruan.

Lihat selengkapnya