SERI 9: TERATAI SAKTI DARI SAMUDRA SELATAN

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Kehangatan Cahaya Emas

Udara di atas permukaan laut mendadak membeku, menyisakan desis uap putih setiap kali Arka menarik napas dalam-dalam. Di sekelilingnya, ombak besar bergulung buas, menghantam karang-karang tajam dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Langit malam yang tadinya bertabur bintang kini tertutup rapat oleh gumpalan awan hitam legam, menciptakan suasana kelam yang mencekam.

Di hadapannya, berdiri sosok mengerikan yang menjadi momok bagi seluruh pelaut di perairan selatan: Raja Iblis Lautan. Makhluk itu melayang beberapa kaki di atas permukaan air, jubah hitamnya berkibar liar diterpa angin badai. Sepasang matanya menyala seperti bara api di tengah kegelapan, memancarkan kebencian mendalam yang tak bertepi.

"Kau pikir cahaya murahan itu bisa meruntuhkan kekuasaanku, bocah?" suara Raja Iblis Lautan menggelegar, berpadu dengan deru angin laut yang semakin beringas.

Arka tidak menjawab dengan kata-kata. Ia merapatkan kedua telapak tangannya di depan dada, memusatkan seluruh tenaga dalam dan konsentrasinya. Di dalam tubuhnya, aliran energi hangat mengalir deras dari pusar menuju ujung-ujung jarinya, meresap ke setiap tulang dan otot. Pendaran cahaya keemasan mulai memancar perlahan dari kulitnya, kian lama kian terang hingga menandingi terangnya cahaya rembulan.

"Kekuatanku bukan berasal dari keserakahan, melainkan dari tekad untuk melindungi mereka yang tertindas," balas Arka akhirnya, suaranya tenang namun penuh wibawa, memecah deru angin malam.

Raja Iblis Lautan mendengus sinis, memperlihatkan taringnya yang tajam. Tanpa aba-aba, makhluk itu mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. Air laut di sekitarnya mendadak terangkat membentuk puluhan tombak es raksasa yang berputar cepat, siap meluncur menghancurkan apa pun yang merintangi jalannya.

"Rasakan kemarahan dasar samudra!" teriak sang raja iblis seraya mengibaskan tangannya ke depan.

Dalam sepersekian detik, puluhan tombak es beracun itu melesat secepat kilat menembus kegelapan malam, mengincar titik-titik vital di tubuh Arka. Suara gesekan udara akibat kecepatan serangan tersebut menciptakan suara melengking yang membelah keheningan samudra.

Arka menyipitkan matanya, mengukur jarak dan kecepatan datangnya ribuan serpihan maut tersebut. Ia tahu ia tidak memiliki banyak waktu untuk menghindar. Satu-satunya jalan adalah menyambut serangan mematikan itu secara langsung, menggunakan jurus puncak warisan leluhurnya.

❖ ❖ ❖

Tombak-tombak es beracun itu meluncur begitu cepat, memancarkan pendar kebiruan yang mematikan. Ujung-ujungnya yang runcing mengeluarkan kabut ungu pekat—tanda bahwa racun mematikan telah melapisi setiap inci senjata es tersebut.

"Arka! Hati-hati, racun itu bisa melumpuhkan saraf seketika!" seru seorang rekan seperjuangannya dari atas geladak kapal yang terombang-ambing di kejauhan.

Arka tidak sempat menoleh. Konsentrasinya sudah terkunci penuh pada gelombang serangan di depannya. Ia menarik napas panjang, merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, lalu membiarkan pendaran cahaya keemasan dari Matahari Teratai Emas meledak keluar dari tubuhnya membentuk perisai berbentuk kelopak bunga raksasa.

Bum!

Benturan pertama terjadi begitu dahsyat. Ledakan energi es dan cahaya keemasan menciptakan gelombang kejut yang menyapu permukaan air laut hingga membentuk kawah besar di antara ombak. Percikan es beracun terpental ke segala arah, mendesis saat menyentuh air laut dan mengubahnya menjadi buih putih beracun.

"Argh!" Arka menggeram tertahan.

Tekanan dari serangan Raja Iblis Lautan ternyata jauh lebih berat dari yang ia bayangkan. Hawa dingin yang luar biasa menusuk pori-porinya, mencoba merusak aliran energi di dalam tubuhnya. Perisai cahaya keemasan yang ia ciptakan mulai bergetar hebat, memperlihatkan retakan-retakan kecil di permukaannya.

"Pertahananmu mulai runtuh, anak bodoh!" tawa Raja Iblis Lautan menggema di atas kepala, menikmati pemandangan kesakitan di wajah Arka. Makhluk itu merapal mantra kedua, membuat tombak-tombak es yang tersisa bergabung menjadi satu tombak raksasa dengan ukuran yang berkali-kali lipat lebih besar.

Situasi kini berada di titik jepit yang sangat berbahaya. Arka terhimpit di antara tekanan hawa es beracun yang terus mendesak mundur dan keterbatasan ruang gerak di atas pusaran air laut yang mengamuk. Jika perisai cahaya keemasannya pecah sekarang, tubuhnya akan tertusuk tombak es raksasa dan tenggelam ke dasar palung laut selamanya.

"Tidak... aku tidak boleh menyerah di sini," gumam Arka, darah segar perlahan mengalir dari sudut bibirnya akibat tekanan energi yang terlalu besar.

❖ ❖ ❖

Keringat bercampur air asin mengucur deras di pelipis Arka. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menghirup serpihan kaca tajam akibat hawa es pekat yang dilepaskan oleh musuh. Retakan di perisai kelopak teratai emas kini semakin melebar, menyebar ke seluruh sisi pelindung seolah jaring laba-laba bercahaya.

"Pertahananmu tinggal menunggu detik untuk hancur, Arka!" ejek Raja Iblis Lautan sambil memperkuat dorongan tenaga dalamnya.

Lihat selengkapnya