Angin malam berembus kencang di atas permukaan Samudra Selatan, menghantam karang-karang terjal dengan suara deburan yang menggelegar bagai ribuan genderang perang. Di tengah kegelapan gulita yang hanya diterangi oleh pantulan cahaya bulan sabit, Arka berdiri tegak di atas sebatang kayu lapuk yang terombang-ambing ombak besar. Pemuda itu tidak sedikit pun goyah. Kedua kakinya seolah berakar kuat di dasar samudra, meski badai di sekelilingnya mengamuk hebat seakan hendak menelan apa saja yang berani menentangnya.
Di seberangnya, di atas permukaan air yang berputar-putar membentuk pusaran raksasa, berdiri sosok bayangan hitam berbalut jubah tebal. Sang Raja Iblis Lautan menatap tajam dengan mata merah menyala, memancarkan hawa pembunuh yang begitu pekat hingga air laut di sekitarnya tampak membeku menjadi kristal es tipis.
"Arka! Kau pikir dengan menyatukan dua ajaran konyol itu kau bisa mengalahkan ke Abadianku?" suara Raja Iblis Lautan menggelegar, memecah deru angin malam dengan nada merendahkan.
Arka tidak langsung menjawab. Ia menutup kedua matanya rapat-rapat, membiarkan deru ombak menyatu dengan detak jantungnya. Di dalam dadanya, aliran tenaga dalam bergolak hebat namun teratur. Ia baru saja mencapai tingkat tertinggi dari pemahaman spiritual yang diwariskan oleh gurunya.
"Kesombonganmu akan menjadi kuburanmu sendiri, Iblis," jawab Arka akhirnya. Suaranya tenang, namun mengandung wibawa besar yang membuat sang raja iblis mendengus geram.
Arka perlahan-lahan mengangkat kedua tangannya ke depan dada. Pada detik berikutnya, keajaiban terjadi. Pencerahan murni dari ilmu Teratai Emas yang telah ia pelajari bertahun-tahun berpadu sempurna dengan esensi kebaikan yang terkandung di dalam Kitab Teratai Sakti. Sepasang telapak tangannya mendadak memancarkan gelombang cahaya emas yang menyilaukan mata, bagaikan matahari terbit yang mekar di atas buih samudra yang gelap gulita.
Cahaya keemasan itu menyebar ke segala arah, menghalau hawa dingin pembeku darah yang dipancarkan oleh sang musuh. Permukaan air laut yang tadinya kelam kini berkilau bagaikan permadani emas raksasa.
"Ilmu apa itu?!" seru Raja Iblis Lautan terkejut, sedikit melangkah mundur saat gelombang cahaya hangat tersebut menyentuh jubah hitamnya dan mengeluarkan bunyi desisan halus.
"Ini adalah keadilan dari alam yang telah kau cemarkan selama ribuan tahun!" seru Arka lantang. Matanya terbuka, memancarkan binar keemasan yang luar biasa tajam.
❖ ❖ ❖
Pertarungan langsung meletus tanpa aba-aba lebih lanjut. Raja Iblis Lautan yang merasa terancam dengan kemunculan cahaya teratai emas langsung mengerahkan seluruh kekuatan Jurus Telapak Karang Samudra. Ia melesat cepat bagaikan kilat hitam di atas air, mengayunkan telapak tangannya yang diselimuti es hitam pekat langsung ke arah dada Arka.
Bum!
Benturan pertama menciptakan gelombang kejut yang mengangkat air laut setinggi belasan meter ke udara. Arka menahan serangan itu dengan menyilangkan kedua tangannya yang kini dilindungi oleh kelopak cahaya teratai emas. Meskipun berhasil membendung hantaman maut tersebut, tenaga luar biasa besar membuat pijakannya tergeser jauh ke belakang, meninggalkan jejak buih putih di atas air.
"Kau boleh memiliki cahaya itu, tapi kekuatanmu masih terlalu mentah untuk menandingiku!" geram Raja Iblis Lautan, memperkuat dorongan pada telapak tangannya hingga es hitam mulai merayap naik, mencoba memadamkan cahaya keemasan di tangan Arka.
"Jangan meremehkan tekad seseorang yang bertarung demi keselamatan dunia!" balas Arka dengan gigi terkatup rapat.
Ia mengerahkan tenaga dalamnya secara maksimal. Seketika itu juga, cahaya emas dari telapak tangannya membesar berkali-kali lipat, membentuk kelopak-kelopak teratai raksasa yang mekar mengelilingi tubuhnya. Hawa panas dan murni dari bunga teratai emas itu mendadak melelehkan es hitam sang raja iblis dalam sekejap, memaksa makhluk kejam itu melompat mundur untuk menghindari luka bakar tenaga dalam.
Raja Iblis Lautan mendarat di atas batu karang dengan napas memburu. Ia menatap telapak tangannya yang sedikit melepuh akibat benturan tadi. Rasa terkejut bercampur amarah bergemuruh di dadanya.
"Keparat! Ilmu rendahan macam apa yang kau gunakan itu?!" bentak sang raja iblis, matanya memerah menahan murka.
"Ini bukan ilmu rendahan, ini adalah penyatuan jiwa dan alam," jawab Arka mantap, melangkah maju di atas permukaan air seolah-olah ia sedang berjalan di atas tanah yang rata. "Dan hari ini, riwayat keonaranmu di dunia persilatan akan segera tamat."
"Jangan bermimpi!" seru Raja Iblis Lautan. Ia kembali merentangkan kedua tangannya, memanggil badai es yang lebih besar dari dasar laut. Langit malam semakin kelam, dan petir menyambar-nyambar di atas kepala mereka, menciptakan pemandangan yang begitu mencekam.
❖ ❖ ❖
Badai salju dan angin ribut mendadak mengurung posisi Arka. Puluhan jarum es tajam meluncur deras dari segala penjuru mata angin, mengarah ke setiap titik vital di tubuh sang pendekar muda.
Arka tidak panik. Ia menarik napas dalam-dalam, membiarkan esensi Kitab Teratai Sakti menuntun setiap gerakannya. Dengan gerakan lembut namun sangat cepat, kedua tangannya berputar membentuk lingkaran pelindung.