SERI 9: TERATAI SAKTI DARI SAMUDRA SELATAN

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Musnahnya Raja Lautan

Langit di atas pesisir selatan Jawa mendadak berubah warna menjadi kelam kehitaman, seolah tertutup tirai duka yang ditenun oleh angin badai. Gulungan ombak raksasa setinggi puluhan meter menghantam karang-karang tajam dengan suara menggelegar yang sanggup meremukkan nyali siapa saja yang mendengarnya. Di tengah pusaran angin puyuh dan cipratan buih laut yang asin, sebuah pertarungan penghabisan tengah berlangsung di atas geladak kapal utama yang terombang-ambing ganas.

Arka dan Tera berdiri berdampingan dengan napas memburu, sementara kedelapan sahabat setia mereka—Bara, Kirana, Seno, Lintang, Bayu, Rinjani, Dirga, dan Melati—terpencar di berbagai sudut kapal, menjaga pertahanan agar tidak tersapu oleh amukan gelombang buatan. Di hadapan mereka, berdiri sosok yang paling ditakuti di seluruh penjuru samudra: Sang Raja Iblis Lautan.

Raja Iblis Lautan berdiri dengan jubah hitam berkibar lebar, wajahnya yang pucat pasi tertutup bayangan topi jerami lebar, sementara kedua tangannya memancarkan hawa dingin kebiruan yang membekukan udara di sekitarnya. Di sekelilingnya, butiran-butiran air laut berubah menjadi kristal es tajam yang melayang-layang liar di udara.

"Kalian kira perjalanan panjang kalian sampai ke titik ini akan membawa kemenangan?" suara Raja Iblis Lautan menggema berat, berpadu dengan deru angin laut, menciptakan getaran yang menyesakkan dada. "Kalian hanyalah sekelompok anak kemarin sore yang mencoba membendung air bah dengan tangan kosong!"

"Kesombonganmu berakhir hari ini, Raja Iblis," jawab Arka tajam, menggenggam erat hulu pedangnya sementara aliran tenaga dalam keemasan mulai terpancar dari kedua telapak tangannya. "Kejahatan yang kau sebarkan di pesisir ini telah merenggut terlalu banyak nyawa tak berdosa."

Tera melangkah maju setengah langkah, pedangnya berdesing lembut menyibak udara lembap. "Tidak ada tempat lagi bagimu untuk bersembunyi di balik kekuatan kegelapan samudra, makhluk keji!"

"Bocah-bocah kurang ajar!" bentak Raja Iblis Lautan murka. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, memanggil seluruh kekuatan inti iblisnya.

Seketika itu juga, permukaan air laut di sekitar kapal terangkat ke atas, membentuk pilar-pilar air es raksasa yang berputar kencang. Suhu udara drop drastis hingga napas mereka mengepulkan uap putih. Raja Iblis Lautan melancarkan serangan pembuka dengan mengibaskan tangannya, melemparkan ratusan belati es beracun yang meluncur deras bagaikan hujan badai ke arah Arka dan Tera.

"Awas, lindungi formasi!" seru Bara dari sisi kiri, mengibaskan tongkat besinya untuk memecahkan hantaman es yang mendekat ke arah Kirana dan Lintang.

Arka dan Tera tidak tinggal diam. Mereka melompat bersamaan ke udara, menghindari hujan belati es sambil melepaskan tebasan silang berenergi tinggi yang membelah udara. Benturan tenaga dalam menciptakan percikan cahaya terang di tengah kegelapan badai. Namun, kekuatan Raja Iblis Lautan berada di tingkat yang jauh melampaui musuh-musuh yang pernah mereka hadapi sebelumnya. Hawa dingin dari ilmu sang iblis meresap perlahan ke dalam tulang, membuat gerakan mereka mulai terasa berat dan kaku.

❖ ❖ ❖

Pertempuran semakin membabi buta. Gelombang laut yang digerakkan oleh amarah Raja Iblis Lautan menghantam lambung kapal berulang-ulang, membuat dek kapal miring tajam ke kiri. Seno dan Dirga hampir saja tergelincir jatuh ke laut jika saja Bayu tidak segera mengulurkan tangan dan menarik mereka kembali ke tengah geladak.

"Kekuatan hawa dinginnya mulai melumpuhkan aliran darah kita!" seru Seno, giginya bergemeletuk kedinginan sementara lapisan es tipis mulai merayap di sepatu botnya.

"Jangan biarkan energi dinginnya menyentuh kulit kalian secara langsung! Salurkan tenaga dalam ke seluruh tubuh untuk mempertahankan suhu inti!" perintah Lintang sambil terus memantau pergerakan musuh dari balik kemudi kapal yang patah separuh.

Di tengah kekacauan itu, Raja Iblis Lautan tertawa dingin melihat musuh-musuhnya mulai terdesak. Ia kembali merapalkan mantra terlarang, membuat air laut di bawah kapal mendidih dalam pusaran es hitam. Dari dalam pusaran tersebut, muncul sosok-sosok bayangan monster air berwajah mengerikan yang langsung merangkak naik ke atas geladak kapal, menyerang kesepuluh sahabat tanpa ampun.

"Selesaikan para pion busuk ini!" teriak Kirana dan Rinjani bersamaan, memainkan jurus kipas dan pedang angin untuk merobohkan monster-monster bayangan yang terus berdatangan.

Bara dan Melati bertarung punggung membelakangi punggung, menghancurkan cakar-cakar es yang mencoba mencengkeram kaki mereka. Meskipun berhasil memukul mundur para monster, tenaga mereka terkuras sangat cepat akibat harus melawan hawa dingin ekstrem yang dipancarkan oleh sang Raja Iblis.

Di bagian depan geladak, Arka dan Tera berhadapan langsung dengan sang penguasa iblis. Raja Iblis Lautan mengayunkan tongkat trisula es miliknya dengan kecepatan kilat, menciptakan gelombang kejut berupa angin es yang langsung menghantam dada Arka dan Tera telak.

Bugh!

Arka dan Tera terpental mundur sejauh beberapa meter, menabrak tiang utama kapal hingga batuk darah segar keluar dari mulut mereka. Pakaian mereka robek di beberapa bagian, dan kulit mereka tampak membiru akibat paparan langsung ilmu iblis tingkat tinggi.

"Kalian lemah!" cibir Raja Iblis Lautan sambil melangkah maju perlahan, langkah kakinya tidak menyentuh lantai melainkan melayang di atas lapisan es tipis yang ia ciptakan sendiri. "Kalian tidak memiliki cukup kekuatan untuk menghancurkan inti ke abadianku!"

Tera menyeka darah di sudut bibirnya, matanya menatap tajam penuh perlawanan. Ia menoleh ke arah Arka yang sedang mengatur pernapasannya. "Arka, kita tidak bisa mengalahkannya dengan serangan biasa. Kita harus memancingnya mengeluarkan seluruh tenaga intinya, lalu menghantam titik pusat di dadanya secara bersamaan."

Arka mengangguk lemah namun pasti, kilatan cahaya keemasan di telapak tangannya mulai menyala kembali, melawan hawa dingin yang mencoba membekukan jantungnya.

Lihat selengkapnya