
Desir angin laut di pesisir selatan Samudra Biru membawa hawa kedamaian yang telah lama dirindukan oleh dunia persilatan. Gelombang besar yang biasanya menghantam karang-karang terjal dengan suara menggelegar kini terdengar lebih tenang, seolah turut bersujud merayakan kemenangan besar yang baru saja diukir oleh para pendekar pilihan.
Di atas pelataran batu karang yang luas, Arka berdiri tegak dengan jubah putih yang melambai lembut diterpa angin pagi. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah kotak giok berukir bunga teratai—wadah suci tempat Kitab Teratai Sakti bersemayam dengan damai.
"Ancaman kaum sesat di Samudra Selatan akhirnya benar-benar tuntas, Arka," suara Tera terdengar lembut di sampingnya. Gadis berbusana biru langit itu melangkah mendekat, menyunggingkan senyuman lega di wajahnya yang jelita. "Tidak ada lagi darah yang tumpah demi ambisi busuk mereka. Perguruan Teratai Agung kini bisa bernapas lega."
Arka menoleh, membalas senyuman Tera dengan kehangatan yang terpancar dari sorot matanya. "Semua ini bukan karena aku seorang, Tera. Tanpa dukunganmu dan kedelapan sahabat kita, mustahil kita bisa melewati badai maut di goa karang kemarin."
Di sekeliling pelataran, kedelapan sahabat setia mereka—Galin, Fathan, Soni, dan lima pendekar utama lainnya—tengah duduk beristirahat sambil merawat luka-luka ringan sisa pertempuran sengit melawan sisa-sisa pasukan kaum sesat pimpinan Buang Seng dan Nyi Roro Kencana. Suasana dipenuhi oleh gelak tawa kecil dan rasa syukur yang mendalam. Pertumpahan darah yang sempat mengancam kehancuran jagat persilatan kini telah berakhir. Kitab Teratai Sakti yang menjadi rebutan berdarah-darah kini berada di tangan yang tepat, dijaga oleh Perguruan Teratai Agung demi keseimbangan alam semesta.
"Kurasa tugas kita di pesisir selatan ini telah rampung sepenuhnya," ucap Galin sambil bangkit berdiri, meregangkan otot-otot bahunya yang kaku. "Sudah saatnya kita kembali ke lembah utama untuk melaporkan kemenangan ini kepada para tetua."
"Kau benar, Galin," sahut Fathan menyetujui. "Rasa-rasanya aku sudah sangat merindukan teh hangat di perguruan."
Namun, di tengah gelak tawa dan kelegaan yang menyelimuti kelompok pendekar tersebut, Arka tiba-tiba terdiam. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah cakrawala timur tempat matahari perlahan-lahan hendak merayap naik. Senyuman di wajahnya memudar seketika, digantikan oleh kerutan dalam di keningnya.
"Ada apa, Arka?" tanya Tera menyadari perubahan drastis pada ekspresi pemuda itu. "Kenapa wajahmu mendadak tegang begitu?"
Arka tidak langsung menjawab. Ia mengangkat tangan kanannya, memberi isyarat kepada seluruh sahabatnya agar menghentikan pembicaraan. Suasana di pelataran karang seketika berubah menjadi sunyi senyap.
Seketika itu pula, ufuk timur yang tadinya memancarkan cahaya keemasan yang cerah mendadak berubah warna secara drastis. Semburat warna jingga yang pekat, hampir menyerupai warna darah encer, perlahan-lahan merembes menutupi seluruh bentangan langit pagi. Warna jingga ganjil itu menyala terang, memantul di permukaan air laut hingga tampak seolah-olah seluruh samudra terbakar oleh api gaib yang tak berasa panas.
❖ ❖ ❖
"Langit... langit itu berubah warna," bisik Soni dengan suara bergetar, menunjuk ke arah cakrawala timur yang kini sepenuhnya diliputi oleh semburat jingga yang menakutkan.
Seluruh anggota kelompok tertegun, terpaku di tempat masing-masing. Kelegaan yang baru saja mereka rasakan seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang tiba-tiba merayap naik dari telapak kaki hingga menusuk tulang belakang.
"Bukan sekadar perubahan cuaca biasa," ucap Arka dengan suara rendah namun sarat akan ketegangan yang mendalam. "Itu adalah Isyarat Takdir. Langit jingga darah di kala fajar menyingsing adalah pertanda kuno yang tertulis di dalam babad persilatan tertua."
Galin melangkah mendekati Arka, matanya membelalak menatap langit yang tampak semakin pekat. "Isyarat Takdir? Kau serius, Arka? Pertanda apa yang dibawa oleh warna jingga segelap itu?"
"Bahaya paling dahsyat yang pernah mengancam tanah air secara keseluruhan," jawab Arka tegas. Ia mengepalkan tangan kirinya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. "Bukan lagi konflik antarperguruan atau perebutan pusaka di wilayah terpencil. Ini adalah ancaman yang menyangkut keselamatan seluruh negeri dan seluruh umat manusia di daratan."
Tera merapatkan jubah birunya, merasakan tekanan tenaga dalam tak kasat mata yang mulai meresap melalui hembusan angin pagi. "Jika Isyarat Takdir ini benar-benar bangkit, berarti segel kuno di Daratan Utara telah runtuh sepenuhnya. Musuh yang bangkit kali ini bukanlah pendekar sesat biasa, melainkan kekuatan dari dimensi kegelapan yang tertidur selama ribuan tahun."
Suasana di pelataran karang mendadak menjadi tegang mencekam. Kedelapan sahabat yang tadinya berseri-seri karena kemenangan kini saling berpandangan dengan wajah pucat. Mereka menyadari bahwa masa istirahat yang baru saja mereka nikmati hanyalah sebuah jeda singkat sebelum badai yang sebenarnya menghantam.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang, Arka?" tanya Fathan, memegang hulu pedangnya dengan erat. "Kitab Teratai Sakti sudah kita amankan di sini. Apakah kita harus membawanya ke Daratan Utara?"
Arka menggeleng perlahan. "Kitab ini tidak boleh dibawa pergi dari pelataran suci ini sembarangan. Tapi kita semua, tanpa terkecuali, harus segera melangkah menuju medan pertempuran terakhir."
Tiba-tiba, dari arah kejauhan di atas langit jingga tersebut, terdengar suara gemuruh yang sangat rendah namun menggetarkan tanah. Suara itu menyerupai lolongan ribuan binatang buas yang berpadu dengan deru badai petir, membuat burung-burung laut berhamburan terbang menyelamatkan diri ke arah barat dalam kepanikan.
"Mereka sudah bergerak," gumam Arka tajam. "Waktu kita tidak banyak lagi. Perang penentuan telah dimulai."
❖ ❖ ❖