Ada dua jenis orang di dunia ini.
Yang patuh pada peringatan horor. Dan yang refleks menoleh karena penasaran, lalu menyesal belakangan.
Aku?
Sayangnya… jenis yang kedua.
Tapi demi keadilan—aku tidak langsung menoleh.
Tubuhku membeku seperti seseorang menekan tombol pause di tengah gerakan. Napasku tertahan di tenggorokan. Otakku menjerit SOP! SOP! SOP! seperti alarm kebakaran internal, sementara saraf di pundakku hanya punya satu pesan sederhana:
Sentuhan itu nyata.
Hangat.
Manusia.
Dan… disengaja.
Tidak ada gerakan tiba-tiba. Tidak ada tarikan kasar. Sentuhan itu ringan—cukup untuk memastikan aku sadar akan keberadaannya. Itu yang membuatnya lebih mengganggu. Pelaku ingin dikenali, bukan ditakuti secara instan.
Sarah bereaksi sebelum aku sempat respons dengan baik.
Tangannya menyambar pergelangan tangan di belakangku—gerakannya cepat, bersih, tanpa ragu. Gerakan orang yang sudah terlalu sering berada di situasi buruk dan selamat karena bertindak dulu, berpikir belakangan.
“POLISI,” katanya datar. Dingin. Tidak Ramah.
“Lepaskan.”
Nada suaranya bukan ancaman. Itu seperti perintah profesional.
Lampu senterku menyapu ruangan secara tiba-tiba. Cahaya memantul dari rak buku, membelah lorong-lorong sempit yang tadi terasa aman. Jantungku berdetak lebih keras dari alarm gedung.
Dan di sanalah dia.
Seorang remaja laki-laki. Awal dua puluhan. Tingginya sedang. Tubuhnya kurus, tapi bukan tipe yang rapuh—lebih ke jenis orang yang bergerak cepat. Jaket hitam tanpa logo. Topi ditarik rendah. Tidak ada ciri-ciri yang mencolok.
Wajahnya… biasa.
Terlalu biasa.
Dan justru itu yang membuat tengkukku terasa dingin. Orang ini sengaja untuk tidak diingat.
Ia mengangkat kedua tangannya dengan perlahan, seolah sedang menenangkan satwa liar.
“Wow,” katanya ringan, bahkan sedikit kagum. “Kalian beneran tidak menoleh.”
Sarah tidak tersenyum sama sekali. Bahkan wajahnya pun tidak berubah.
“Kau menyentuh detektifku.”
Aku mencatat kata itu di sudut pikiranku: detektifku. Entah kenapa, di tengah ketegangan, otakku masih sempat berpikir: nanti akan kita bahas… atau memilih pura-pura lupa.
“Kau siapa?” tanyaku.
Aku heran sendiri karena suaraku terdengar tenang/santai. Itu bukan keberanian—lebih seperti refleks.
Remaja itu melirik ke arah Mimi.
Kucing itu kini duduk manis di atas rak buku, ekornya melingkar rapi di depan kaki, ekspresinya netral seperti hakim yang tidak tertarik pada drama manusia. Seolah dari awal dia tahu akan aman.
“Aku cuma kurir,” jawabnya. “Pesananku hanya menulis pesan tentang langkah.”
Sarah mendengus pelan. “Kurir tidak mematikan lampu perpustakaan.”
“Teknologi sederhana,” katanya santai. “Timer. Gedung tua begini gampang ditebak titik panelnya.”
Aku menekan nada suaraku. “Siapa M?”
Untuk pertama kalinya, ekspresinya berubah.
Bukan kaget.
Bukan takut.
Senyum kecil muncul. Tipis. Tertahan.
“Dia bilang,” ujarnya, “kau bakal nanya itu di langkah keempat.”
Sarah mengeratkan cengkeramannya. “Jawab!.”
Remaja itu menghela napas pendek, seperti seseorang yang sudah memperkirakan hal ini akan terjadi.
“Oke. Aku cuma pion,” katanya. “Tapi aku bisa bilang satu hal.”
Matanya beralih.