Series Detektif Senja

Aulia umi halafah
Chapter #5

Langkah Yang Terlihat Sepele

Tidak semua pilihan datang dengan sirene.

Sebagian datang dengan wajah ramah, suara pelan, dan terkesan sepele—seolah kalau salah pun, dampaknya bisa difikirkan nanti.

Masalahnya, aku sudah cukup lama jadi detektif untuk tahu satu hal: pilihan paling berbahaya sering dimulai dari hal terkecil.

Ponselku masih menyala ketika kami masuk ke mobil.

Pesan itu tidak menghilang. Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada ancaman yang tersirat.

Hanya kalimat sederhana yang terus melekat di pikiranku seperti noda yang membandel.

Hanya pilihan.

Sarah menyalakan mesin mobil, namun tidak langsung jalan. Tangannya diam di setir. Rahangnya mengeras—tanda dia sedang menahan diri untuk tidak berkomentar yang biasanya sudah bersuara sejak lima menit yang lalu.

“Baiklah,” katanya akhirnya. “Ketentuan permainan baru.”

Aku menoleh. “Aku tidak ingat pernah menyetujui permainan itu .”

“Bagus. Berarti kau belum kehilangan akal sehat,” jawabnya cepat. “Aturan satu: tidak ada keputusan sendiri.”

“Aturan dua?”

“Kau cerita,” katanya. “Intinya saja, sudah cukup.”

Aku mendesah. Lampu jalan memantul di kaca depan, bergerak seperti garis-garis memori yang tidak rapi.

“Ada satu kasus,” kataku akhirnya. “Bukan kasus resmi.”

Sarah tidak menyela. Itu keahliannya—diam di waktu yang tepat.

“Dulu,” lanjutku, “aku bukan seorang detektif.

Aku relawan pendamping korban.

Administratif.

Tidak turun lapangan.”

“Tidak terdengar berbahaya.”

“Seharusnya tidak,” jawabku. “Sampai aku melanggar satu SOP kecil.”

Sarah melirikku sekilas. “Melanggar seperti apa?”

“Sepele,” kataku. “Aku terlalu mudah percaya kepada seseorang terlalu cepat.”

Mobil melaju. Kota lewat di sisi kami, sibuk, hidup, tidak peduli pada kesalahan lama orang lain.

“Dan seseorang itu…?” tanya Sarah.

Aku menatap ke depan. “Bukan pelaku. Bukan korban. Tapi saksi.”

Sarah menghela napas pelan. “Dan sekarang M tahu.”

“Bukan cuma tahu,” kataku. “Dia menyimpannya seperti kartu.”

Kami sampai di apartemenku tanpa penyelesaian yang memuaskan. Mungkin memang tidak ada.

Di depan pintu, Sarah berhenti. “Aku akan bilang satu hal,” katanya. “Kalau dia menyerang masa lalumu, berarti dia tidak yakin bisa mengalahkanmu di masa kini.”

Aku tertawa kecil. “Atau dia tahu masa lalu lebih rapuh.”

Sarah menyeringai. “Atau dua-duanya.”


***


Aku hampir lupa betapa sunyinya apartemenku di malam hari.

Tidak ada suara TV. Tidak ada suara tetangga yang berisik. Keheningan diisi oleh dengungan kulkas dan ketukan jam dinding yang terlalu mencolok.

Aku menaruh ponsel di meja.

Detak.

Aku menyalakan lampu dapur.

Detak.

Aku membuka jaket.

Detak.

Lalu—ponsel itu bergetar lagi.

Bukan pesan. Sebuah panggilan.

Dari nomer yang tidak dikenal.

Aku tidak langsung mengangkat.

Detik-detik itu terasa seperti tes lain. Bukan tentang keberanian. Tapi tentang kebiasaan lama: apakah aku adalah tipe yang selalu menjawab?

Panggilan berhenti. Ada pesan yang masuk.

Tidak diangkat = satu pilihan. Diangkat = pilihan lain.

Aku mendengus spontan. Bukan karena lucu, tapi ada sisi ironis yang membuatku geli.

“Manipulatif,” gumamku.

Aku membalas.

Siapa ini?

Tanggapan datang secara cepat.

Orang yang tahu kau selalu membalas pesan sebelum jam sebelas malam. Santai. Ini hanya sebuah observasi, tidak ada niat untuk mengancam.

Aku memijat pelipis.

Apa maumu? Balasku kemudian.

Jeda.

Lalu:

Langkah ke 5 yang mudah. Besok pagi jam 07.15. Kau akan bertemu seseorang. Kau boleh memberi tahu Sarah. Tapi keputusan tetap ada di tanganmu.

Aku membaca ulang dengan hati-hati.

Dimana?

Jawaban datang dengan satu alamat.

Dan satu kalimat tambahan.

Kau mengenalinya, namun ia tidak mengenalimu...

Dengan nama itu.

Hatiku terasa kosong sesaat.

Nama itu...

Lihat selengkapnya