Series Detektif Senja

Aulia umi halafah
Chapter #6

Konsekuensi yang Datang Diam-Diam

Konsekuensi bukan selalu datang dengan suara keras.

Ia tidak mengetuk pintu sambil membawa sirene atau peringatan. Lebih sering, ia masuk pelan-pelan, duduk tenang di sudut ruangan, lalu menunggu sampai kita sadar bahwa kehadirannya sudah tidak bisa diabaikan.

Aku baru benar-benar menyadarinya sore itu.

Kami kembali ke kantor tanpa banyak percakapan. Sarah tidak melontarkan komentar apa pun, dan anehnya, justru itu yang membuat dadaku terasa tidak nyaman.

Biasanya ia akan berkata, “Sudah kuduga,” atau “Ini bakal jadi masalah.” Kali ini, tidak.

Ia hanya menaruh map di meja kerjanya, membuka laptop, lalu berkata singkat, “Aku sedang menarik semua arsip lama yang masih terkait dengan namamu.”

Aku menoleh. “Semua arsip tentangku?”

“Yang bisa kuakses tanpa memicu alarm internal,” jawabnya. “Sisanya… mungkin sudah lebih dahulu disentuh orang lain.”

Aku tidak menyukai kalimat itu.

Aku duduk dan membuka catatan pribadiku. Jemariku berhenti di satu nama yang sejak pagi enggan pergi dari pikiranku.

Rani.

Bukan karena ia rapuh. Justru sebaliknya—ia cukup kuat untuk bertahan sejauh ini. Dan orang-orang seperti itu sering kali dijadikan alat oleh pihak yang lebih sabar dan lebih licik.

“Kau sadar tidak?” Sarah berkata tiba-tiba, tanpa menoleh dari layar. “Dia tidak pernah memaksamu.”

Aku mengangguk pelan. “Itu yang membuatnya berbahaya.”

M tidak pernah menekan. Ia memberi ruang. Membiarkan pilihan terasa wajar.

Dan setiap pilihan itu selalu membawa dampak—meski tidak langsung.

Telepon kantor berdering.

Sarah mengangkatnya, menjawab singkat, lalu menutup kembali.

Ia menatapku. “Namamu muncul di laporan masuk.”

Dadaku mengeras. “Sebagai petugas?”

“Bukan,” jawabnya. “Sebagai saksi lama yang tidak pernah dipanggil ulang.”

Aku terkekeh. Sebuah reaksi spontan yang tidak menyembunyikan apa pun.

“Menarik,” gumamku. “Aku bahkan tidak tahu namaku masih ada di sistem.”

“Kau sudah tidak tercatat,” kata Sarah. “Tetapi seseorang memastikan namamu tetap bisa ditemukan.”

Kami saling pandang.

Tidak perlu menyebut inisialnya.


***


Hari beranjak malam tanpa terasa.

Aku baru menyadari jam menunjukkan hampir pukul sembilan ketika ponselku bergetar. Pesan masuk dari nomor yang sudah kusimpan.

Rani.

Aku sempat mengira semuanya aman. Sampai seseorang muncul di tempat kerjaku dan membuka kembali cerita lama.

Aku terpaku.

Sarah sudah mengambil jaketnya. “Kita ke sana.”

“Sekarang?”

“Sekarang,” ulangnya tegas. “Ini bukan kebetulan.”

Pusat konseling itu sudah tutup ketika kami tiba. Lampu depan mati, tetapi satu ruangan di bagian belakang masih menyala.

Rani duduk di dalam. Wajahnya pucat.

Dan dia tidak sendirian.

Seorang pria berdiri di dekat lemari arsip. Penampilannya rapi, terlalu rapi untuk jam segini. Wajahnya netral—wajah yang cocok untuk administrasi atau laporan resmi.

Ia menoleh ketika kami masuk.

“Oh,” katanya ringan. “Akhirnya kalian datang.”

Sarah langsung menunjukkan lencananya. “Siapa Anda?”

“Audit independen,” jawabnya dengan senyum tipis.

“Audit jam sembilan malam?” aku bertanya.

“Kasus lama,” katanya santai. “Biasanya memang muncul di waktu yang tidak menyenangkan.”

Rani menatapku, gugup. “Dia bilang ini hanya verifikasi.”

Aku mengalihkan pandangan ke pria itu. “Verifikasi apa?”

“Verifikasi kejadian,” jawabnya singkat.

Jawaban itu terasa terlalu jelas.

M tidak lagi mengirim orang suruhan tanpa identitas. Ia mengirim wakil.

“Anda tidak berhak berada di sini,” ujar Sarah dingin.

Pria itu mengangkat bahu. “Saya sudah selesai. Lagi pula—”

Ia menatapku sejenak.

“Pilihan sudah diambil.”

Ia pergi dengan tenang. Tidak meninggalkan ancaman, tidak menimbulkan keributan.

Dan hal itu pulalah yang menyebabkan ruangan terasa lebih dingin.

Rani menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Aku belum menandatangani apa pun,” katanya cepat. “Aku bersumpah.”

Lihat selengkapnya