Series Detektif Senja

Aulia umi halafah
Chapter #7

Garis Tipis yang Sengaja Dilewati

Ada perbedaan tipis antara bereaksi dan bergerak lebih dulu. Bereaksi berarti menunggu sesuatu terjadi, lalu menyesuaikan diri. Bergerak lebih dulu berarti menyadari sesuatu akan terjadi—dan memilih untuk tidak berdiri diam.

Pagi itu, aku memilih opsi kedua.

Aku tiba di kantor lebih awal dari biasanya. Lampu-lampu belum sepenuhnya menyala, aroma kopi baru bercampur dengan bau kertas lama yang selalu membuatku waspada. Kantor dalam kondisi setengah bangun terasa lebih… jujur daripada saat penuh orang, ketika senyum dipaksakan dan percakapan menjadi pertunjukan.

Sarah sudah ada di mejanya. Tidak dengan kopi, tapi dengan tumpukan berkas.

“Ini bukan kebetulan,” katanya tanpa menoleh ketika aku mendekat. Suaranya tenang, tapi nada datarnya membuat jantungku sedikit menegang. “Tiga arsip lama yang namamu tercantum tiba-tiba muncul di antrean audit minggu ini.”

“Dan tidak ada satu pun yang seharusnya aktif,” sambungku.

“Tepat. Seseorang menggeser prioritas tanpa meninggalkan jejak.”

Aku menarik kursi dan duduk. “Berarti dia tidak hanya bermain di luar. Dia punya akses.”

“Atau,” Sarah menambahkan, “dia cukup paham bagaimana membuat orang yang punya akses bergerak untuknya.”

Aku mengetuk meja pelan. “Itu lebih berbahaya.”

Sarah akhirnya menoleh dan menatapku serius. “Kau mau memulai dari mana?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku membuka laptop, mengakses catatan pribadiku, lalu menarik satu nama yang sejak kemarin sengaja tidak kusebut.

“Dari orang yang tidak seharusnya dia sentuh,” kataku. “Rani.”

Sarah menghela napas pendek. “Aku sudah menduganya.”

“Dia bukan target utama,” lanjutku. “Dia pondasi. Emosional, bukan strategis.”

“Dan pondasi itu menahanmu di tempat,” kata Sarah.

“Dulu, iya,” jawabku. “Sekarang? Aku mau tahu siapa yang menarik talinya.”

Kami tidak langsung bergerak. Itu aturan tak tertulis yang selalu kami pegang: jangan datang ke lokasi dengan emosi yang meluap-luap. Aku menghabiskan satu jam penuh hanya membaca ulang dokumen lama—bukan mencari kesalahan hukum, tapi mencari pola bahasa.

M suka bahasa yang tertata. Terlalu sistematis. Kalimatnya konsisten. Pilihan katanya efisien. Tidak ada emosi berlebih. Orang seperti itu jarang bekerja sendirian, tapi selalu memastikan namanya tidak pernah muncul.

“Dia menulis seperti orang yang terbiasa membuat laporan, bukan surat,” gumamku pada diri sendiri.

Sarah melirik layarku. “Administratif?”

“Atau penghubung,” jawabku. “Seseorang yang mengerti bagaimana sistem membaca kebenaran.”

Kami sepakat bertemu Rani siang hari. Bukan di pusat konseling. Bukan di kantor. Kami memilih tempat netral—kedai kecil dekat stasiun, ramai tapi tidak bising. Tempat orang datang dan pergi tanpa banyak bertanya.

Rani datang lima menit lebih awal. Ia tampak lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya, tapi itu jenis ketenangan rapuh. Tangannya tetap menggenggam cangkir terlalu erat, seolah takut jika melepaskannya, sesuatu akan runtuh. Aroma teh melati dan kopi dari barista berbaur di udara, tapi ia seakan tidak bisa menikmatinya.

“Kalian yakin ini aman?” tanyanya pelan.

“Tidak sepenuhnya,” jawabku jujur. “Tapi lebih aman daripada diam.”

Ia tersenyum tipis. “Kau tidak berubah.”

Aku menatapnya. “Itu bukan selalu hal baik.”

Kami tidak langsung membicarakan dokumen. Aku memintanya menceritakan kronologi sederhana: siapa yang datang, apa yang dikatakan, dan—yang terpenting—apa yang tidak dikatakan.

“Dia tidak memaksa,” kata Rani. “Tidak mengancam. Bahkan bilang aku boleh menolak.”

“Kalimat tepatnya?” tanyaku.

Rani berpikir sejenak. “Katanya, ‘Menunda juga bentuk keputusan.’”

Aku dan Sarah saling pandang. “Kau sadar itu bukan kalimat yang disengaja?” ujar Sarah.

Rani mengangguk pelan. “Aku sadar sekarang.”

Aku mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Rani, dengarkan aku baik-baik. Kalau dia menghubungimu lagi—”

“Aku tidak akan membalas,” potongnya cepat.

“Bukan itu,” kataku. “Kau boleh membalas. Tapi jangan menjawab.”

Rani mengerutkan dahi. “Apa bedanya?”

“Banyak,” jawabku. “Membalas tanpa menjawab berarti kau mengakui keberadaannya, tapi tidak memberinya data.”

Sarah menambahkan, “Dan itu membuatnya tidak nyaman.”

Rani terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”

Saat kami beranjak pergi, aku merasakan sesuatu yang mengganggu—perasaan halus bahwa satu langkah kecil sudah diperhatikan. Aku tidak menoleh. Tidak bereaksi. Aku memilih berjalan, setiap gerakan dihitung, setiap napas diperhitungkan.


***


Sore harinya, aku melakukan sesuatu yang secara teknis tidak melanggar aturan—tapi cukup dekat untuk membuat beberapa orang tidak nyaman.

Aku mengajukan permintaan akses sementara ke arsip lintas divisi, dengan alasanku sebagai peninjauan internal. Sarah memandangi aku cukup lama saat aku menekan tombol kirim. “Kau sadar ini langkah yang beresiko.”

“Aku tahu,” jawabku. “Dan dia sudah lama melewatinya.”

Persetujuan datang terlalu cepat. Itu jawaban pertama.

“Dia memperhatikan,” gumam Sarah.

Aku membuka arsip yang diberikan. Banyak dokumen membosankan. Banyak laporan basi. Lalu aku menemukannya—satu nama yang muncul berulang, bukan sebagai pemeriksa utama, tapi sebagai penyusun ulang. Nama yang tidak pernah berada di depan. Nama yang selalu muncul setelah kejadian besar.

“Aku menemukannya,” kataku pelan.

Sarah berdiri di belakangku. “Bukan M.”

“Bukan,” jawabku. “Tapi orang ini yang tahu bagaimana M bekerja.”

Aku menyimpan nama itu tanpa menyebutkannya keras-keras. Karena permainan ini belum sampai pada fase konfrontasi. Belum.

Ponselku bergetar. Ada pesan masuk.

Kau mulai bergerak lebih dulu.

Lihat selengkapnya