Ruang tanpa jendela selalu dirancang untuk satu hal: membuat orang lupa waktu. Tanpa cahaya alami, tanpa penanda siang atau malam, hanya lampu putih yang konstan dan suara pendingin udara yang tidak pernah benar-benar senyap. Di tempat seperti ini, kelelahan menjadi alat, bukan efek samping.
Aku duduk di kursi kedua dari ujung meja. Posisi yang tidak strategis untuk memimpin, tapi cukup sentral untuk mengamati. Di depanku, map abu-abu tipis bertuliskan Kasus 17-Delta terbuka setengah, seperti mulut yang enggan bicara.
Pak Arya memulai rapat dengan nada yang terlalu datar untuk disebut netral.
“Kita tidak mencari siapa yang salah,” katanya. “Kita mencari di mana prosedur bisa diperbaiki.”
Pernyataan yang terlindungi. Senantiasa terjaga. Aku membukukannya sebagai tanda awal.
Sarah duduk di seberang, punggungnya tegak, ekspresinya tenang. Ia tidak membuka laptop. Keputusan kecil, tapi bermakna: hari ini bukan soal presentasi, melainkan pembacaan sikap.
“Ada bukti ketidakcocokan antara catatan asli dan rangkuman lanjutannya,” ujar Pak Arya.“Fokusnya pada bagian kesaksian.”
Aku mengangguk pelan. “Ketidakcocokan atau peringkasan?”
Beberapa pasang mata bergerak. Ada yang menatapku, ada yang berpura-pura menatap layar komputer.
“Persepsi saksi,” jawabnya. “Ia merasa narasinya diarahkan.”
“Pemaknaan ini tidak terlepas dari faktor luar,” kataku.“Ia dipengaruhi oleh konteks kejadian. Dan semua konteks tersebut sudah masuk dalam arsip.”
Aku menggeser map itu sedikit ke tengah meja. Tetap tertutup. Tanpa isyarat. Sekadar menegaskan kehadirannya di sana.
Sarah akhirnya angkat bicara. “Kami memegang naskah lengkapnya, mulai dari jeda bicara, ralat, hingga klarifikasi. Isinya tidak ada yang dipotong.”
Suasana menjadi hening. Di tempat seperti ini, sikap bungkam bukan berarti kosong—ia adalah tekanan yang disepakati bersama.
Seseorang di ujung meja berdehem. “Persoalannya tidak berhenti sampai di situ.”
Aku menoleh. “Silakan, katakan saja.”
“Kami mengidentifikasi adanya penataan kembali pada laporan pascakejadian. Letak beberapa paragraf berubah. Isinya tetap utuh, tetapi diformat ulang.”
Aku tersenyum tipis. “Penyusunan ulang adalah bagian dari standar editorial internal.”
“Jika dilakukan oleh pihak yang berwenang,” balasnya.
Ada desakan kecil yang kurasakan di dada. Ini bukan hantaman langsung. Ini adalah cara dia menguji ketahananku.
“Nama penyusun tercantum,” kataku. “Dan kewenangannya jelas.”
Pak Arya mengangguk, seolah menenangkan suasana. “Tidak ada tuduhan. Ini evaluasi.”
Evaluasi. Kata yang sering dipakai untuk menunda kebenaran.
Aku bersandar sedikit. “Kalau begitu, mari kita evaluasi utuh. Bukan sepotong.”
Ia menatapku lama. “Itu yang sedang kita kerjakan.”
Aku menyadari bahwa rapat ini tidak bermaksud menjatuhkan pendapatku. Mereka hanya ingin menguji keteguhanku: apakah aku akan terpaku pada aturan atau lebih mengutamakan kemanusiaan.
Aku memilih alternatif ketiga: menjaga batasan.
***
Di sisi lain kota, seseorang membaca ringkasan rapat versi internal. Bukan rekaman resmi. Versi ini lebih ringkas, lebih tajam, dan sengaja menghilangkan nada.
Ia menandai satu kalimat dengan stabilo kuning.
“Tidak ada penghilangan data.”
Sebuah senyum tersimpul, bukan dipicu kelucuan, melainkan oleh sebuah ketepatan.
Ia membuka berkas lain—lebih lama, lebih tebal. Nama Senja muncul beberapa kali, selalu di bagian tengah, tidak pernah di kepala laporan. Posisi ideal bagi seseorang yang tidak ingin terlihat memimpin, tapi mengarahkan arus.
Ponsel miliknya bergetar.
> Dia tidak terpancing.
Balasan datang secara cepat.
> Naikkan tingkatannya. Jangan sentuh dia. Sentuh sekelilingnya.
Ia menutup ponsel, lalu mematikan lampu meja. Gelap menyelimuti ruangan. Ia bekerja paling baik tanpa cahaya berlebih.
***