Series Detektif Senja

Aulia umi halafah
Chapter #9

Retakan yang Tidak Disengaja

Tekanan yang paling efektif jarang datang sebagai ancaman. Ia datang sebagai rutinitas yang sedikit berubah, sebagai prosedur yang tampak wajar, sebagai permintaan yang terlalu sopan untuk ditolak.

Rani merasakannya lebih dulu.

Ia tidak ditelepon. Tidak didatangi. Tidak diminta hadir. Yang berubah hanya satu hal kecil: jadwal. Panggilan konseling rutinnya dipindahkan dua jam lebih awal, tanpa penjelasan berarti. Alasan manajerial. Selalu administratif.

Ia duduk di ruang tunggu lebih lama dari biasanya. Kursi plastik dingin. Poster motivasi di dinding. Jam tanpa suara detik. Ruangan yang dirancang agar orang berpikir terlalu banyak.

Saat namanya dipanggil, ia berdiri dengan gestur penuh perhitungan; keraguan yang tampak di wajahnya hanyalah bagian dari kedisiplinan diri untuk tetap waspada.

Kehadiran petugas yang merupakan wajah lama itu seketika membuatnya waswas.

“Ini sekadar penyesuaian rutin,” ucap perempuan itu dengan santun. “Tujuan kami adalah menjamin kenyamanan Anda sepanjang prosedur ini berlangsung.”

Kata nyaman sering dipakai ketika ketidaknyamanan sedang dipersiapkan.

Rani menjawab seperlunya. Ia ingat pesanku. Membalas tanpa menjawab. Hadir tanpa memberi. Tapi ada satu hal yang tidak bisa dihindari: ekspresi.

“Apakah ada tekanan dari pihak tertentu?” tanya si petugas, nada suaranya lembut.

Rani menatap lantai. “Tekanan seperti apa?”

“Opini. Arah. Saran.”

Rani terdiam terlalu lama. Cukup lama untuk dicatat.

“Tidak,” katanya akhirnya bersuara.

Petugas itu tersenyum sejenak secara singkat. “Baik,” ujarnya mengonfirmasi.

Wawancara ditutup tanpa adanya keputusan final. Namun, ketiadaan keputusan tersebut merupakan sebuah jawaban tersendiri.


***


Aku mengetahui perubahan itu dari Sarah, bukan dari Rani.

“Mereka memindahkan jadwalnya,” kata Sarah. “Tanpa pemberitahuan ke kita.”

Aku mengangguk. “Tahap kedua.”

“Mereka tidak menekan langsung.”

“Karena itu berbahaya,” kataku. “Mereka ingin dia bergerak sendiri.”

Aku membuka flashdisk yang belum sempat kuurai sepenuhnya. Data di dalamnya bukan kronologi kasus, melainkan kebiasaan: siapa mengakses apa setelah jam kerja, siapa mengedit dokumen tanpa meninggalkan nama, siapa selalu menjadi saksi sunyi perubahan kecil.

Satu pola muncul jelas: setiap kali tekanan meningkat, selalu ada koreksi kecil yang tampak menenangkan. Seolah sistem berkata, kami memperbaiki, padahal yang dilakukan hanyalah menggeser beban.

“Ini bukan orang,” gumamku. “Ini mekanisme.”

Sarah membaca dengan cepat. Terlalu cepat. “Dan mekanisme tidak pernah merasa bersalah.”

“Tidak,” jawabku. “Tapi orang-orang di dalamnya masih bisa.”


***


Sore itu, aku menerima email yang tidak seharusnya sampai ke inbox-ku.

Subjek: Revisi Minor — Untuk Arsip

Bukan ditujukan padaku. Salah kirim... Atau disengaja.

Isinya singkat. Sebuah paragraf direvisi. Tidak ada perubahan makna. Hanya penekanan. Kalimat saksi menyampaikan menjadi saksi menyatakan. Satu kata. Cukup untuk menggeser posisi.

Itulah titik kritikalnya.

Aku tidak merespon. Tidak menyebarkan. Aku mendiamkannya.

Kesalahan sistem jarang berupa kesalahan besar. Ia berupa kebiasaan yang dilakukan terlalu sering hingga lupa diperiksa.


***


Di ruang tanpa nama, seseorang membaca laporan perkembangan.

“Dia diam,” kata salah satu suara.

“Diam bukan berarti pasif,” jawab suara lain.

“Kita sudah menyentuh saksi.”

“Itu belum cukup.”

“Kalau kita tekan terlalu keras—”

“Kita tidak menekan,” potong suara itu. “Kita menciptakan alur. Dan biarkan dia memilih.”

Nama Senja muncul lagi. Dilingkari. Tidak ditebalkan.

“Dia belum melakukan kesalahan.”

“Belum melakukan kesalahan,” jawab suara itu. “Tapi dia akan dipaksa memilih. Dan pilihan itu selalu meninggalkan jejak.”


***


Malam itu, Rani meneleponku. Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, ia menelepon tanpa jeda.

“Aku tidak tahu harus bilang apa,” katanya. Suaranya stabil, tapi terlalu rapi.

“Kau tidak perlu bilang apa-apa,” jawabku.

“Mereka tidak menuduh,” lanjutnya. “Mereka hanya bertanya. Tapi rasanya seperti… aku sedang diarahkan.”

Aku menutup mata sejenak. “Kau merasa ingin mengubah sesuatu?”

“Aku merasa ingin diam,” katanya jujur. “Dan itu yang paling menakutkan.”

Aku memilih kata dengan hati-hati. “Diam adalah pilihan. Tapi bukan kewajiban.”

“Kalau aku bicara, aku takut salah.”

“Kalau kau diam, orang lain akan bicara untukmu,” jawabku. “Dan itu yang lebih berbahaya.”

Ia terdiam lama. Hembusan napasnya terdengar jelas.

“Apa yang harus kulakukan?”

Lihat selengkapnya