Series Detektif Senja

Aulia umi halafah
Chapter #10

Harga yang Disepakati

Tawaran kompromi jarang datang dalam bentuk ancaman. Ia datang sebagai jalan keluar yang tampak masuk akal—cukup rapi untuk diterima, cukup rancu untuk disesali belakangan.

Tawaran itu tiba di mejaku pukul 09.12.

Bukan surat resmi. Bukan memo. Tapi dalam bentuk undangan makan siang.

Pengirimnya Direktur Kepatuhan Internal. Orang yang jarang turun langsung kecuali situasi sudah dianggap tidak bisa ditangani oleh lapisan menengah.

Subjek emailnya sederhana: Diskusi informal.

Aku membaca kalimatnya dua kali. Tidak ada kata “kasus”. Tidak ada nama Rani. Tidak ada angka. Justru itu yang membuatnya jelas.

“Mereka datang,” kata Sarah dari ambang pintu ruanganku.

Aku tidak menoleh. “Bukan untuk menyerang.”

“Tapi untuk menutup.”

Aku mengangguk. “Dan mereka ingin aku yang memegang tutupnya.”

Sarah masuk dan duduk tanpa diminta. “Kau akan datang kesana?”

“Aku harus datang,” jawabku. “Kalau aku menolak, mereka akan mencari cara lain. Biasanya cara yang lebih kotor.”

“Dan kalau kau menerima?”

“Aku akan mendengarkannya lebih dulu,” kataku. “Tidak lebih.”

Sarah memandangku lama. “Mendengar juga bentuk persetujuan, Senja.”

Aku menatap balik dan tersenyum tipis. “Diam juga bisa dianggap perlawanan. Bedanya tipis.”

Ia tidak menjawab. Kami sama-sama tahu, ini bukan soal definisi. Ini soal konsekuensi.


***


Restoran itu tenang. Terlalu tenang untuk jam makan siang. Musik instrumental pelan. Meja-meja berjauhan. Tempat ideal untuk percakapan yang tidak ingin didengar.

Direktur Kepatuhan datang tepat waktu. Setelan rapi. Senyum profesional. Tangannya hangat saat menjabat.

“Terima kasih sudah meluangkan waktu,” katanya.

“Ini bagian dari pekerjaanku,” jawabku.

Kami duduk. Pesanan datang cepat. Ia tidak menyentuh makanannya.

“Kita langsung saja,” katanya. “Kasus 17-Delta mulai mengganggu stabilitas internal.”

“Stabilitas siapa?” tanyaku.

Ia tersenyum tipis. “Organisasi.”

“Kebenaran sering mengganggu organisasi,” kataku datar.

“Dan organisasi bertugas memastikan kebenaran tidak merusak terlalu banyak,” balasnya tenang.

Itulah jalan tengahnya. Kalimat inti yang dibungkus rapi.

“Kami tidak melihat pelanggaran serius,” lanjutnya. “Tapi ada gesekan. Persepsi publik. Tekanan eksternal.”

“Dan saksi,” kataku.

“Dan saksi,” ia mengakui. “Kami ingin ini selesai dengan baik.”

Aku menyesap air. “Definisi ‘baik’ kita mungkin berbeda.”

Ia mengangguk, seolah mengantisipasi itu. “Kami menawarkan solusi. Evaluasi internal terbatas. Tidak ada eskalasi. Tidak ada peninjauan ulang terbuka.”

“Dan sebagai gantinya?” tanyaku.

Ia menatapku langsung. “Anda menarik diri dari pengawasan lanjutan. Bukan karena salah—tapi demi objektivitas.”

Itu dia. Harga yang ditentukan.

“Aku tetap bekerja,” kataku.

“Tentu,” jawabnya cepat. “Hanya tidak di kasus ini.”

Lihat selengkapnya