Series Detektif Senja

Aulia umi halafah
Chapter #12

Orang yang Paling Masuk Akal

Balasan sistem datang dua hari setelah keputusan kecil itu dibuat.

Bukan cepat. Bukan lambat. Tepat pada waktu yang memberi kesan bahwa semuanya telah dipertimbangkan dengan matang.

Email itu masuk pukul 10.03, ditujukan kebeberapa nama sekaligus—termasuk namaku, Sarah, dan unit dokumentasi pusat. rapi dan berkelas:

Penyesuaian Sementara Penanngung Jawab Teknis

Aku membaca isimya perlahan. Kalimat per kalimat. Tidak ada satupun yang keliru.

Mulai tanggal efektif, koordinasi teknis lanjutan Kasus 17-Delta akan difokuskan pada satu penanggung jawab tunggal guna memastikan efisiensi, konsistensi dokumentasi, dan netralitas proses.

Nama itu muncul di paragraf kedua.

Hadi Prasetya.

tidak ada embel-embel. Tidak ada penjelasan yang jelas. Seolah semua orang seharusnya sudah paham.

Ia tidak terlibat sejak awal. Tidak dekat dengan Rani. Tidak punya sejarah konflik denganku. Rekam jejaknya bersih, rapi, dan selalu patuh dengan aturan. Ia dikenal sebagai orang yang “tidak membawa beban pribadi ke dalam pekerjaan”.

Dalam bahasa sistem, itu berarti: aman.

Sarah berdiri di ambang pintu ruanganku, memegang ponselnya. “Mereka menunjuk Hadi.”

“Aku tahu,” jawabku.

“Kau tidak terkejut.”

“Karena ini langkah paling masuk akal.”

Ia masuk dan menutup pintu. “Justru itu yang membuatku takut.”

Aku mengangguk. “Sistem mengambil jalan tengah. Ia memilih yang paling bisa diterima.”


***


Hadi datang menemuiku siang itu.

Tidak dipanggil. Tidak diminta. Ia datang sendiri, membawa map tipis dan senyum yang tampak canggung.

“Aku ingin bicara sebentar,” katanya.

“Silahkan,” jawabku, mempersilakannya duduk.

Ia duduk tegak, map diletakkan rapi di meja, tangan bertaut di atasnya. Gerakannya terlatih—bukan kaku, tapi berhati-hati.

“Aku baru mendapatkan wewenang ini, dan aku perlu mengonfirmasi agar tidak ada salah paham.”

“Dalam hal apa?” tanyaku.

“Peranku,” jawabnya. “Aku tidak datang untuk menggantikan siapa pun secara personal.”

“Tentu,” kataku. “Sistem jarang bersifat personal.”

Ia tersenyum kecil, seolah menganggap itu lelucon ringan. “Aku ingin bekerja profesional. Transparan.”

“Pesan yang positif,” ujarku menekankan. “Efeknya ditentukan oleh bagaimana kata-kata itu diterapkan.”

Ia menarik napas. “Aku tahu ada dinamika. Aku tahu kasus ini sensitif. Tapi justru karena itu, kita butuh orang yang tidak terlalu dekat.”

Aku menatapnya lurus. “Dekat dengan apa?”

“Dengan konflik,” jawabnya cepat.

“Atau dengan manusia di dalamnya?” tanyaku.

Ia terdiam sesaat. Cukup lama untuk menunjukkan bahwa pertanyaan itu tidak ada di briefing-nya.

Aku mengangguk. “Aku percaya.”

Dan aku memang percaya. Itulah masalahnya.


***


Perubahan mulai terasa sejak hari pertama Hadi mengambil alih.

Lihat selengkapnya