Serigala Liar

Romusha
Chapter #1

Selamat datang di kota karam

Di sebuah jalan yang sepi, sebuah bus tampak melintas.

Huf... huu...

Seorang pemuda di dalam bus terlihat mengatur napasnya berkali-kali. "Anjir... ini kapan sampainya, sih?" batinnya kesal. Ia nekat berjongkok di atas kursi penumpang, sama sekali tidak peduli dengan pandangan heran orang-orang di sekitarnya.

Tak lama, keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya. Pemuda itu merapatkan tubuh lalu memeluk kedua kakinya erat-erat, mencoba bertahan sekuat tenaga.

“Bangke... nih perut bisa santai dulu gak, sih? Perjalanan masih jauh ini,” batinnya kian tersiksa saat merasakan isi perutnya yang semakin mendesak ingin keluar.

"Hehehe..." Iwan Nurdin—nama pemuda itu—akhirnya tertawa kaku demi mencairkan suasana. Ia melempar senyum canggung kepada orang di sebelahnya.

"Mas, Kota Karam masih jauh, ya?" tanya Iwan dengan suara yang agak ditahan.

"Oh, paling cuma dua kilo lagi, Dek," jawab pria itu, ikut tersenyum canggung karena merasa heran melihat posisi jongkok Iwan. Pria itu memperhatikan wajah Iwan yang mulai pucat dan banjir keringat. "Kenapa, Dek? Mules, ya?"

"Hehe... Iya, Mas. Tadi pagi sarapan soto, sambalnya kebanyakan," jawab Iwan sambil meringis, berusaha keras menyembunyikan rasa mulas yang luar biasa.

Saat ini, pertahanan Iwan sudah di ambang batas. Wajahnya makin pucat pasi, bibirnya gemetaran, dan seluruh tubuhnya mulai kaku karena semua energinya dipusatkan untuk "menahan" gejolak di perut bawahnya. Keringat dingin sebesar biji jagung pun semakin deras membasahi leher dan kausnya.

‘Udah tahu muka gue udah kayak mayat begini, pakai nanya lagi nih si Mas!’ batin Iwan dongkol, meski di luar ia tetap memaksakan senyum kaku yang terlihat seperti orang menahan tangis.

Jarak dua kilometer itu terasa bagai ratusan kilometer bagi Iwan. Posisi jongkoknya sudah sama sekali tidak nyaman, tapi mau mengubah posisi duduk pun ia sudah tidak berani bergerak sedikit saja. Setiap kali bus berguncang melewati jalanan, Iwan langsung memejamkan mata rapat-rapat, berdoa dalam hati agar "pertahanannya" tidak jebol di tempat.

Dua kilometer kemudian, bus akhirnya mulai melambat.

"Nah, udah sampai, Dek," tegur si Mas di samping Iwan memecah keheningan, sambil menunjuk ke luar jendela ke arah sebuah plang besar bertuliskan 'Selamat Datang di Kota Karam'.

"Iya, Mas..." jawab Iwan singkat dengan suara yang luar biasa bergetar. Ia memandang plang hijau di pinggir jalan itu dengan tatapan kosong sekaligus dongkol setengah mati.

‘Ya percuma, Mas, kalau cuma nunjukin plang! Lu pikir gue mau berak di bawah tiang plang itu apa?!’ batin Iwan berteriak frustrasi. Yang dia butuhkan sekarang adalah toilet dengan air mengalir, bukan papan sambutan selamat datang!

Begitu bus akhirnya memasuki area terminal, pertahanan Iwan sudah benar-benar berada di titik kritis. Bahkan sebelum bus sepenuhnya berhenti, ia sudah nekat berdiri dengan gerakan kaku. Menolak peduli pada rasa pusing atau pandangan heran penumpang lain, Iwan berjalan cepat setengah menyeret kakinya menuju area pintu depan. Persetan dengan sopan santun, yang penting dia harus menjadi orang pertama yang keluar dari bus ini.

Pas bus berhenti sempurna dan pintunya terbuka, Iwan langsung melesat turun. Sambil memegangi perutnya yang semakin melilit, matanya bergerak liar, celingukan ke sana kemari demi memburu satu logo yang paling ia butuhkan di dunia saat ini: plang penunjuk arah toilet terminal.

Begitu melihat plang toilet, Iwan langsung mengerahkan seluruh sisa tenaga untuk berlari sekencang mungkin. Saking buru-burunya, tanpa sengaja bahunya menabrak keras bahu seorang pria yang sedang berdiri di dekat pintu masuk toilet.

"Woii! Kalau jalan lihat-lihat dong!" bentak pria itu emosi, menatap tajam ke arah punggung Iwan.

Namun, kemarahan pria itu langsung berubah jadi kepanikan saat dia meraba bibirnya. Plak! Pria itu menepuk dahinya sendiri dengan keras. Ia baru sadar sebatang rokok yang sedari tadi dijepit di bibirnya sudah lenyap, terlepas akibat tabrakan tadi dan kini menggelinding pasrah di lantai toilet yang basah.

"Anjir, rokok gue jatuh! Mana itu rokok satu-satunya lagi!" gerutunya dengan wajah merah padam. Menatap rokok terakhirnya yang kini sudah basah dan hancur, kekesalannya langsung memuncak. Ia menatap tajam ke arah pintu bilik tempat Iwan masuk. ‘Persetan! Awas aja, pokoknya habis ini harus minta ganti rugi gue!’ batin pria itu dongkol setengah mati.

Sementara itu di dalam bilik WC, Iwan langsung menyelonong masuk tanpa memedulikan teriakan di luar, mendobrak salah satu bilik kosong, dan mengunci pintunya rapat-rapat.

Beberapa menit kemudian. Karena Iwan tidak kunjung keluar.

Brak! Brak! Brak!

Pintu bilik WC tiba-tiba digedor dengan sangat kasar dari luar oleh pria berrokok tadi. Suara hantaman bertubi-tubi itu langsung memecahkan konsentrasi Iwan yang sedang berjuang di dalam. Karena gedoran sialan itu tak kunjung berhenti dan malah makin bising, kekesalan Iwan langsung naik ke ubun-ubun. Dengan menahan dongkol, ia terpaksa menyudahi "rapat darurat"-nya secepat kilat.

Brakkk!!!

Pintu WC itu dihantam tendangan kaki dari dalam dengan sekuat tenaga, hingga jebol dan terlepas dari engselnya.

"BERISIK, BANGSAT!" teriak Iwan murka bersamaan dengan melayangnya daun pintu tersebut.

Pria yang sedari tadi menunggu di balik pintu langsung apes dua kali. Ia tertimpa daun pintu yang roboh dan terdorong ke belakang hingga membentur dinding toilet.

Belum sempat pria itu mengaduh, Iwan sudah melangkah keluar dengan mata melotot merah. "Maksud lu apa, bangsat, gedor-gedor orang lagi berak?! Ganggu aja lu!" bentak Iwan, meluapkan seluruh emosinya yang tertahan sejak di bus tadi.

Lihat selengkapnya