Serigala Rimba Beton

Davie Al-Fattah
Chapter #6

BAB 6 — Teman di Tengah Rimba Beton

Rimba beton ini punya caranya sendiri untuk membuat seseorang lupa bahwa ia pernah menjadi manusia. Di tempat ini, suara keyboard bisa terdengar seperti derap kaki pasukan yang sedang mengepung. Aroma kopi yang tumpah bisa berubah menjadi bau perang. Tawa kecil di sudut ruangan bisa terasa seperti ejekan yang ditusuk pelan ke tulang rusuk. Dan langit-langit kantor yang putih pucat dan berdebu selalu tampak seperti tenggorokan besar yang siap menelan siapa saja yang lengah. Aku hidup terlalu lama di dunia ini sampai mulai hafal suara-suara yang tidak pernah diajarkan di buku mana pun—suara dengki yang dibungkus formalitas, suara kecemburuan yang dibungkus senyum, suara kebencian yang dibungkus rapat sehingga hanya orang yang hampir hancur yang bisa mendengarnya. Tapi di tengah semua kebisingan itu, ironisnya, justru ada keheningan yang menyelamatkan: kehadiran seseorang yang tidak memiliki motif apa-apa selain menjadi manusia.

Dua puluh persen orang. Itu angka yang mungkin hanya statistik di mata banyak orang. Tapi bagiku, itu adalah persentase yang menentukan apakah aku akan runtuh atau bertahan. Di tengah delapan puluh persen yang berjalan dengan wajah penuh strategi dan hati penuh jebakan, dua puluh persen lainnya adalah ruang bernapas yang kecil, sempit, rapuh—tapi nyata. Dan tempat sekecil itulah yang menyelamatkan kewarasanku dari ambruk total. Bukan karena mereka sempurna. Bukan karena mereka selalu benar. Bukan karena mereka kuat. Justru karena mereka manusia, apa adanya. Tidak dibuat-buat. Tidak bercabang lidah. Tidak memakai topeng dua lapis. Mereka hanyalah manusia yang menolak mengikuti arus racun yang mengalir di bawah meja-meja kantor. Dan orang seperti itu, di tempat seperti ini, jumlahnya sangat sedikit, sehingga setiap satu dari mereka terasa seperti mata air yang dijaga hutan.

Ada satu orang yang selalu mengawali hari dengan senyum yang tidak pernah dibuat-buat. Senyum kecil, sederhana, tidak terlalu lebar—tapi jujur. Senyumnya tidak menuntut balasan. Tidak menagih kesan baik. Tidak mencoba memancing percakapan. Itu jenis senyum yang dikeluarkan oleh seseorang yang tidak sedang mencoba menjadi baik, melainkan memang baik dari dasarnya. Di hari-hari ketika dadaku terasa seperti dipenuhi pasir halus yang memberatkan napas, senyum itu seperti tangan kecil yang memindahkan sebagian beban, walau tidak semuanya. Cukup untuk membuatku berjalan ke depan, walau hanya beberapa langkah.

Ada orang lain yang tidak banyak bicara. Jenis manusia yang lebih memilih mengamati dari pada bereaksi. Ia tidak memberi nasihat. Tidak menenangkan dengan kata-kata manis. Ia hanya menatap, mengangguk pelan, lalu kembali menulis, makan atau bekerja. Tapi entah kenapa, tatapannya mengatakan sesuatu yang lebih keras daripada kata-kata: bahwa aku tidak sendirian. Bahwa kegilaanku masih bisa dipahami. Bahwa peperangan batin yang aku pikul ini bukan halusinasi. Dan lucunya, orang seperti itu sering dianggap tidak penting oleh banyak orang. Mereka tidak menonjol. Tidak vokal. Tidak karismatik. Tapi justru karena itulah mereka menjadi tempat yang terasa aman. Di tempat seperti ini, keheningan adalah bentuk kebaikan yang tidak banyak orang sadari.

Lihat selengkapnya