Serigala Rimba Beton

Davie Al-Fattah
Chapter #7

BAB 7 — Dialog Batin: Ini Semua Layak atau Tidak?

Malam itu turun terlalu cepat, seperti langit sedang ingin menutup babak harinya tanpa peduli apakah manusia di bawahnya sudah selesai menanggung beban masing-masing atau belum. Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, bising kendaraan berubah lebih tajam, dan gedung-gedung tinggi berdiri seperti raksasa yang mengawasi dengan mata dingin. Di tengah itu semua, aku berjalan pulang dengan pikiran yang seperti jendela pecah—retak di mana-mana, tidak ada satu titik pun yang terasa utuh.

Kadang aku merasa dunia kantor itu seperti lorong sempit yang tidak pernah berakhir. Setiap hari aku masuk, setiap hari aku keluar, tapi rasanya tetap seperti aku tidak pernah benar-benar pergi. Ada jejak tekanan yang menempel di kulit, di pernapasan, bahkan dalam tidurku. Dan di antara kepadatan itu, ada suara yang selalu muncul saat malam tiba—suara yang menyerupai ringkihan serigala yang mencari arah. Bukan serigala yang liar, bukan pula serigala yang buas, tapi serigala yang tersesat. Serigala yang lapar akan kebebasan tapi terbelenggu oleh rantai yang tidak terlihat. Serigala itu… adalah aku.

Aku selalu bertanya, apakah semua yang kulakukan ini pantas? Layak? Apakah aku benar-benar sedang membangun sesuatu yang berarti, atau hanya mengumpulkan serpihan-serpihan hari yang nanti akan hilang dimakan waktu?. Di dalam gedung kantor yang dingin itu, aku sering merasa seperti berada di tengah rimba beton. Sebuah hutan buatan, penuh jebakan, penuh predator yang tersenyum. Dan setiap hari aku harus memilih: ikut menjadi bagian dari mereka, atau tetap menjadi diriku sendiri meskipun perlahan terkoyak. Rimba beton itu punya caranya sendiri untuk memaksa manusia tunduk. Tekanan. Konflik kecil. Drama interpersonal. Ambisi yang berserakan seperti kaca pecah. Ditambah 80% wajah-wajah yang hidup dari toksisitas—yang mengambil energi orang lain agar bisa tetap bertahan. Wajah-wajah yang pura-pura peduli padahal menunggu celah untuk menusuk. Dan di tengah semua itu, aku berdiri seperti bayangan yang terus redup.

Aku pernah duduk di meja kerja, menatap layar laptop yang memancarkan cahaya kebiruan, dan bertanya pada diriku sendiri, “Untuk apa semua ini? Untuk siapa?” Setiap kali pertanyaan itu muncul, rasanya seperti ada cakaran halus di dalam dada. Bukan rasa sakit yang besar, tapi cukup untuk membuat napas goyah. Cakaran itu, aku tahu, adalah suara serigala di dalam tubuhku—suara insting, suara kejujuran yang selama ini kuabaikan karena tuntutan hidup. Serigala itu tidak ingin tunduk. Tidak ingin diam. Ia hanya ingin keluar dari hutan palsu itu dan berlari sejauh mungkin menuju tempat yang benar-benar hidup. Namun, dunia tidak begitu mudah. Ada tanggung jawab. Ada keluarga. Ada mimpi yang belum selesai. Ada kewajiban yang harus dipenuhi. Dan ada harga yang harus dibayar. Kadang aku merasa serigala itu merintih. Kadang ia mengaum. Kadang ia hanya mengendap, menunggu waktu untuk kembali mengingatkanku bahwa aku bukan sekadar roda dalam mesin besar yang tidak peduli apakah aku rusak atau patah. Saat lembur tengah malam, ketika listrik kantor tinggal separuh hidup dan AC mulai mati satu per satu, aku sering memandang bayanganku sendiri di jendela. Kota terhampar luas di balik kaca—lampu-lampu memanjang seperti urat nadi yang berpendar.

Di situ aku melihat sesuatu yang tidak kusadari sebelumnya: wajahku tampak lelah, tapi mataku… mataku masih menyala. Seolah ada api kecil di belakang pupil, api yang tidak mau padam, api yang menolak menyerah pada keadaan. Aku sadar kemudian bahwa itu bukan api manusia yang rapuh. Itu adalah api serigala.

Lihat selengkapnya