Sebuah kamar berukuran kecil dengan sebuah kasur melantai, di pinggir sana ada sebuah kas pakaian kecil, dan di pinggir sana juga ada beberapa susunan tumpukkan buku. Ada seorang pria muda duduk membaca sebuah buku, buku yang dipegangnya adalah “Apa Komitmen Saya Kepada Islam” karya DR. Fatih Yakan. Handphonenya berbunyi, sebuah pesan masuk.
“Assalamualaikum, antum dimana?”
“Waalaikumsalam. Di rumah akh, ada apa?” balas Usamah kepada sms Said
“Antum ke sekret, ana dan Dawam menunggu. Kita ikut settingan aksi di sekretariat teman-teman LMND, di Ngade”, sms masuk dari Said.
Berselang itu Usamah ke sekretariat yang terletak di Kelurahan Stadion. Disana sudah ada Said dan Dawam. Yusuf juga yang sedang asyik tilawah. Usamah menegur dan Yusuf lihat sejenak, tersenyum, dan kembali melanjutkan tilawahnya. Said adalah Sekretaris Organisasi Kepemudaan Muslim ini dan Yusuf aktif Departemen Kaderisasi. Mirgah dan Dawamaktif di Departemen Kebijakan Publik. Usamah aktif sebagai Pengurus Departemen Kehumasan.
Said dan Dawam yang juga sedang tilawah. MelihatUsamah dan menanyakan “Bagaimana kabar akh?”
“Alhamdulillah sehat akh, antum? Bagaimana rencana settingan aksi?” tanya Usamah
“Alhamdulillah sehat akh,” jawab Said
“Alhamdulillah sehat juga bro,” jawab Dawam
“Sekarang settingan aksinya, sekarang juga kita kesana,” Said bersiap-siap untuk berangkat. Mengajak Dawam dan Usamah.
Mereka sampai di Ngade, turun di jalan dan jalan kaki turun ke bawah dekat Danau Ngade, disitu ada rumah kecil dan kumuh, di sekitarnya banyak pohon, banyak juga pohon pala. Ada beberapa pemuda mengisap rokor kretek, diambil tembakaunya, dililit kemudian dibakar dan diisap. Mereka adalah beberapa aktivis dari LMND, SMI, dan Gamhas, ada juga kader-kader mereka yang masuk dalam organisasi intrakampus dan diikutkan dalam settingan aksi dan tetap mengatasnamakan organisasi intrakampus seperti BEM Fakultas Hukum, BEM Fakultas Ekonomi, BEM Fakultas Sosial Politik. Dan beberapa organisasi lain tergabung dalam aliansi yang akan rencana dibentuk ini.
“Bagaimana kabar kawan-kawan?” sambut seorang teman berambut gondrong, mengisap rokok dan segelas kopi, gelasnya gelas plastik. Kopi yang hanya berada dalam satu teko diminum bersama-sama dengan satu gelas plastik.
“Kopi kawan?” seorang dari mereka menawarkan ketika Usamah, Said, dan Dawam duduk jongkok bersama mereka dibawah pohon pala tepat di depan rumah kumuh dan kecil itu. Ya, rumah kumuh dan kecil itu sekretariat mereka, tak ada listrik kelihatannya. Kopi yang diberikan pun hanya seperempat dari gelas.
“Kita tunggu dulu kawan-kawan yang lain,” kata seorang teman dari mereka. Seorang aktivis LMND. Mereka berbincang-bincang tentang Karl Marx, Lenin, Stalin, Aidit, Soekarno dan Komunis. Ada dari mereka yang menggunakan baju berbintang merah dengan gambar dalam bintang ada gambar kepalan tangan.
Tak lama berselang mereka memulai rapat, rapat dipimpin oleh seorang aktivis LMND. Membahas tentang tema aksi, isu utama, isu turunan, dan perangkat aksi. Isu utamanya adalah “Menolak Kenaikan BBM, Laksanakan UUD Pasal 33”.
“Bagaimana kawan-kawan setuju?” selanjutnya kita membahas isu turunannya. “Isu turunannya, diantaranya, tolak kenaikan BBM, tolak liberalisasi JKW-JK, tolak neoliberalisme, turunkan harga sembako, revitalisasi aset-aset nasional, wujudkan pemerintahan yang pro rakyat, naikkan harga komoditi cengkeh dan pala, laksanakan pasal 33 UUD”
“Koordinator lapangan dikembalikan pada perwakilan-perwakilan OKP,” saran dari salah seorang aktivis SMI.
“Boleh, bagaimana kawan-kawan yang lain?” moderator memberi tanggapan kepada teman-teman rapat.
“Kami dari organisasi kepemudaan Muslim, juga setuju dengan itu”
“Sekarang kita lanjut menetapkan yang lain, rute aksi dan perangkat aksi”
“Tempat aksi akan dimulai dari Lapangan Salero sebagai tempat berkumpul. Lanjut Orasi di RRI Cabang Ternate. Menuju Kantor Walikota dan berkumpul dengan massa aksi lain di Gedung DPRD Kota Ternate Kalumata,” saran dari Dawam kepada moderator.
“Bagaimana kawan-kawan yang lain?”
“Oke. Rute aksinya demikian”
“Koordinator lapangan dikembalikan pada perwakilan OKP.” Said menjadi salah satu diantaranya.
“Moderator orator diberikan kepada kawan dari SMI dan Kumpulan Kepemudaan Muslim ini.” Dawam bertanggung jawab atas ini.
“Yang menangani publikasi dan pamflet, kehumasan, teman-teman dari BEM dan LMND”
“Yang akan menjadi kronologi, teman-teman dari Kumpulan Kepemudaan Muslim ini.” Usamah menjadi Kronologi.
“Negosiator, dikembalikan pada perwakilan OKP”
“Kurir, diberikan kepada kawan LMND”
“Orator diberikan kepada semua perwakilan OKP,” kata moderator rapat.
Setelah berkesepakatan demikian. Rapat untuk aksi ditutup. Semua membubarkan diri masing-masing.
#
Aksi dimulai semua berkumpul di Lapangan Salero. Semua dengan spanduk, bendera OKP masing-masing. Ada Kumpulan Kepemudaan Muslim, SMI, LMND, Pembebasan, Perempuan Mahardika, Gamhas dan lainnya. Teman-teman BEM dan Samurai sebagian berada dari bawah dan terhalang oleh aparat di Ngade.
“Kawan-kawan rapatkan barisan,” sambut moderator orator
“Hari ini kita akan aksi Menolak Kenaikan BBM, Laksanakan Pasal 33”
Massa berkumpul, memanjangkan spanduk, mengibarkan bendera. Berjalan menuju RRI Cabang Ternate. “Hati-hati kawan-kawan, kenali kawan-kawan masing-masing. Awas ada penyusupan.”
Orasi-orasi dari para orator berjalan. Usamah masih tetap mencatat setiap kejadian dalam aksi. Said dan teman-teman Organisasi Kepemudaan Muslim cukup banyak yang hadir. Gelombang penolakan atas rencana pemerintah menaikkan BBM semakin meningkat.
“Menaikkan harga BBM ketika berkuasa, merupakan buah dari sistem ekonomi dan politik yang menghamba kepada kepentingan Imperialisme. Dominasi asing terhadap sumber-sumber ekonomi sangat nampak dalam sektor pertambangan. Sekitar 90% lapangan migas di Indonesia dikuasai dan diekspolitasi oleh pihak korporasi asing, sedangkan keuntungan migas pemerintah hasil bagi hasil dengan pihak asing tidak diarahkan kepada kepentingan dalam negeri, akan tetapi diekspor kepada negara-negara maju alam bentuk minyak mentah. Situasi ini menyebabkan pemerintah harus terus menerus mengimpor BBM darinegara-negara lain. Sebagai contoh, Indonesia adalah penghasil gasterbesar di dunia,akan tetapi hanya 20% yang dipasok untuk kebutuhan dalam negeri, akibatnya industri dalam negeri bangkrut karena tidak adanya pasokan gas. Jalan keluar mengatasi krisis energi dan APBN saat ini adalah nasionalisasi Industri pertambangan dan penghapusan utang luar negeri,” orasi dari salah satu teman SMI.